- Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyatakan krisis ekonomi global umumnya dipicu oleh tiga faktor utama yaitu fiskal, neraca, dan keuangan.
- Pemerintah Indonesia memastikan kondisi fiskal, neraca pembayaran, dan sistem keuangan nasional saat ini terpantau sehat serta stabil secara makro.
- Data menunjukkan Indonesia tidak menunjukkan tanda-tanda krisis karena investor masih mempercayai instrumen utang serta stabilitas neraca pembayaran nasional.
Suara.com - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan setidaknya ada tiga sumber yang menyebabkan negara mengalami krisis ekonomi. Hal ini ia simpulkan dari pengalaman krisis ekonomi yang terjadi di negara-negara global.
"Kalau kita lihat history-nya, pengalaman-pengalaman negara-negara di dunia ini yang mengalami krisis, sebenarnya ada tiga sumber krisis itu," kata Wamenkeu dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah yang disaksikan virtual, Senin (25/5/2026).
1. Defisit Fiskal
Tanda pertama yakni terjadi di Amerika Latin tahun 1980-an, yakni ketika defisit fiskal membengkak. Walhasil Pemerintah di kawasan sana tidak bisa lagi menutup defisit lewat pembiayaan karena banyak orang yang sudah tak percaya.
Juda menyebut, kala itu banyak negara di Amerika Latin yang mengeluarkan surat utang atau obligasi namun tidak diminati investor. Walhasil terjadilah krisis di sektor fiskal.
Sementara itu di Indonesia, Juda Agung menilai defisit APBN relatif terbatas karena masih di bawah 3 persen. Sedangkan untuk pembiayaan fiskal, RI diklaim masih sangat dipercaya oleh investor, baik domestik maupun asing.
Hal itu terlihat dari yield atau imbal hasil yang saat ini masih di kisaran 6,5-6,7 persen. Meskipun sedikit melonjak, Juda yakin investor masih percaya RI karena yield tidak terlalu tinggi.
"Ya ada peningkatan tapi tidak signifikan peningkatannya. Jadi fiskal, krisis yang bersumber dari fiskal, tidak ada tanda-tandanya," beber dia.
2. Krisis Neraca Pembayaran
Baca Juga: Riset: 80 Persen Warga Pesisir Alami Penurunan Pendapatan Akibat Krisis Iklim
Sumber kedua yakni krisis ekonomi bisa muncul karena krisis neraca pembayaran. Hal ini dialami Indonesia pada tahun 1997-1998, yang mana banyak perusahaan berlomba-lomba menarik dana dari luar negeri.
"Dulu instrumennya banyak sekali, dan bahkan waktu itu kita tidak tahu berapa jumlahnya gitu ya," lanjutnya.
Keadaan semakin diperparah ketika terjadinya pelemahan nilai tukar Rupiah yang berujung pada sudden stop atau berhentinya aliran modal asing. Dari sana banyak perusahaan yang kolaps karena tak bisa lagi membayar utang luar negeri.
"Dan neraca pembayaran kita waktu itu memang sangat jeblok, dan saat ini kalau kita lihat pembayaran, angka-angka neraca pembayaran kita, relatif sehat dan relatif balance. Jadi dari krisis neraca pembayaran tidak ada tanda-tanda itu," ungkapnya.
3. Krisis dari Sistem Keuangan
Juda menyebut tanda krisis ekonomi muncul juga dari sistem keuangan. Apabila lending atau pinjaman dana terjadi masif di berbagai sektor, maka suatu saat bakal membengkak (bubble).
Berita Terkait
-
Riset: 80 Persen Warga Pesisir Alami Penurunan Pendapatan Akibat Krisis Iklim
-
Gertakan Menkeu Soal Rupiah Rp 15.000: Angin Segar atau Janji Manis?
-
Kemenkeu Buktikan Indonesia Jauh dari Krisis Ekonomi ala 1998, Ini Datanya
-
Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?
-
Bantah Krisis 1998 Terulang, Purbaya: Saya Pinteran Dikit dari IMF
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Beleid E-Commerce Segera Rampung, Apa Poin Utamanya?
-
Rezim Prabowo Semakin Bergerak ke Arah Sosialisme
-
Danantara Sumberdaya Indonesia Resmi Berlabel BUMN
-
Mendag Tegaskan Izin Ekspor Masih di Kemendag, Bukan Wewenang Danantara
-
Gangguan Listrik Sumatra Jadi Momentum Perkuat Infrastruktur PLN
-
Cuma RI yang Kena Outflow Obligasi, Ekonom: Sedih Banget!
-
BTN Tawarkan 10.000 Hunian Second Dengan Harga di Bawah Pasar Pada Lelang Akbar BTN 2026
-
PaDi UMKM dan Danantara Perkuat Kolaborasi Digitalisasi Pengadaan BUMN dan UMKM
-
Saham Diborong, Smelter Dibangun: Inilah Tentakel Nikel Haji Isam
-
IHSG Mulai Bangkit di Level 6.200 pada Sesi I, 540 Saham Hijau