Bisnis / Keuangan
Minggu, 15 Maret 2026 | 11:22 WIB
ilustrasi prodia (ist)
Baca 10 detik
  • Prodia mencatat pendapatan Rp 2,28 triliun pada 2025, didorong pemeriksaan rutin dan layanan esoterik.
  • Laba bersih perusahaan tahun buku 2025 berhasil dibukukan sebesar Rp 207 miliar meskipun beban pokok penjualan meningkat.
  • Prodia mengalokasikan belanja modal lebih dari Rp 165 miliar untuk infrastruktur, peralatan, dan inovasi digital.

Suara.com - PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) mencatatkan kinerja keuangan yang tetap tumbuh pada tahun buku 2025 di tengah dinamika industri layanan kesehatan. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 2,28 triliun atau meningkat 1,31 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh segmen pemeriksaan rutin yang masih menjadi tulang punggung bisnis serta meningkatnya permintaan pada layanan esoterik yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty mengatakan capaian pendapatan tersebut mencerminkan efektivitas strategi perusahaan dalam memperkuat inovasi layanan dan ekosistem digital.

"Pendapatan sebesar Rp 2,28 triliun pada tahun buku 2025 mencerminkan efektivitas strategi kami dalam mengakselerasi inovasi, memperkuat ekosistem digital, serta mengoptimalkan jaringan layanan," ujar Dewi dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu (15/3/2026).

Di sisi lain, beban pokok penjualan (COGS) tercatat sebesar Rp 949 miliar atau meningkat 5,42 persen YoY. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya volume tes serta ekspansi layanan di berbagai wilayah.

Dokter customer service Prodia saat melayani telekonsultasi dengan pelangan Prodia di Prodia Health Care, Jakarta, Jumat (12/6/2020). [Suara.com/Oke Atmaja]

Selain itu, peningkatan biaya juga dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan medis dan reagen, serta investasi pada kualitas layanan dan teknologi diagnostik. Kondisi tersebut membuat laba kotor sedikit tertekan 1,43 persen YoY menjadi Rp 1,33 triliun.

Meski demikian, perseroan masih mampu menjaga profitabilitas operasional dengan mencatatkan laba usaha (EBIT) sebesar Rp 225 miliar dan laba sebelum pajak (EBT) sebesar Rp 264 miliar.

Dengan beban pajak sebesar Rp 58 miliar pada 2025, Prodia membukukan laba bersih sebesar Rp 207 miliar.

Dari sisi neraca, total aset perseroan tercatat mencapai Rp 2,70 triliun. Sementara itu, total liabilitas berada di level Rp 302 miliar dan ekuitas sebesar Rp 2,39 triliun, mencerminkan struktur permodalan yang sehat dengan tingkat leverage yang rendah.

Baca Juga: Laba Bersih Melesat 115 Persen, Bank Jago (ARTO) Catat Kinerja Solid Sepanjang 2025

Perseroan juga mencatatkan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp 424 miliar, menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan kas dari kegiatan bisnis inti secara konsisten.

Sepanjang 2025, Prodia merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) lebih dari Rp 165 miliar. Dana tersebut digunakan untuk pengembangan infrastruktur, modernisasi peralatan laboratorium, serta inovasi layanan digital.

Investasi ini dinilai penting untuk memperkuat daya saing perusahaan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dan mendukung strategi ekspansi jangka panjang.

Direktur Keuangan Prodia Liana Kuswandi menegaskan kinerja keuangan yang solid menjadi fondasi utama untuk mendukung agenda pertumbuhan perusahaan.

"Sepanjang tahun 2025, Prodia menjaga profitabilitas dan arus kas tetap solid melalui pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan serta pengelolaan biaya yang produktif, didukung struktur permodalan yang tetap sehat," kata Liana.

Load More