Bisnis / Keuangan
Jum'at, 10 April 2026 | 10:33 WIB
Ilustrasi (pexels/ Liza Summer)
Baca 10 detik
  • Survei Sun Life April 2026 menyatakan 57 persen perempuan Indonesia terancam tidak memiliki tabungan pensiun yang memadai.
  • Pengorbanan kebutuhan pribadi untuk keluarga dan tingginya biaya medis menghambat kemandirian finansial perempuan di Indonesia.
  • Fenomena sandwich generation membebani perempuan, namun hanya 26 persen yang menyisihkan dana untuk perawatan orang tua.

Suara.com - Di balik peran sentralnya sebagai pengelola keuangan rumah tangga, perempuan Indonesia kini menghadapi ancaman kerentanan finansial di masa tua.

Sebuah survei terbaru yang dirilis oleh Sun Life pada April 2026 mengungkapkan data yang cukup mengkhawatirkan: mayoritas perempuan di tanah air cenderung mengabaikan kesehatan dan masa depan finansial pribadi demi mengutamakan kebutuhan keluarga.

Berdasarkan riset tersebut, tercatat 57 persen perempuan Indonesia diprediksi tidak akan memiliki tabungan pensiun yang memadai di masa depan.

Kondisi ini dipicu oleh pola konsumsi yang bersifat pengorbanan, di mana 82 persen responden mengaku harus memangkas biaya rekreasi pribadi, 30 persen membatasi peluang investasi, dan 28 persen lainnya terpaksa menunda penyisihan dana untuk masa tua.

Beban Medis dan Krisis Persiapan Masa Tua

Tingginya biaya kesehatan di tahun 2026 menjadi faktor krusial yang memperburuk kondisi ini. Sebanyak 51 persen responden menyatakan bahwa beban medis merupakan hambatan utama dalam mencapai kemandirian finansial.

Tanpa perlindungan yang tepat, pengeluaran kesehatan yang tidak terduga sering kali menguras habis cadangan kas yang seharusnya dialokasikan untuk investasi jangka panjang.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menekankan bahwa temuan ini merupakan pengingat penting akan posisi perempuan yang tangguh namun sekaligus rentan secara ekonomi.

"Dalam menjaga keluarga, perempuan sering kali mengorbankan kesehatan, rasa aman, dan rencana finansial mereka sendiri. Peran ini patut dihargai dan didukung dengan solusi yang membantu mereka tetap bisa memprioritaskan keluarga tanpa harus mengesampingkan masa depan sendiri," ujar Albertus dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Baca Juga: DPR Siap Revisi UU Pensiun Pejabat Negara Usai Putusan MK, Ditargetkan Rampung 2 Tahun

Survei ini juga menyoroti fenomena sandwich generation yang semakin membebani pundak perempuan Indonesia. Data menunjukkan bahwa 96 persen perempuan memperkirakan akan bertanggung jawab penuh atas perawatan orang tua mereka di masa mendatang.

Namun, terdapat kesenjangan besar antara ekspektasi dan realitas persiapan. "Ironisnya, hanya 26 persen perempuan yang telah menyisihkan minimal 10 persen dari pendapatan mereka untuk kebutuhan perawatan orang tua tersebut," tambah Albertus.

Kurangnya alokasi dana khusus ini berpotensi menciptakan tekanan ekonomi ganda saat tanggung jawab tersebut benar-benar tiba.

Meskipun 63 persen perempuan merasa kondisi keuangan mereka secara umum lebih baik dibandingkan generasi ibu mereka terdahulu, data menunjukkan bahwa rasa aman tersebut masih bersifat semu. Hanya 19 persen responden yang merasa sangat siap secara finansial menghadapi peristiwa besar yang tak terduga.

Rendahnya kesiapan menghadapi keadaan darurat ini menunjukkan perlunya edukasi literasi keuangan yang lebih masif. Sebagai pengambil keputusan utama dalam rumah tangga, perempuan membutuhkan akses terhadap perencanaan keuangan yang praktis dan relevan.

Load More