Bisnis / Makro
Rabu, 18 Maret 2026 | 10:28 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia. [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) efektif sejak Desember 2025 untuk dorong kredit sektor prioritas.
  • Realisasi insentif KLM Maret 2026 mencapai Rp427,1 triliun, didominasi alokasi *lending channel* sebesar Rp357,6 triliun.
  • Pertumbuhan kredit perbankan Februari 2026 tercatat 9,37% secara tahunan, ditopang kuat oleh kredit investasi sebesar 20,72%.

Suara.com - Bank Indonesia terus mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mendorong penyaluran kredit perbankan ke sektor-sektor prioritas demi menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan penguatan KLM yang mulai berlaku sejak 16 Desember 2025 diarahkan untuk memberikan insentif lebih besar kepada perbankan yang aktif menyalurkan kredit ke sektor prioritas (lending channel).

Selain itu, juga diberikan kepada bank yang responsif menurunkan suku bunga kredit baru sejalan dengan arah kebijakan moneter (interest rate channel).

“Optimalisasi KLM kami lakukan untuk memperkuat peran perbankan dalam mendukung pembiayaan sektor-sektor prioritas dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry dalam pernyataannya dikutip dari Youtube BI, Rabu (18/3/2026).

Hingga minggu pertama Maret 2026, realisasi insentif KLM tercatat mencapai Rp427,1 triliun. Dari jumlah tersebut, alokasi terbesar disalurkan melalui lending channel sebesar Rp357,6 triliun,
sementara melalui interest rate channel sebesar Rp69,5 triliun.

Berdasarkan kelompok bank, insentif KLM didominasi oleh bank BUMN sebesar Rp225,6 triliun, diikuti bank swasta nasional (BUSN) Rp165,8 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) Rp28,0 triliun, serta kantor cabang bank asing (KCBA) Rp7,7 triliun.

Ilustrasi Bank. [Shutterstock]

Secara sektoral, penyaluran KLM difokuskan pada sektor-sektor prioritas seperti pertanian, industri dan hilirisasi, jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi dan real estat, serta sektor UMKM, koperasi, inklusi keuangan, dan pembiayaan berkelanjutan.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit perbankan tetap menunjukkan tren positif. Pada Februari 2026, kredit tumbuh 9,37 persen secara tahunan (year on year/yoy), meski sedikit melambat dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 9,96 persen (yoy).

Pertumbuhan kredit tersebut ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh tinggi sebesar 20,72 persen (yoy), diikuti kredit konsumsi 6,34 persen (yoy), serta kredit modal kerja 3,88 persen (yoy).

Baca Juga: Ekonom Ungkap Alasan Ojol Langka Jelang Lebaran

Ke depan, BI memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2026 tetap terjaga di kisaran 8 hingga 12 persen, seiring dengan dukungan dari sisi permintaan maupun penawaran pembiayaan.

"Dengan penguatan kebijakan KLM, BI optimistis fungsi intermediasi perbankan akan semakin efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tandasnya.

Load More