- Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Maret 2026 melambat ke 51,86, turun 2,16 poin dari Februari 2026.
- Perlambatan IKI dipengaruhi faktor musiman berakhirnya hari besar serta penyesuaian produksi stok barang.
- Meskipun melambat, IKI industri manufaktur Maret 2026 masih berada dalam zona ekspansi positif.
Suara.com - Kinerja industri manufaktur nasional mengalami perlambatan pada Maret 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tercatat sebesar 51,86, turun 2,16 poin dari Februari 2026 yang berada di level 54,02.
"Nilai 51,86 artinya melambat sebesar 2,16 poin dibandingkan dengan bulan IKI bulan Februari 2026 sebesar 54,02. Selain itu, IKI juga melambat sebesar 1,12 poin dibandingkan dengan IKI Maret tahun lalu sebesar 52,98," ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Meski melambat, Febri mengatakan kinerja industri bulan ini masih bertahan di zona ekspansi. Hal ini terlihat dari industri seperti pengolhana non-migas yang masih bertumbuh signifikan.
“Kinerja industri pengolahan non-migas pada bulan Maret tahun 2026 adalah sebesar 51,6. Lebih tinggi dari 50, berarti kita bisa menyatakan industri manufaktur pada bulan Maret 2026 masih ekspansi,” katanya.
Secara tahunan, capaian IKI juga tercatat lebih rendah 1,12 poin dibandingkan Maret tahun lalu yang mencapai 52,98. Perlambatan ini disebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor musiman dan kondisi eksternal.
Febri menjelaskan, faktor utama yang menekan kinerja industri adalah berakhirnya momentum hari besar keagamaan seperti Lebaran dan Imlek yang sebelumnya mendorong lonjakan produksi.
“Terutama adalah faktor musiman dengan telah berlalunya hari raya keagamaan, Lebaran dan Imlek, sehingga industri sedikit menurunkan produksinya,” katanya.
Selain itu, sejumlah industri disebut telah meningkatkan produksi lebih awal pada Januari dan Februari untuk memenuhi permintaan pasar. Akibatnya, pada Maret terjadi penyesuaian produksi.
“Beberapa industri menurunkan produksinya pada Maret dibanding dengan Februari karena masih banyak stok barang di gudang,” ujarnya.
Baca Juga: Tekanan Fiskal Semakin Berat, Kemenperin Tak Lagi Ngotot Minta Insentif Otomotif
Dari sisi sektoral, sebanyak 16 dari 23 subsektor industri masih berada dalam fase ekspansi, sementara 7 subsektor lainnya mengalami kontraksi. Subsektor yang ekspansi berkontribusi sebesar 78,3 persen terhadap PDB industri pengolahan non-migas.
Pada komponen pembentuk IKI, variabel pesanan baru dan produksi mengalami perlambatan. Pesanan baru tercatat sebesar 52,20 atau turun 3,16 poin, sementara produksi berada di level 51,55 atau turun 2,80 poin.
Sebaliknya, variabel persediaan meningkat menjadi 51,47, mencerminkan adanya penumpukan stok di tingkat industri.
“Kami memperoleh informasi bahwa masih banyak stok barang di gudang dan belum terdistribusi ke pasar,” katanya.
Sementara itu, baik industri berorientasi ekspor maupun domestik masih mencatatkan ekspansi, meski dengan laju yang melambat. IKI industri ekspor berada di level 52,73, sedangkan domestik sebesar 50,44.
Berita Terkait
-
Belanja Pakaian Naik Tapi Pabrik Tekstil Boncos, Kemenperin: Impor Terus
-
Indeks Kepercayaan Industri Merosot di Februari ke Level 54,02
-
Kemenperin Akui Baja China Jadi Masalah di Indonesia
-
Kepercayaan Industri Awal 2026 Menguat, IKI Lebih Tinggi Dibanding Januari Tahun Lalu
-
Industri Otomotif Bawa Indeks Kepercayaan Industri Naik Tinggi di Januari 2026
Terpopuler
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Pemerintah Hemat Rp 130,2 Triliun dari Kebijakan WFH Hingga Pembatasan BBM
-
Kemenperin: Industri Kimia dan Petrokimia Mulai Terimbas Konflik Timur Tengah
-
ASN WFH Tiap Jumat, Mensesneg Klaim Jadi Momentum Transformasi dan Efisiensi
-
Harga BBM Pertamax Cs Dipastikan Naik, Tapi Besarannya Belum Pasti
-
Pertamina dan INPEX Perkuat Kerja Sama Pengembangan LNG Abadi Masela
-
Dasco: Masyarakat Tak Perlu Menimbun Persediaan BBM
-
Efisiensi! Beli BBM Pertalite Dibatasi 50 Liter per Kendaraan
-
Purbaya Pastikan APBN Aman Hadapi Harga Minyak Meski Tembus 100 Dolar AS per Barel
-
Jangan Terlena Konflik Timur Tengah, Ada Bom Waktu di Laut Cina Selatan, RI Bisa Kena Getahnya
-
Digilas Harga Minyak Dunia, Nilai Tukar Rupiah Terus Lemas