- Kemenperin mengakui adanya kesenjangan produksi baja nasional dan konsumsi yang diisi impor, mayoritas dari Tiongkok.
- Industri baja perlu diversifikasi produk dari konstruksi ke otomotif dan perkapalan demi nilai tambah lebih tinggi.
- Kemenperin menerapkan kebijakan terintegrasi, termasuk kepastian gas HGBT dan instrumen *trade remedies* untuk penguatan industri.
Suara.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui industri baja nasional masih menghadapi berbagai permasalahan yang perlu diantisipasi secara bertahap. Salah satu tantangan utama adalah kesenjangan (gap) antara konsumsi baja nasional dan kapasitas produksi dalam negeri yang masih cukup besar.
"Gap ini diisi oleh produk impor, di mana mayoritas dari Tiongkok," kata Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Ia mengatakan sebagian besar produsen baja nasional masih berfokus pada kebutuhan sektor konstruksi dan infrastruktur. Padahal, terdapat potensi pengembangan produk untuk sektor otomotif, perkapalan, dan alat berat, seperti baja paduan (alloy steel) dan special steel yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Katanya, diversifikasi produk menjadi kebutuhan mendesak agar industri baja nasional mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Tantangan lainnya yakni kondisi fasilitas produksi yang rata-rata telah berumur dan teknologinya tertinggal, serta belum sepenuhnya ramah lingkungan.
Ini berdampak pada kualitas produk dan struktur biaya produksi yang kurang kompetitif, serta industri baja nasional juga menghadapi kesulitan bersaing dengan produk impor dari sisi harga.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenperin menginisiasi dan mengimplementasikan kebijakan industri terintegrasi guna menumbuhkan sektor baja secara berkelanjutan.
Dari sisi energi, pemerintah memberikan kepastian volume dan harga pasokan gas melalui skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) serta memperluas cakupan penerima HGBT bagi industri baja.
Kebijakan bahan baku juga diarahkan untuk menjamin stabilitas dan keberlanjutan pasokan input utama, sehingga industri dapat beroperasi secara efisien dan berkesinambungan.
Sebelumnya Faisol mengatakan Kemenperin sedang menyusun langkah strategis untuk memperkuat daya saing industri baja nasional di tengah berbagai tantangan global dan domestik.
Baca Juga: Setelah Perbaiki KRAS, Danantara Bangun Pabrik Baja Baru
Ia menegaskan, penguatan industri baja menjadi prioritas, karena sektor ini merupakan tulang punggung pembangunan nasional sekaligus fondasi bagi berbagai industri hilir.
Faisol menjelaskan, Kemenperin bersama pelaku industri dan para pemangku kepentingan telah merumuskan langkah-langkah penyelamatan dan penguatan industri baja nasional secara komprehensif.
Upaya tersebut dimulai dari perlindungan industri dalam negeri terhadap praktik perdagangan tidak adil (unfair trade) melalui penerapan instrumen trade remedies, guna menekan masuknya produk impor yang merugikan produsen domestik.
Selain itu, pemerintah mendorong percepatan adopsi teknologi terkini yang lebih efisien dan ramah lingkungan di sektor baja. Menurutnya modernisasi fasilitas produksi dinilai krusial untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus menekan biaya produksi yang selama ini relatif tinggi.
Kemenperin juga menekankan pentingnya penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk produk baja hilir yang bersentuhan langsung dengan konsumen, sebagai langkah menjaga mutu dan melindungi pasar dalam negeri.
Di sisi hulu, peningkatan investasi pada sektor crude steel menjadi fokus agar kebutuhan bahan baku industri baja nasional dapat dipenuhi dari dalam negeri. Langkah ini menurutnya diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada impor sekaligus memperkuat struktur industri secara menyeluruh.
Tag
Berita Terkait
-
Industri Otomotif Bawa Indeks Kepercayaan Industri Naik Tinggi di Januari 2026
-
Tekanan Fiskal Semakin Berat, Kemenperin Tak Lagi Ngotot Minta Insentif Otomotif
-
Industri Pengolahan RI Loyo di 2025 Gegara Tarif Trump Hingga Geopolitik
-
Lima Kawasan Industri Akan Terapkan Konsep Eco-industrial Park
-
Wamenprin Sebut Investor Siap Merelokasi Pabrik Bajanya ke RI, Pengusaha Menjerit: Jangan Pro Asing!
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
-
Bukan Ragnar Oratmangoen! Persib Rekrut Striker Asal Spanyol, Siapa Dia?
Terkini
-
IES 2026 Menjadi Ruang Dialog Ekonomi, Energi, dan Daya Saing Indonesia
-
Permintaan Obligasi Indonesia Turun ke Titik Terendah dalam Setahun Terakhir
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Pertamina Gagalkan Pencurian 10 Ton Minyak Mentah di Prabumulih
-
Pandu Sjahrir Beberkan Mekanisme Danantara Investasi di Pasar Saham
-
Danantara Tak Mau Ikut Campur Soal Saham Gorengan yang Diusut Bareskrim
-
Tak Lagi Andalkan Listrik, Bisnis Beyond kWh Didorong Jadi Sumber Pertumbuhan
-
Setelah Perbaiki KRAS, Danantara Bangun Pabrik Baja Baru
-
BRI Perkuat Transformasi Digital, Pengguna BRImo Tembus 45,9 Juta
-
KPK OTT Pegawai Pajak dan Bea Cukai Sekaligus, Purbaya: Saya Dampingi Tapi Tak Intervensi