- Harga daging sapi di pasar tradisional melonjak menjadi Rp142 ribu hingga Rp145 ribu per kilogram pada April 2026.
- Kebijakan impor 700 ribu ekor sapi oleh Badan Pangan Nasional belum efektif menurunkan harga daging di pasaran.
- IKAPPI menyarankan pemerintah memperkuat produksi pangan dalam negeri serta memperbaiki tata niaga distribusi untuk menekan lonjakan harga.
Suara.com - Harga daging sapi di pasar tradisional kembali merangkak naik. Kenaikan ini terjadi di tengah kebijakan impor sapi yang sebelumnya digadang-gadang untuk menstabilkan harga di dalam negeri.
Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, mengungkapkan lonjakan harga tersebut justru bertolak belakang dengan tujuan kebijakan impor.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah melakukan impor 700 ribu ekor sapi untuk kebutuhan pangan pada pertengahan Maret lalu.
"Untuk daging sapi memang terjadi kenaikan yang tentunya ini kontradiksi terhadap alasan impor daging sapi untuk stabilisasi. Namun faktanya daging masih belum terjun bebas harganya," ujar Reynaldi kepada Suara.com, Kamis (2/4/2026).
Ia menyebutkan, harga daging sapi saat ini berada di kisaran Rp142 ribu hingga Rp145 ribu per kilogram. Padahal, dalam kondisi normal harga daging sapi biasanya berada di rentang Rp125 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram.
"Sekarang harga daging sapi di pasar sudah berkisar Rp142 ribu sampai Rp145 ribu," kata Reynaldi.
Menurut dia, kenaikan harga ini menimbulkan pertanyaan besar terhadap efektivitas kebijakan impor sapi yang volumenya cukup besar pada tahun ini. Bahkan, jumlah impor disebut mencapai ratusan ribu ekor sapi bakalan.
"Alasan untuk melakukan stabilisasi harga daging yaitu impor yang dilakukan pemerintah. Namun faktanya tidak cenderung turun harga dagingnya," ungkapnya.
Sebagai solusi, IKAPPI mendorong pemerintah untuk memperkuat sektor produksi dalam negeri, mulai dari pertanian, peternakan, hingga perikanan.
Baca Juga: Awas, Ada Potensi Lonjakan Harga Barang Pokok Sehabis Lebaran
Upaya ini dinilai penting untuk menciptakan pasokan yang melimpah sehingga mampu menekan harga di tingkat konsumen.
"Yang terutama tentu penguatan sentra-sentra pertanian, peternakan dan perikanan kita baik dari infrastrukturnya atau juga stimulus fiskal maupun non fiskal agar apa? Agar produksi di dalam negeri berlimpah tentunya dan itu mampu menekan harga di pasaran," kata Reynaldi.
Tak hanya itu, perbaikan tata niaga pangan juga dinilai menjadi kunci untuk mengatasi lonjakan harga yang kerap terjadi. Mulai dari distribusi hingga mekanisme di pasar perlu dibenahi agar lebih efisien.
"Kedua memperbaiki tata niaga pangan kita baik dari hulu - distribusi - dan terakhir hilirnya yaitu di pasar," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Harga Daging Sapi di Bawah HAP, Pasokan Terjamin Jelang Lebaran 2025
-
Ikappi Anggap Ucapan Viral Gus Miftah Lukai Perasaan Pedagang Kecil
-
Pedagang ITC Serentak Tutup Toko, Ikappi: Harusnya Pemerintah Beri Edukasi, Bukan Razia
-
Ditanya Soal Harga Beras Masih Mahal, Jokowi Jawab Dengan Cetus: Coba Dicek!
-
Kemendag Diminta Tak Terburu-buru Terbitkan Izin Impor Sapi Bakalan, Utamakan Peternak Lokal
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Pertamina dan POSCO International Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Rendah Karbon
-
Update Harga BBM SPBU Shell, BP dan Vivo saat Minyak Dunia Lewati USD 100 per Barel
-
Indonesia-Korsel Teken 10 MoU Senilai Rp 173 Triliun, Kerja Sama AI hingga Energi Bersih
-
IHSG Terus-terusan Anjlok, OJK Salahkan Sentimen Negatif Global
-
Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini
-
Profil PT PP Presisi Tbk (PPRE): Anak Usaha BUMN, Siapa Saja Pemegang Sahamnya?
-
RI Masuk 3 Besar Dunia Peminat Aset Kripto Riil, OSL Rilis 'Tabungan' Emas Digital
-
Pasar Semen Domestik Lesu, SMGR Putar Otak Jualan ke Luar Negeri
-
Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga
-
Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?