Bisnis / Inspiratif
Senin, 16 Maret 2026 | 19:00 WIB
Lonjakan penumpang kapal ferry pada periode mudik Lebaran disebut tidak otomatis meningkatkan keuntungan bagi operator penyeberangan. [ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/foc]
Baca 10 detik
  • Lonjakan penumpang ferry saat Lebaran tidak menjamin peningkatan keuntungan operator, menjadi tantangan keberlanjutan usaha transportasi laut.
  • GAPASDAP menyatakan kenaikan penyeberangan mudik Lebaran 2023 hingga 2025 tidak memberikan keuntungan bagi operator kapal ferry.
  • Lintasan Merak-Bakauheni tetap tersibuk; penumpang stabil 850 ribu sampai 920 ribu per tahun untuk rute Jawa-Sumatera.

Suara.com - Lonjakan penumpang kapal ferry pada periode mudik Lebaran disebut tidak otomatis meningkatkan keuntungan bagi operator penyeberangan. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan bagi keberlanjutan usaha transportasi laut.

Peneliti Senior INSTRAN, Deddy Herlambang, menyebut peningkatan jumlah penyeberang dalam beberapa tahun terakhir tidak sepenuhnya berdampak pada pendapatan operator kapal ferry.

“Memang terdapat kenaikan 3 persen penyebrangan di tahun 2025, namun Dewan Pimpinan Pusat Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (GAPASDAP), menyatakan tidak mendapat ada keuntungan kenaikan penyeberangan di kala mudik Lebaran 2023 hingga 2025," ujar Deddy kepada wartawan, Senin (16/3/2026).

Menurut dia, data penyeberangan mudik di lintasan utama Indonesia menunjukkan tren relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir. Jalur Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni masih menjadi rute tersibuk bagi pemudik yang menyeberang dari Pulau Jawa menuju Sumatera.

Data penyeberangan menunjukkan pada 2023 tercatat sekitar 920.054 penumpang dengan 213.737 kendaraan melintas pada periode H-10 hingga hari Lebaran. Pada 2024 jumlah penumpang mencapai 859.699 orang dengan 226.299 kendaraan.

“Jumlah penyeberang mudik Lebaran di lintasan utama ferry Indonesia relatif stabil pada kisaran 850 ribu – 920 ribu penumpang per tahun untuk rute Jawa–Sumatera," ucapnya.

Sementara pada 2025 jumlah penyeberang kembali meningkat menjadi 885.828 penumpang dengan 225.400 kendaraan. Kenaikan tersebut sekitar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, peningkatan volume penumpang tersebut tidak selalu diikuti dengan peningkatan keuntungan bagi operator kapal ferry. Dalam praktiknya, operator tetap harus menanggung berbagai biaya operasional selama periode angkutan Lebaran.

“Dalam kondisi tersebut kapal penyeberangan (ferry) tetap beroperasi dengan biaya penuh namun tanpa keuntungan berimbang, sehingga operator penyeberangan pada praktiknya turut menanggung beban ekonomi yang cukup besar dalam menjaga kelancaran Angkutan Lebaran," tuturnya.

Baca Juga: Arus Mudik Lewat Kapal Ferry Diproyeksi Tembus 5,8 Juta Penumpang

Menurut Deddy, sektor penyeberangan memegang peran penting dalam sistem transportasi nasional karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan ribuan pulau yang masih bergantung pada transportasi laut.

“Untuk demand penyeberangan tetap sangatlah tinggi, kita mempunyai 17.000 pulau yang masih tergantung pada penyeberangan laut," pungkasnya.

Load More