Bisnis / Makro
Senin, 18 Mei 2026 | 18:45 WIB
Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny meyakini bisa kembali menguat ke level Rp 16.000. [Suara.com/Rina Anggraeni].
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia menyatakan cadangan devisa tetap stabil berkat fundamental ekonomi yang kuat serta pengelolaan utang yang pruden.
  • Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny, menargetkan nilai tukar rupiah stabil di kisaran Rp 16.200 hingga Rp 16.800 per dolar AS.
  • Pelemahan rupiah saat ini terjadi akibat tekanan global yang meningkatkan inflasi dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) memastikan Cadangan Devisa (Cadev) Indonesia masih stabil dan kuat. Hal ini dikarenakan fundamental ekonomi Indonesia yang masih stabil.

Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny, mengatakan bahwa dengan fundamental ekonomi yang kuat membuat cadangan devisa stabil.

Apalagi, jelasnya, pengelolaan utang luar negeri dengan baik, jadi bukti rupiah bisa kembali menguat.

Ilustrasi kurs Rupiah terhadap Dolar AS [Suara.com/Antara/Diolah menggunakan AI]

"Kita meyakini dengan fundamental ekonomi yang Indonesia yang baik, pertumbuhan yang baik, inflasi yang terkendali, kemudian juga bagaimana Indonesia mengolah utang luar negeri dengan pruden, cadangan devisa yang memadai, ini yang membuat kita optimis bahwa rupiah akan stabil dan cenderung menguat," ujarnya di Gedung DPR, Senin (19/5/2026).

Dia mengungkapkan Bank Indonesia sudah all out dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Selain,  itu BI optimis rupiah tahun ini masih bisa mencapai rata-rata yang sudah ditargetkan di level Rp 16.500 dengan rentang Rp 16.200 sampai dengan Rp 16.800.

"Bank Indonesia akan terus melakukan tujuh langkah strategis dalam langkah memperbuat nilai tukar dan tentunya kita akan selalu mencermati kondisi, terutama di global," katanya.

Dia menambahkan bahwa pelemahan rupiah  disebabkan oleh tekanan global yang masih tinggi. Hal itu terjadi di semua mata uang Asia lainnya.

"Kemudian dengan seiring persepsi inflasi global itu terus meningkat, yield US Treasury juga cenderung naik, hari ini di angka 4,6-4,7 dan tentunya ini juga memberikan tekanan kepada nilai tukar di semua negara. Jadi kalau kita melihat per Mei ini banyak sekali negara yang melemah terhadap Dolar AS," pungkasnya.

Baca Juga: Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara

Load More