- Pemerintah berencana menerapkan WFH sehari sepekan bagi ASN dan swasta pasca Lebaran 2026 untuk meredam lonjakan subsidi BBM.
- Pengamat UGM menilai efektivitas WFH diragukan karena risiko penyalahgunaan menjadi WFE dan berdampak pada UMKM sekitar.
- Disarankan pemerintah lebih fokus membatasi BBM subsidi ketat yang berpotensi menghemat anggaran negara hingga Rp120 triliun.
Suara.com - Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran, yang berujung pada penutupan efektif Selat Hormuz, mulai menghantam kawasan Asia secara brutal.
Dari New Delhi hingga Manila, otoritas setempat kini berjibaku menerapkan langkah darurat guna melindungi konsumen dari lonjakan harga minyak dan ancaman kelangkaan energi yang kian nyata.
Badan Energi Internasional (IEA) menyebut situasi ini sebagai "gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global."
Tidak seperti AS atau Eropa yang memiliki sumber energi beragam, Asia sangat bergantung pada impor yang melintasi Selat Hormuz—jalur vital yang mengangkut seperlima pasokan minyak dunia.
Dilansir via NBC, pemandangan warga yang mengantre panjang di stasiun pengisian gas menjadi pemandangan harian di Nepal.
Mereka membawa tabung gas merah yang kosong, sementara perusahaan minyak negara hanya mengizinkan pengisian setengah kapasitas guna memperpanjang ketersediaan stok LPG.
Kondisi serupa terjadi di India, importir LPG terbesar kedua di dunia. Fenomena panic-buying melanda warga setelah harga minyak mentah Brent melonjak di atas US$ 100 per barel pada Jumat (20/3).
Pemerintah India terpaksa menggunakan kewenangan darurat untuk memerintahkan kilang memaksimalkan produksi LPG demi menjamin stabilitas pasokan ke sektor esensial seperti rumah sakit.
Meskipun otoritas Mumbai, Bharat Petroleum, telah menghimbau warga melalui platform X untuk tidak mempercayai rumor dan memenuhi SPBU secara tidak perlu, tekanan terus meningkat.
Baca Juga: Usai Lebaran 2026, Nonton Timnas Indonesia di FIFA Series 2026, Ini Jadwal Lengkapnya
Negara tetangga seperti Bangladesh, Sri Lanka, dan Maladewa bahkan telah melayangkan permintaan bantuan pasokan energi kepada New Delhi.
Langkah Ekstrem di Asia Tenggara dan Timur
Negara-negara Asia Tenggara turut merespons krisis ini dengan kebijakan efisiensi yang ketat:
Bangladesh: Menutup universitas dan memajukan libur Idulfitri lebih awal demi menghemat listrik dan bahan bakar.
Filipina: Menerapkan kebijakan empat hari kerja bagi pegawai pemerintah.
Vietnam: Menghimbau warga untuk bekerja dari rumah (WFH) dan membatasi penggunaan kendaraan pribadi.
Berita Terkait
-
Dukung Perjalanan Finansial PMI, Bisnis Remitansi BRI Tumbuh 27,7% YoY Jelang Lebaran 2026
-
Bos Go Ahead Eagles: Dean James Masih Gunakan Paspor Belanda!
-
Ketegangan Selat Hormuz Memuncak: Ultimatum Trump Picu Ancaman Balasan dari Teheran
-
Jangkauan Rudal Iran Tembus 4000 Km, AS dan Sekutnya Gemetar, Panas Dingin, Panik
-
Wajib Tonton! 5 Film Indonesia Bertema Mudik yang Penuh Makna dan Emosi
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
Terkini
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Timur Tengah Hadapi Kiamat Kecil Jika Iran Serang Instalasi Desalinasi Negara-negara Arab
-
Anggaran Dana Pensiun DPR-Pejabat Diusulkan untuk Guru Honorer hingga Nakes
-
Perhatian Pemudik! Rest Area KM 52B Bisa Ditutup Sewaktu-waktu Saat Arus Balik
-
Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi RI 5,7% di Q1 2026 Meski Ada Perang AS vs Iran
-
Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Capai 5,6 Persen Berkat Mudik Lebaran 2026
-
285 Ribu Kendaraan Bakal Padati Jalan Tol Trans Jawa pada 24 Maret
-
LPEI Ungkap Risiko Konflik Timur Tengah ke Kinerja Ekspor Indonesia Masih Terbatas
-
Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 120 Dolar AS per Barel Sepanjang 2026, Naik 2 Kali Lipat
-
Kendaraan Arus Balik Mulai Ramai, Rest Area di Tol Semarang Terapkan Pola Buka-Tutup