- Kesulitan mendapatkan layanan ojek online di Jakarta disebabkan penurunan drastis ketersediaan pengemudi perantau menjelang Lebaran.
- Fenomena kelangkaan ojol ini diperparah oleh peningkatan permintaan serta faktor cuaca hujan yang menghambat operasi driver.
- Solusi jangka panjang memerlukan skema insentif bagi pengemudi dan pengembangan layanan transportasi berbasis hub terstruktur.
Suara.com - Keluhan soal sulitnya mendapatkan layanan ojek online (ojol) di Jakarta ramai beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini disebut terjadi akibat berkurangnya jumlah pengemudi secara signifikan menjelang Lebaran.
Ekonom Universitas Airlangga, Rumayya Batubara, menjelaskan bahwa fenomena ini sangat spesifik terjadi di Jakarta yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kota lain.
Menurutnya, sebagian besar mitra pengemudi ojol di Ibu Kota merupakan perantau dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Saat musim mudik tiba, para driver ini pulang ke kampung halaman secara massal.
“Ketika lebaran tiba dan mudik terjadi secara massal, Jakarta kehilangan proporsi driver jauh lebih besar dibanding kota lain. Ini yang menyebabkan penurunan pasokan secara drastis,” ujarnya seperti dikutip, Rabu (18/3/2026).
Ia menyebut kondisi ini sebagai shock antara pasokan dan permintaan yang bersifat siklikal dan sebenarnya dapat diprediksi setiap tahun.
Di satu sisi, jumlah driver yang tersedia menurun tajam. Namun di sisi lain, permintaan layanan justru meningkat, terutama pada jam-jam sibuk seperti menjelang berbuka puasa.
Situasi tahun ini terasa lebih berat karena faktor cuaca hujan yang memperparah kemacetan di Jakarta. Kondisi tersebut membuat sebagian driver yang masih berada di kota memilih untuk tidak beroperasi.
"Jadi bukan semata karena isu lain, tapi kombinasi antara mudik massal dan faktor cuaca yang memperparah kondisi di lapangan, jelasnya.
Rumayya menegaskan bahwa faktor mudik menjadi penyebab paling dominan dari fenomena langkanya ojol di Jakarta. Hal ini juga menjelaskan mengapa kondisi serupa tidak terlalu terasa di kota lain yang basis drivernya lebih banyak berasal dari penduduk lokal.
Baca Juga: Libur Lebaran, Tren Liburan Kapal Pesiar Mewah Jadi Primadona Baru
Terkait solusi, ia menilai kenaikan tarif bukanlah jawaban utama untuk mengatasi persoalan ini.
"Keputusan mudik itu bukan semata keputusan ekonomis, tapi juga kultural. Jadi tidak bisa diselesaikan hanya dengan menaikkan tarif," katanya.
Menurutnya, pendekatan jangka pendek yang lebih realistis adalah edukasi kepada konsumen, seperti menghindari jam sibuk dan memanfaatkan fitur pemesanan lebih awal.
Sementara dalam jangka panjang, diperlukan solusi yang lebih struktural, seperti skema insentif agar driver tidak mudik secara bersamaan, serta pengembangan layanan berbasis hub yang tidak sepenuhnya bergantung pada ketersediaan pengemudi individu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
Terkini
-
Serangan Monyet Liar di Tembilahan Lukai Warga, Penembak Dikerahkan
-
Puluhan Tahun Jadi Sineas, Christopher Nolan Takut Garap Film Bergenre Ini
-
4 Tinted Sunscreen Tanpa Alkohol dan Pewangi Atasi PIH pada Kulit Sensitif
-
Prabowo Hadiri Zikir Kebangsaan di Monas, 100 Ribu Orang Bakal Padati Kawasan Mulai Sore Ini
-
Terpikat Mantan Bek Persib Federico Barba, Filippo Inzaghi: Jaminan Palermo Promosi
-
Tren Gaya Hidup Baru Perempuan Gen Z: Dari Quiet Luxury ke Quiet Living
-
Maestro Seni Rupa Nasirun Wafat, Rencana Pameran pun Batal
-
Tiga Jam Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie, Kejagung Sita Dokumen Pencucian Uang
-
Malaysia Ketar-ketir! Tan Cheng Hoe Nilai Timnas Indonesia Tim Paling Kuat di Grup A
-
6 Tinted Sunscreen dengan Finish Glowing Natural Terbaik Sesuai Klaim dan Harga