Otomotif / Mobil
Jum'at, 30 Januari 2026 | 14:19 WIB
Kinerja Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2026 terdongkrak subsektor industri kendaraan bermotor serta industri mesin dan perlengkapan. Foto: Deretan unit mobil terparkir di pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI), Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (18/6/2025). [ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/tom]
Baca 10 detik
  • Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2026 didorong kuat oleh kinerja positif industri kendaraan bermotor dan mesin.
  • Respon positif industri terhadap usulan insentif otomotif serta peningkatan investasi industri pengolahan menopang IKI.
  • Sebanyak 20 dari 23 subsektor industri pengolahan berada dalam fase ekspansi, menyumbang signifikan PDB nonmigas.

Suara.com - Kinerja Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2026 terdongkrak kuat oleh subsektor industri kendaraan bermotor serta industri mesin dan perlengkapan. Kedua subsektor tersebut mencatatkan nilai IKI tertinggi dan menjadi penopang utama penguatan kepercayaan industri di awal tahun.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Febri Hendri Antoni Arief, menyampaikan industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer menjadi salah satu subsektor dengan performa paling solid pada Januari 2026.

Selain otomotif, subsektor industri mesin dan perlengkapan juga mencatatkan nilai IKI tinggi. Kondisi ini mengindikasikan aktivitas industri yang tidak hanya bertumpu pada produksi akhir, tetapi juga pada penguatan sektor hulu dan penunjang manufaktur.

“Kenaikan angka IKI pada subsektor ini juga dipengaruhi oleh respons positif pelaku industri terhadap surat Menteri Perindustrian kepada Menteri Keuangan,” ujar Febri, mengaju pada surat berisi usulan insentif untuk industri otomotif pada 2026.

Meski demikian, Febri menegaskan usulan tersebut masih berada dalam proses pembahasan antara Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Pemerintah masih mencermati berbagai aspek sebelum mengambil keputusan lanjutan.

Penguatan subsektor otomotif dinilai sejalan dengan meningkatnya kebutuhan kendaraan dan aktivitas logistik, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Respons positif pelaku industri mencerminkan ekspektasi terhadap iklim usaha yang lebih kondusif sepanjang 2026.

Sementara itu, menguatnya subsektor industri mesin dan perlengkapan dibaca sebagai sinyal awal ekspansi kapasitas industri nasional. Kinerja subsektor ini kerap menjadi indikator investasi baru maupun peremajaan fasilitas produksi di sektor manufaktur.

Febri menambahkan, penguatan IKI juga ditopang oleh meningkatnya realisasi investasi industri pengolahan. Pada Triwulan IV 2025, investasi industri pengolahan tercatat mencapai Rp218,2 triliun dan menyumbang 43,9 persen terhadap total investasi nasional.

Selain itu, kenaikan impor barang modal sebesar 17,27 persen secara tahunan pada November 2025 turut memperkuat indikasi ekspansi kapasitas dan modernisasi mesin di sektor industri. Pergerakan ini menunjukkan pelaku usaha mulai bersiap menghadapi peningkatan permintaan.

Baca Juga: Insentif Mobil Listrik Berbasis Bahan Baku Lokal, Toyota: Industri Domestik Siap?

Dari sisi struktur industri, penguatan subsektor otomotif dan mesin memperlihatkan perbaikan yang relatif merata. Dari total 23 subsektor industri pengolahan, sebanyak 20 subsektor berada di fase ekspansi dan hanya tiga subsektor yang masih mengalami kontraksi.

Subsektor yang berada di zona ekspansi tersebut memberikan kontribusi sebesar 94,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto industri pengolahan nonmigas. Hal ini menegaskan peran dominan sektor manufaktur dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Load More