- Laba PANI 2025 melonjak 83% jadi Rp1,1 T, didorong pesatnya proyek kota mandiri PIK2.
- Pendapatan naik 52% ke Rp4,3 T dengan margin laba bersih yang kuat di level 27%.
- Aset tembus Rp50 T didukung proyek NICE dan akses tol baru menuju Bandara Soetta.
Suara.com - Emiten properti raksasa, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), sukses membukukan rapor hijau yang mentereng sepanjang tahun buku 2025. Perusahaan besutan Agung Sedayu Group dan Salim Group ini mencatatkan lonjakan laba bersih hingga 83 persen, seiring dengan makin masifnya pembangunan kota mandiri PIK2 di pesisir utara Jakarta.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, PANI meraup pendapatan sebesar Rp4,3 triliun, melonjak 52 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan top-line ini pun mengerek laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk hingga menyentuh angka Rp1,1 triliun.
Tak hanya sekadar tumbuh, efisiensi dan nilai tambah proyek PANI terlihat dari margin keuntungan yang tebal. Margin laba kotor tercatat berada di level 60 persen, sementara margin laba bersih (net profit margin) bertengger di angka 27 persen.
Presiden Direktur PANI, Sugianto Kusuma atau yang akrab disapa Aguan, mengungkapkan bahwa performa solid ini adalah buah dari ekosistem PIK2 yang kian matang.
"Sepanjang tahun 2025, PANI mencatat pertumbuhan kinerja yang solid. Didukung oleh total aset sekitar Rp50 triliun serta land bank seluas 1.838 hektare, kami optimis PIK2 terus berkembang sebagai kawasan kota mandiri modern berskala besar," ujar Aguan dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).
Pundi-pundi rupiah perseroan mengalir deras dari berbagai proyek residensial seperti Rumah Milenial, Manhattan Residences, hingga Pasir Putih Residences. Sektor komersial pun tak kalah bergairah lewat pengembangan SOHO Manhattan, Bizpark PIK2, hingga Rukan Marina Bay yang kini menjadi pusat denyut ekonomi baru.
Dari sisi neraca, PANI pamer otot finansial yang kuat. Per 31 Desember 2025, total aset perusahaan tumbuh 9 persen menjadi Rp50 triliun. Posisi kas dan setara kas pun sangat likuid di angka Rp3,8 triliun dengan total pinjaman bank yang relatif mungil, yakni Rp550 miliar.
Aguan menambahkan, pertumbuhan aset ini salah satunya dipicu oleh investasi pada proyek prestisius Nusantara International Convention Exhibition (NICE). Pusat konvensi raksasa ini diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru (growth engine) bagi perseroan.
"Kehadiran NICE serta konektivitas Tol KATARAJA menuju Bandara Soekarno-Hatta akan mempercepat aktivitas bisnis dan pariwisata. Kami optimistis PIK2 mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham," pungkasnya.
Baca Juga: Emiten Klinik PRDA Raup Laba Bersih Rp 207 Miliar Sepanjang 2025
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
- 5 Rekomendasi Sepeda Roadbike Rp1 Jutaan, Cocok untuk Pemula hingga Harian
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Laba Citi Indonesia Naik 10 Persen di 2025
-
Emiten Sawit SSMS Tebar Dividen Rp 800 Miliar
-
DJP Perpanjang Lapor SPT PPh Badan hingga Akhir Mei 2026
-
Tekan Emisi 286 Ribu Ton CO2, PLN NP Genjot Cofiring Biomassa
-
Panas! Menteri Ara Siap Lawan Hercules Demi Bangun Rusun di Tanah Abang
-
UMKM Digenjot Naik Kelas lewat Pemanfaatan Teknologi AI
-
Bos Bio Farma Temui Kepala BPOM, Bahas Strategi Kuasai Pasar Global
-
Pemerintah Yakin B50 Bikin Hemat Negara Rp 139,8 Triliun
-
Agar Subsidi Tepat Sasaran, QR Code BBM Kini Diawasi Lebih Ketat
-
Akses Sanitasi Masih Minim, Industri Arsitektur Mulai Cari Solusi