- Ketua Dewan OJK Friderica Widyasari Dewi menekankan pentingnya penguatan pasar modal dan keuangan digital untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional 7,5 persen pada tahun 2027.
- Indonesia memerlukan total pembiayaan sebesar Rp8.600 triliun yang tidak dapat dipenuhi hanya melalui sektor perbankan, sehingga dibutuhkan diversifikasi sumber pendanaan yang lebih luas.
- Pemerintah menghadapi tantangan arus keluar modal asing signifikan di pasar obligasi dan saham akibat kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan kebijakan domestik.
Suara.com - Ketua Dewan OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan sektor pasar modal dan keuangan digital harus diperkuat agar bisa menjadi tumpuan dalam mencapai target pembangunan ekonomi nasional 7,5 persen di 2027 mendatang.
Hal itu disampaikan Kiki, sapaan akbran Friderica, saat arus keluar modal asing dari Indonesia terus mengalir di tengah kondisi perekonomian dunia yang tak menentu dan situasi domestik juga semakin tidak pasti dengan berbagai kebijakan baru pemerintah.
Kini mengatakan untuk mencapai pertumbuhan 7,5 persen, menurut data Bappenas, diperlukan modal sekitar Rp8.600 triliun. Sementara dana tersebut tak bisa hanya mengandalkan perbankan, tetapi juga pasar modal dan jasa keuangan digital.
"Data dari Bappenas yang menyampaikan bahwa Indonesia butuh angka yang cukup besar untuk pembiayaan, untuk mendukung sektor pertumbuhan ekonomi kita.Mungkin sekitar Rp8.600 triliun," katanya di Balai Kartini, Senin (25/5/2026).
Karena itu, menurutnya, sumber pembiayaan tidak dapat hanya bertumpu pada sektor perbankan, melainkan perlu didukung sektor lain. Salah satunya pasar modal dan layanan keuangan digital.
“Pembiayaan ekonomi Indonesia membutuhkan dukungan yang lebih luas. Tidak hanya dari perbankan, tetapi juga sumber pembiayaan baru agar pertumbuhan ekonomi nasional dapat berjalan optimal,” ujar Friderica.
Ia menjelaskan, intermediasi sektor perbankan masih menunjukkan tren positif. Kredit perbankan pada Maret 2026 tercatat tumbuh sebesar 9,49 persen secara tahunan atau year-on-year menjadi Rp8.659 triliun.
Sementara dana pihak ketiga juga meningkat 13,5 persen secara year-on-year menjadi Rp10.231 triliun dengan kondisi permodalan dan likuiditas yang tetap terjaga.
Selain perbankan, pertumbuhan juga terjadi di sektor lain seperti industri asuransi, dana pensiun, serta perusahaan pembiayaan. Menurut Friderica, seluruh sektor tersebut masih mencatatkan profil risiko yang terkendali sehingga mampu menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional.
Baca Juga: Kemenko Perekonomian Bidik Sektor Digital demi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Di sektor pasar modal, OJK mengakui adanya koreksi indeks harga saham seiring dinamika global dan reformasi integritas yang tengah dilakukan. Meski demikian, Friderica menegaskan bahwa investasi di pasar modal Indonesia harus dipandang sebagai investasi jangka panjang dengan mempertimbangkan fundamental ekonomi nasional yang tetap kuat.
“Semua upaya yang dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkuat pembiayaan ekonomi nasional, baik dari sektor perbankan maupun sektor lain, terutama pasar modal,” katanya.
Ironisnya itu menurut data Permata Bank, Indonesia menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang mengalami arus modal keluar (capital outflow) di pasar obligasi (bond market). Tak hanya itu, jumlah kapital yang kabur dari pasar modal juga cukup besar.
"Hanya Indonesia yang mengalami outflow. Sedih banget. Hanya Indonesia yang mengalami outflow," tegas ekonom Permata Bank Josua Pardede dalam Pelatihan Media Bank Indonesia di Makassar, Jumat (22/5/2025).
Permata Bank mencatat investor asing masih membukukan net outflow sekitar US$1,48 miliar di pasar obligasi Indonesia sepanjang kuartal I 2026. Sementara di pasar saham, net outflow mencapai US$1,95 miliar.
Josua mengatakan kondisi itu menunjukkan investor global mulai mencermati risiko domestik Indonesia, terutama terkait fiskal dan kualitas kebijakan ekonomi.
Berita Terkait
-
Pertumbuhan Ekonomi dan Swasembada Pangan Jateng Memuaskan, Tuai Berbagai Pujian
-
IHSG Anjlok ke Level 6.000, OJK Beri Pesan untuk Investor
-
OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja
-
Rupiah Anjlok, Nasabah Mulai Berbondong-bondong Nabung Dolar AS
-
Ekonom UI: Masyarakat Kok Makin Miskin kala Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Wamen ESDM Buka Suara soal Ganti Rugi Blackout Listrik Sumatra
-
Usai 1 Persen Saham Negara Masuk, Danantara Sumberdaya Indonesia Resmi Jadi BUMN
-
BTN Akuisisi Portofolio Kredit SMBCI Rp20 Triliun untuk Perkuat Transformasi Beyond Mortgage
-
5 Rekomendasi Investasi di 2026 untuk Dapat Passive Income, Aman dan Menguntungkan
-
Wamenkeu Ungkap 3 Sumber Krisis Ekonomi Negara, Gimana Nasib RI?
-
Beleid E-Commerce Segera Rampung, Apa Poin Utamanya?
-
Rezim Prabowo Semakin Bergerak ke Arah Sosialisme
-
Danantara Sumberdaya Indonesia Resmi Berlabel BUMN
-
Mendag Tegaskan Izin Ekspor Masih di Kemendag, Bukan Wewenang Danantara
-
Gangguan Listrik Sumatra Jadi Momentum Perkuat Infrastruktur PLN