Bisnis / Keuangan
Senin, 13 April 2026 | 07:45 WIB
ilustrasi indeks saham Wall Street bisa kembali melemah setelah negosiasi AS-Iran gagal. [Unsplash].
Baca 10 detik
  • Indeks saham Wall Street anjlok lebih dari 1 persen akibat eskalasi konflik AS-Iran dan kebijakan blokade Selat Hormuz.
  • Harga minyak dunia melonjak hampir 8 persen karena kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
  • Pasar juga menanti laporan keuangan bank-bank besar AS yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan indeks selanjutnya.

Suara.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street diproyeksikan melemah tajam indeks saham wall street anjlok pada Minggu malam waktu setempat (Senin Pagi waktu Indonesia).

Tekanan pasar muncul usai Presiden Donald Trump mengumumkan blokade Selat Hormuz, menyusul gagalnya perundingan damai antara AS dan Iran.

Menukil CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average turun 517 poin atau 1,1 persen. Sementara itu,  S&P 500 terkoreksi 1,1 persen dan Nasdaq-100 merosot 1,2 persen.

“Mulai sekarang juga, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE semua Kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump di Truth Social.

"Blokade akan segera dimulai. Negara-negara lain akan terlibat dalam Blokade ini. Iran tidak akan diizinkan untuk mengambil keuntungan dari Tindakan PEMERASAN ilegal ini."

Negosiasi Iran dan Amerika Serikat di Islamabad memanas akibat sengketa militer di Selat Hormuz. (Tanimnews)

Langkah tersebut diambil setelah perundingan antara AS dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Kegagalan negosiasi ini kembali memicu kekhawatiran bahwa konflik kedua negara akan berlangsung lebih lama, sehingga membebani ekonomi global.

Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak mentah WTI melonjak 7,9 persen menjadi 104,19 dolar AS per barel pada awal perdagangan Minggu.

Komando Pusat AS juga menyatakan akan mulai memblokir seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai pukul 10 pagi waktu setempat pada Senin. Meski begitu, kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan di luar Iran disebut tidak akan terdampak.

Wakil Presiden AS, JD Vance, meninggalkan Islamabad tanpa kesepakatan dengan pejabat Iran. Ia menyebut Iran enggan menghentikan pengembangan senjata nuklir. Sementara itu, Iran menuntut kendali atas Selat Hormuz, ganti rugi perang, serta pembebasan aset yang dibekukan.

Baca Juga: Perundingan AS-Iran Kacau, Trump Malah Nonton UFC Ketimbang Negosiasi Selat Hormuz

Di sisi lain, laporan The Wall Street Journal menyebut Trump juga tengah mempertimbangkan opsi melanjutkan serangan militer setelah kegagalan diplomasi tersebut.

CEO KKM Financial, Jeff Kilburg, menilai pernyataan blokade ini menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa konflik Iran masih penuh ketidakpastian.

“Pernyataan blokade baru ini merupakan sinyal nyata kepada pasar saham bahwa konflik Iran masih belum pasti, namun para pedagang melihat perkembangan ini sebagai taktik negosiasi dibandingkan implementasi kebijakan yang sebenarnya, atau sebagai solusi jangka panjang untuk Selat Hormuz,” ujarnya.

Meski demikian, Kilburg menyebut masih ada peluang aksi beli sebelum pasar dibuka pada Senin.

Sebelumnya, harapan berakhirnya konflik sempat mendorong penguatan pasar saham AS. Pekan lalu, S&P 500 melonjak 3,6 persen, Nasdaq naik sekitar 4,7 persen, dan Dow Jones menguat 3 persen—menjadi kinerja terbaik sejak November.

Dari sisi fundamental, pelaku pasar juga menantikan musim laporan keuangan kuartal pertama yang mulai bergulir pekan ini. Bank-bank besar seperti Goldman Sachs dijadwalkan merilis kinerja pada Senin, disusul Citigroup, Wells Fargo, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, serta Bank of America pada pekan ini.

Load More