- IHSG ditutup merosot 1,61 persen pada 16 Maret 2026 dipicu sentimen global dan kekhawatiran fiskal domestik.
- Pelemahan dipengaruhi kenaikan minyak dunia dan potensi pelebaran defisit APBN, meski Presiden tegaskan disiplin fiskal.
- Sektor teknologi terkoreksi terdalam sementara sektor keuangan menguat, seiring rupiah melemah di posisi Rp 16.997 per dolar AS.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya merosot pada perdagangan Senin, 16 Maret 2026, di tengah tekanan sentimen global serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, IHSG berakhir di level 7.022 atau turun 1,61 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Analis Phintraco Sekuritas menyebutkan, pelemahan pasar saham domestik dipengaruhi sejumlah sentimen negatif, mulai dari kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi memicu inflasi hingga kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, depresiasi nilai tukar rupiah serta potensi perlambatan ekonomi domestik juga turut menekan pergerakan indeks.
"Menjelang libur panjang membuat investor cenderung bersikap lebih hati-hati," tulis riset Phintraco Sekuritas.
Dari sisi sektoral, sektor teknologi mencatat koreksi paling dalam, sementara sektor keuangan justru menjadi sektor dengan penguatan terbesar pada perdagangan hari ini.
Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup melemah di level Rp16.997 per dolar AS di pasar spot pada perdagangan Senin (16/3).
Di sisi kebijakan fiskal, Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmen pemerintah terhadap disiplin fiskal. Ia menyatakan bahwa prinsip utama pemerintah adalah memastikan Indonesia hidup sesuai dengan kemampuan keuangan negara.
Presiden juga menekankan bahwa opsi untuk melonggarkan batas defisit APBN hanya akan menjadi pilihan terakhir.
Baca Juga: IHSG Kembali Tertekan, Sesi I Turun ke Level 7.039
Dari pasar global, mayoritas indeks saham di Asia juga bergerak di zona merah seiring kenaikan harga minyak mentah serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bahkan sempat menyentuh 100 dolar AS per barel setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengancam serangan militer terhadap Pulau Kharg di Iran, yang merupakan pusat distribusi utama minyak negara tersebut.
Di sisi lain, data ekonomi dari Tiongkok menunjukkan perbaikan. Produksi industri negara tersebut tumbuh 6,3 persen secara tahunan pada periode Januari–Februari 2026, meningkat dari 5,2 persen pada Desember 2025.
Sementara itu, penjualan ritel di Tiongkok juga tumbuh 2,8 persen secara tahunan, membaik dibandingkan 0,9 persen pada periode sebelumnya.
Trafik Perdagangan
Pada perdagangan hari ini, sebanyak 17,62 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 8,22 triliun, serta frekuensi sebanyak 1,01 juta kali.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Bahlil Ajukan Anggaran Rp 27,33 Triliun untuk ESDM, Disebut untuk Jaringan Gas Warga
-
Emiten WINE Tebar Dividen Rp3,5 per Saham, Bidik Pertumbuhan Pendapatan Lima Persen pada 2026
-
Harga Minyak Dunia Anjlok Usai AS-Iran Sepakati Perdamaian, Bursa Saham Global Menguat
-
Harga Emas Hari Ini 16 Juni 2026 Naik, Antam Tembus Rp2,83 Juta per Gram
-
Selat Hormuz Dibuka, Bahlil Sebut Indonesia Tetap Lanjutkan Kontrak Impor Minyak
-
Bahlil Ungkap Kontrak Batu Bara PLN Kurang 20 Juta Ton, Listrik Bisa Terganggu?
-
Dukung Program 3 Juta Rumah, BRI Salurkan Pembiayaan Rp340 Miliar untuk 867 Debitur
-
Biaya Kuliah Meroket, Mahasiswa Minta Dana Pendidikan Tak Dipakai untuk MBG
-
BRI Hadirkan Cara Baru Menabung Emas Otomatis Saat Transfer di BRImo
-
Asumsi ICP 2027 Dinaikkan Mas Bahlil, Paling Tinggi 95 Dolar AS/Barel