- Pemerintah Iran dan Amerika Serikat telah merampungkan draf nota kesepahaman terkait pembatasan nuklir serta pemulihan ekonomi global.
- Kesepakatan mencakup pembukaan jalur pelayaran Selat Hormuz, pencabutan sanksi minyak, serta pencairan aset Iran senilai 25 miliar dolar.
- Kedua negara akan menyusun perjanjian final komprehensif dalam kurun waktu 60 hari setelah nota kesepahaman tersebut resmi ditandatangani.
Suara.com - Ketegangan geopolitik yang sempat mengguncang pasar energi dan keuangan global tampaknya mulai menemui titik terang. Seorang pejabat senior pemerintah Iran membocorkan kepada Reuters bahwa draf final nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Iran dan Amerika Serikat telah rampung disusun.
Kesepakatan tersebut mencakup berbagai isu krusial, mulai dari pembatasan program nuklir Teheran, pembukaan kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, hingga pemberian dispensasi (waiver) oleh AS atas sanksi ekspor minyak Iran.
Setelah draf kesepakatan ini ditandatangani oleh kedua belah pihak, perjanjian final yang lebih komprehensif akan digodok dan dibahas dalam kurun waktu 60 hari ke depan.
Berdasarkan laporan rilis draf nota kesepahaman tersebut, berikut adalah poin-poin kesepakatan penting yang berhasil dicapai oleh kedua negara:
1. Koridor Pelayaran Selat Hormuz
Iran berkomitmen untuk segera membuka kembali Selat Hormuz bagi seluruh kapal komersial internasional tanpa terkecuali.
Sebagai timbal balik, Amerika Serikat akan mencabut blokade angkatan lautnya di pelabuhan-pelabuhan milik Iran.
Proses pencabutan blokade oleh militer AS ini akan dimulai segera setelah MoU ditandatangani dan ditargetkan rampung sepenuhnya dalam waktu 30 hari.
2. Sektor Finansial, Aset, dan Sanksi Energi
Pemerintah AS setuju untuk tidak menjatuhkan sanksi baru apa pun terhadap Iran selama proses negosiasi menuju perjanjian final berlangsung.
Baca Juga: Iran Bantah Mentah-mentah Klaim Damai Donald Trump
Setelah kesepakatan final resmi tercapai, seluruh sanksi ekonomi dari pihak AS maupun perserikatan bangsa-bangsa (PBB) terhadap Iran akan dihapus secara bertahap sesuai dengan jadwal yang disepakati.
Washington akan memberikan dispensasi (waiver) khusus atas sanksi minyak Iran dalam jangka waktu tertentu. Langkah ini otomatis mengizinkan Teheran untuk kembali menjual minyak mentahnya ke pasar global dan mencairkan pendapatan sanksi tersebut.
AS sepakat untuk mencairkan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan senilai US$25 miliar (sekitar Rp400 triliun lebih). Mekanisme pencairan akan dilakukan melalui transfer tunai langsung, kerja sama antarnegara di kawasan Timur Tengah, serta pembukaan jalur kredit finansial.
Gedung Putih, berkoordinasi dengan sekutu regionalnya, akan menyusun program rekonstruksi dan pembangunan ekonomi untuk Iran. Rencana ini akan dinegosiasikan secara mendalam dengan Teheran dalam jangka waktu 60 hari.
3. Pembatasan Program Nuklir
Pemerintah Teheran menyetujui klausul mutlak bahwa mereka tidak akan memproduksi ataupun memiliki senjata nuklir.
Sembari menunggu tercapainya kesepakatan final, Iran wajib menjaga status kuo program nuklirnya saat ini, yang berarti tidak ada pengayaan uranium lebih lanjut serta penghentian ekspansi fasilitas nuklir baru.
Amerika Serikat mengizinkan Iran untuk melakukan pengenceran (dilute) terhadap cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi di atas tanah Iran sendiri, di bawah payung perjanjian komprehensif di masa depan.
Detail teknis mengenai program nuklir Iran, aktivitas pengayaan uranium, serta mekanisme pengelolaan cadangan uranium yang diperkaya tinggi akan dinegosiasikan dalam waktu 60 hari setelah MoU ini ditandatangani untuk kemudian dilegalkan dalam perjanjian final.
Berita Terkait
-
Piala Dunia 2026 Tidak Aman? Viral Foto Sniper Mengintai dari Ketinggian
-
Dasco Dukung Gebrakan 'Dedolarisasi' BI: Transaksi Triliunan ke China Cukup Pakai QRIS
-
Klaim Perdamaian Baru Versi Trump: Iran Setuju, Hormuz Dibuka, Nuklir Dibatasi
-
Ngeri! Mayat Dalam Bagasi Terbungkus Plastik Hitam Ditemukan Dekat Markas Timnas Iran
-
Disia-siakan Arsenal! Folarin Balogun Jelmaan Ian Wright yang Mengamuk di Piala Dunia 2026
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
PM Malaysia Kenang Bung Hatta: Negara Tidak Boleh Ditopang Segelintir Elit
-
Dugaan Dikerahkan Kawal Demo, Apakah Komcad Dapat Gaji dan Tunjangan?
-
Pemerintah Janji Stok Pupuk Nasional Aman, Zulhas: Kopdes Jadi Penyalur
-
DPR Apresiasi Langkah Baru Bank Indonesia Perkuat Nilai Rupiah
-
Foto e-KTP Jelek Bisa Diganti? Ini Aturan dan Syarat Resminya
-
Dasco Dukung Gebrakan 'Dedolarisasi' BI: Transaksi Triliunan ke China Cukup Pakai QRIS
-
Tiket Pesawat Mahal! Pengamat Bongkar Anomali Pajak 'Tersembunyi'
-
Harga Bawang dan Beras Kompak Naik, Minyak Goreng Ikut Makin Mahal
-
Pertamax Naik, Ojol: Saya Dari Awal Pakai Pertalite
-
Pegadaian Gelar LEXIS 2026 untuk Hadapi Transformasi Hukum Pidana Nasional