Bisnis / Makro
Senin, 18 Mei 2026 | 20:02 WIB
Ilustrasi The Economist. (ist)
Baca 10 detik
  • Purbaya Yudhi Sadewa kritik The Economist karena salah paham terkait dana Rp200 triliun.

  • Pemilik saham utama The Economist merupakan keluarga konglomerat Agnelli asal Eropa.

  • Gurita bisnis pemilik The Economist mencakup raksasa otomotif dunia seperti Ferrari.

Suara.com - The Economist menuai perhatian netizen setelah mengkritik berbagai kebijakan ekonomi Indonesia. Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa ternyata pernah menjuluki The Economist sebagai 'media bodoh'.

Berdasarkan tingkat kekayaan, salah satu pemilik The Economist ternyata bukan sosok sembarangan.

Jumlah kekayaan pemegang saham The Economist ditaksir mencapai ratusan triliun rupiah.

The Economist viral menjadi perbincangan setelah mengkritik keras kebijakan Prabowo serta menyoroti kondisi keuangan Indonesia.

Akun media sosial The Economist bahkan menyebut Prabowo serta Indonesia pada 9 postingan viral di X dalam kurun waktu seminggu terakhir.

Ini bukan pertama kalinya The Economist menyoroti kondisi Indonesia. Menjelang akhir 2025 lalu, The Economist mengkritik kebijakan Rp200 triliun Menteri Keuangan Purbaya.

The Economist mengkritik Prabowo. (X)

Merespons kritikan, Purbaya menyebut The Economist sebagai 'media bodoh'. Purbaya tak langsung menyebut 'bodoh' namun memberikan kata kasar berupa 'beg*'.

Hal itu disampaikan Purbaya di Pembukaan Rapimnas Kadin 2025 pada Desember tahun lalu.

"Dia bilang di Economist itu, saya ngabisin uang yang disimpan untuk keadaan susah sebesar 200 triliun. Padahal kan uangnya nggak habis, uangnya cuma saya pindahin aja. Jadi majalah 'The Economist' yang canggih itu, ternyata nggak sepintar gua. Ini kalau Anda baca yang hari ini, dibilang saya salah. Gue bilang 'Dasar majalah beg*'. Oh iya dong, iya dong, kan dia banyak ekonomnya kan harusnya? Ternyata emang dugaan saya betul, dia nggak sepintar saya. Jadi kalau saya hidupkan dua-duanya, ekonomi fiskal moneter dengan ini mesinnya dua tumbuh, saya pikir 6 sampai 6,5 bisalah. Nanti Anda akan mendapatkan keadaan ekonomi yang beda dibanding sebelumnya," kata Purbaya pada Pembukaan Rapimnas Kadin 2025.

Baca Juga: Mau Berangkat Haji, Menkeu Purbaya Ngaku Masih Sering Lupa Doa Meski Sudah Belajar

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (18/5/2026). [Suara.com/Novian]

Pemilik The Economist dan Gurita Bisnisnya

Melalui laman resmi Economist.com, pemilik The Economist terdiri dari keluarga investor ternama dari Eropa.

Surat kabar yang eksis sejak September 1843 ini ternyata didanai oleh keluarga Agnelli dan Rothschild.

"The Economist adalah bagian dari The Economist Group, sebuah perusahaan swasta dengan struktur kepemilikan khusus yang dirancang untuk menjaga independensi editorial. Pemegang sahamnya telah ada sejak lebih dari seabad yang lalu, dan termasuk nama-nama besar dalam bisnis Inggris, seperti Sainsburys, Cadburys, dan Schroders. Pemegang saham lainnya saat ini termasuk dana yang dimiliki oleh keluarga Agnelli dan Rothschild. Banyak staf The Economist Group juga memiliki saham, yang diperdagangkan secara pribadi dua kali setahun," bunyi keterangan pada laman resmi The Economist dikutip Senin (18/5/2026).

Berdasarkan laporan Axios, Exor (bagian holding Agnelli) memegang sekitar 43,4 persen saham Economist. Pemegang saham lainnya, termasuk The Economist Group sendiri, memiliki 29,9 persen.

Berdasarkan berita terbaru, Lynn Forester de Rothschild, telah menjual seluruh saham keluarganya sebesar 26,9 persen di The Economist kepada miliarder Kanada Stephen Smith.

Load More