- Kemenperin mengakui insentif otomotif tahun ini menambah beban fiskal pemerintah, namun belum ada pembahasan lanjutan dengan Kemenkeu.
- Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri, menyatakan pembahasan insentif bergantung pada jadwal Kemenkeu karena pertimbangan fiskal.
- Sebelumnya, Menteri Perindustrian bersikeras meminta insentif walau Menteri Koordinator Perekonomian menolaknya.
Suara.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui insentif untuk industri otomotif pada tahun ini akan semakin memberatkan tekanan fiskal yang tengah dihadapi oleh pemerintah.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, yang ditemui di Jakarta, Kamis (29/1/2026) mengungkapkan belum ada pembahasan lanjutan soal insentif untuk industri otomotif dengan Kementerian Keuangan meski surat berisi usulan insentif sudah disampaikan sejak akhir tahun lalu.
Ia mengatakan komunikasi yang terjadi baru sebatas koordinasi internal antarkementerian.
“Update-nya tadi itu saja, bahwa baru ada komunikasi dengan antareselon I Kementerian Perindustrian dengan Kementerian Keuangan,” kata Febri di Kantor Kemenperin.
Ketika ditanya soal tindak lanjut ke Kementerian Keuangan, Febri mengakui proses tersebut tidak sederhana. Menurutnya, Kemenkeu memiliki banyak pertimbangan di tengah tekanan fiskal yang sedang dihadapi pemerintah.
“Pak Menteri (Perindustrian) di Bandung tadi sudah menyampaikan bahwa ya kan dengan tekanan fiskal yang saat ini, Kemenkeu juga mempertimbangkan banyak hal begitu,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembahasan lanjutan sepenuhnya bergantung pada pertemuan antara Kemenperin dan Kemenkeu. Namun hingga kini, belum ada jadwal pasti yang disiapkan.
“Ya itu kan tergantung kepada ya pertemuan antara Kemenperin dengan Kemenkeu,” ujar Febri.
Saat didesak soal rencana waktu pertemuan, Febri menyebut hal tersebut bukan berada di tangan Kemenperin. Ia menyatakan keputusan ada di pihak Kemenkeu.
Baca Juga: Tekanan Fiskal Makin Besar Akibat Penghentian Insentif Kendaraan Listrik
“Itu kita enggak tahu ya, itu serahkan ke teman-teman Kemenkeu,” katanya.
Febri juga menegaskan tidak ada inisiatif khusus dari Kemenperin untuk mendorong percepatan pembahasan insentif tersebut. Menurutnya, kondisi beban kerja Kemenkeu harus dipahami.
“Oh enggak ada. Pak Menteri tadi sudah bilang, ya kita serahkan itu kepada Kemenkeu,” tuturnya.
Ia menyebut pihaknya memahami tingginya beban kerja yang sedang dihadapi Kemenkeu dalam mengelola kebijakan fiskal nasional.
“Iya. Ya kan kawan-kawan lihat sendiri kan Kemenkeu beban kerjanya juga cukup tinggi saat ini,” pungkasnya.
Sebelumnya Kemenperin cukup ngotot meminta insentif untuk industri otomotif. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri otomotif "terlalu penting" karena keterkaitan ekosistem industri (backward–forward linkage) yang besar terhadap sektor manufaktur.
Berita Terkait
-
Indonesia Masuk Daftar Negara dengan Tujuan Ekspor Mobil China Terbanyak di Dunia
-
Indonesia-Inggris Resmi Teken Kemitraan Strategis EGP di London
-
Menperin Beri Bocoran Insentif Otomotif 2026, Tak Mau Bikin Negara 'Cekak'
-
Menperin Minta Insentif Otomotif ke Menkeu
-
Tarik Ulur Insentif Otomotif: Menko Perekonomian Bilang Stop, Menperin Siapkan Jurus Baru
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Meledak! ! Ahmad Dhani Serang Maia Estianty Sampai Ungkit Dugaan Perselingkuhan dengan Petinggi TV
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Berapa Daya Minimal Cas Mobil Listrik di Rumah? Cek Batas Minimalnya
-
Calya hingga Xpander, Mana Mobil Bekas Paling Tangguh untuk Transisi ke Bioetanol E20?
-
Terpopuler: Kemewahan Toyota Fortuner 2006, Garasi Komisaris Bank BJB Susi Pudjiastuti
-
Kembaran Honda Beat Pakai Rangka eSAF Tembus Eropa, Begini Penampakannya
-
7 Motor Listrik Paling Tangguh untuk Harian, Anti Drama dan Minim Perawatan
-
Volkswagen Pangkas Kapasitas Produksi Satu Juta Unit Akibat Laba Anjlok
-
Apakah Denza D9 Generasi Baru Jadi MPV Mewah Paling Gila Abad Ini?
-
Dexlite Meroket Harga SUV Mitsubishi Merosot, Ini Pajero Sport Bekas Paling Cocok
-
Pasar Mobil Bekas Turut Merasakan Dampak Kehadiran Mobil Listrik China
-
Bukan Lagi Rp0! Ini Aturan Baru Pajak Motor Listrik Tahun 2026, Cek Simulasi Hitungannya