Bisnis / Makro
Rabu, 11 Maret 2026 | 07:10 WIB
Kesiapan Ilustrasi SPBU Pertamina Jelang Momen Mudik Lebaran 2026. (Foto: Pertamina)
Baca 10 detik
  • Menteri ESDM memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik hingga Hari Raya Idul Fitri 2026 untuk lindungi daya beli masyarakat.
  • Keputusan ini diambil meskipun harga minyak mentah global (USD 83,45/barel) melebihi asumsi ICP APBN 2026 (USD 70/barel).
  • Pemerintah mempercepat transisi energi nabati serta menjamin stok BBM nasional saat ini berada pada level aman.

Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi, setidaknya hingga Hari Raya Idul Fitri 2026.

Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi dampak fluktuasi harga minyak mentah dunia yang terus bergejolak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Berikut adalah laporan lengkap mengenai situasi ketahanan energi dan kebijakan subsidi nasional per Rabu (11/3/2026):

Dalam keterangannya di Istana Kepresidenan, Bahlil menegaskan bahwa perlindungan terhadap daya beli masyarakat menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian global.

Keputusan untuk mempertahankan harga BBM subsidi ini telah dibahas secara intensif bersama Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

"Saya dapat memastikan untuk menyangkut subsidi BBM sampai dengan Hari Raya, insya Allah tidak ada kenaikan apa-apa. Negara hadir untuk memastikan bahwa sekalipun ada kenaikan harga minyak mentah dunia, subsidi tetap konsisten," ujar Bahlil.

Berdasarkan data pasar pada Rabu (11/3/2026), harga minyak mentah global terpantau mulai stabil setelah mengalami volatilitas ekstrem di awal pekan.

Posisi Saat Ini: Harga minyak dunia bertahan di atas level USD 80 per barel, tepatnya pada kisaran USD 83,45 per barel.

Kilas Balik: Sebelumnya, harga sempat melonjak tajam menembus angka USD 100 hingga USD 119 per barel akibat pecahnya perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang mengancam pasokan dari Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Minyak Mulai Turun Usai Beredar Kabar G7 Lepas Cadangan 400 Juta Barel

Analisis Anggaran: Harga saat ini masih jauh melampaui asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar USD 70 per barel. Selisih USD 10-13 per barel ini diakui pemerintah berpotensi memperlebar defisit anggaran subsidi energi.

Untuk mengurangi ketergantungan pada minyak fosil impor yang sangat sensitif terhadap konflik geopolitik, pemerintah mempercepat transisi ke energi nabati.

Mandatori Biofuel: Pemerintah tengah menggagas percepatan mandatori pencampuran minyak nabati melalui program B50 (biodiesel) dan E20 (bioetanol).

Diversifikasi Pasokan: Bahlil menjelaskan bahwa meski impor minyak mentah (crude) terdampak situasi Timur Tengah, kebutuhan minyak jadi di Indonesia didukung oleh produksi dalam negeri dan impor dari wilayah Asia Tenggara yang relatif lebih stabil.

Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembelian berlebih (panic buying). Bahlil menyatakan bahwa stok BBM nasional saat ini berada pada level aman, yakni dengan kapasitas simpan (storage) untuk rentang waktu 21 hingga 25 hari.

Kapasitas ini dinilai mencukupi karena proses distribusi dan pengisian ulang terus berlangsung secara dinamis tanpa kendala teknis.

Load More