- Harga BBM subsidi dipastikan tetap hingga triwulan I-2026 demi momen Lebaran.
- Kesenjangan harga minyak dunia (USD 80+) vs APBN (USD 70) ancam jebolkan subsidi.
- Pemerintah beri sinyal evaluasi harga Pertalite setelah Maret 2026 usai.
Suara.com - Pemerintah melalui Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengambil langkah populis dengan memastikan harga BBM subsidi jenis Pertalite tidak akan naik setidaknya hingga akhir triwulan I-2026 atau usai Hari Raya Idulfitri.
Namun, di balik "kabar baik" bagi kantong masyarakat ini, tersimpan ancaman serius bagi kesehatan fiskal negara.
Yuliot menegaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas selama periode Ramadan dan Lebaran. "Untuk Pertalite ini tidak akan ada kenaikan harga sampai dengan berakhirnya triwulan pertama 2026 ini," cetusnya saat pembukaan Posko Nasional Sektor ESDM di Kantor BPH Migas, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Meski ada jaminan hingga Maret, nasib harga BBM setelahnya masih menjadi tanda tanya besar. Pemerintah berencana melakukan evaluasi total begitu triwulan pertama usai dengan melirik pergerakan harga minyak dunia yang kian liar.
"Nanti kita akan evaluasi terkait dengan perkembangan harga minyak dunia dan juga bagaimana alokasi terhadap subsidi dan kompensasi yang kita siapkan," tambah Yuliot. Ia mengisyaratkan adanya pembahasan alot dengan kementerian terkait untuk melakukan penyesuaian harga pada Pertalite (RON 90).
Sikap "menahan diri" pemerintah ini dinilai sangat berisiko. Pasalnya, tensi geopolitik akibat konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran telah menerbangkan harga minyak dunia hingga sempat menyentuh USD 100 per barel.
Angka ini jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan asumsi harga minyak mentah (ICP) dalam APBN 2026 yang dipatok sangat optimistis di angka USD 70 per barel. Dengan harga pasar yang kini masih bertengger stabil di atas USD 80, defisit anggaran subsidi energi dipastikan bakal membengkak hebat.
Jika pemerintah terus memaksakan harga lama di tengah biaya pengadaan yang melonjak, beban kompensasi yang harus dibayarkan ke Pertamina akan menjadi beban berat bagi pemerintahan saat ini. Publik kini hanya bisa menunggu, apakah penahanan harga ini benar-benar demi rakyat, atau sekadar menunda "bom waktu" kenaikan harga yang jauh lebih tinggi usai Lebaran nanti.
Baca Juga: Kementerian ESDM: Pengujian B50 Diprediksi Rampung Maret Ini
Berita Terkait
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Hijau di Iklan, Abu-Abu dalam Aksi: Bahaya Fenomena Greenwashing
-
Ulasan Bloody Flower: Ketika Pembunuh Jadi Harapan Terakhir Banyak Orang
-
Daya Beli Lesu, Kelas Menengah Pilih Beli Beras Ketimbang Cicil Rumah
-
Cabai Rawit Tembus Rp54 Ribu, Cek Daftar Harga Pangan yang Naik Hari Ini
-
Pelaku Kekerasan Anak Justru Orang Terdekat, Plan Indonesia Ungkap Data Miris
-
5 Serum Flek Hitam yang Aman Digunakan Setiap Hari, Ampuh Cerahkan Kulit Mulai Rp20 Ribu
-
Suarakan Kesetaraan, Run for Equality 2026 Sukses Digelar di Senayan Park
-
Susul Kesuksesan The Grey, Netflix Garap Parasyte: Tamiya yang Tayang 2027
-
Dari Diskusi hingga Wall of Hope, LINTAS Dorong Masyarakat Peduli Masa Depan Transportasi Umum
-
6 Rekomendasi Parfum Aroma Susu yang Creamy dan Bikin Ketagihan