- GMFI mencatat laba Rp 570 miliar dengan pertumbuhan 26,3 persen YoY, serta pendapatan naik 16,8 persen menjadi Rp 8,25 triliun.
- Struktur permodalan membaik signifikan dengan ekuitas mencapai Rp 1,92 triliun, ditopang aksi inbreng aset Rp 5,6 triliun.
- Kinerja GMFI menjadi indikator kuat bahwa pemulihan Garuda Indonesia tidak sekadar kosmetik, melainkan menyasar perbaikan fundamental yang berkelanjutan.
Suara.com - PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI), anak usaha Garuda Indonesia bisnis bengkel pesawat meraih laba sebesar USD 33,9 juta atau setara Rp 570 miliar di tahun 2025. Raihan ini naik 26,3 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Laba ini disumbang dari kinerja pendapatan perusahaan juga tercatat tumbuh 16,8 persen menjadi USD 491,9 juta atau sekitar Rp8,25 triliun.
Kemudian, emiten bengkel pesawat ini membalikkan posisi ekuitas menjadi positif sebesar USD 114,6 juta atau setara Rp1,92 triliun, seiring dengan peningkatan total aset yang mencapai USD 813 juta atau sekitar Rp13,6 triliun.
Pencapaian ini tidak lepas dari aksi korporasi berupa inbreng lahan senilai Rp5,6 triliun yang memperkuat aset tetap perusahaan sekaligus memperbaiki struktur permodalan.
Direktur Utama GMFI, Andi Fahrurrozi, mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil dari konsistensi perusahaan dalam menjalankan transformasi secara menyeluruh.
"Ini merupakan sinyal kembalinya momentum pertumbuhan GMFI serta meningkatnya kepercayaan pasar melalui kinerja yang lebih sehat dan disiplin eksekusi," ujarnya seperti dikutip, Jumat (3/4/2026).
Kinerja GMFI juga ditopang oleh pertumbuhan lini bisnis non-commercial aircraft, khususnya melalui unit bisnis SBU Defense Industry, Industrial Solutions, dan Power Services yang mencatatkan pendapatan sebesar USD 36,7 juta atau Rp615,9 miliar, melonjak 59,9 persen secara tahunan.
Di sisi operasional, GMFI mampu menjaga disiplin turnaround time untuk memastikan serviceability dan reliability armada tetap optimal, meskipun tantangan global supply chain masih membayangi industri aviasi.
Capaian tersebut sekaligus mempertegas bahwa transformasi yang dijalankan Garuda Indonesia Group tidak sekadar kosmetik, melainkan menyasar perbaikan fundamental yang terukur, mulai dari aspek keuangan hingga operasional.
Baca Juga: Tantangan Organisasional Menghadapi Gap Profesionalitas Bisnis
Seiring dengan perbaikan kinerja tersebut, GMFI juga resmi keluar dari daftar Efek Pemantauan Khusus per 31 Maret 2026, menyusul induk usahanya yang lebih dahulu keluar beberapa hari sebelumnya.
Dengan kinerja positif anak usaha Garuda Indonesia, GMFI ini, menjadi sinyal kuat pemulihan kinerja grup secara keseluruhan.
Selain itu, Momentum ini dinilai menjadi titik penting dalam memulihkan kepercayaan pasar terhadap Garuda Indonesia Group, sekaligus memperkuat optimisme bahwa fase pemulihan kinerja kini mulai menunjukkan hasil nyata.
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita
-
Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru
-
Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun
-
PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025
-
CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai
-
BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
-
Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026
-
PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen
-
Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun
-
Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara