Bisnis / Ekopol
Minggu, 12 April 2026 | 10:49 WIB
Pemerintah Iran menyatakan siap membuka akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal Jepang di tengah meningkatnya perang melawan AS dan Israel. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Delegasi Amerika Serikat dan Iran mengakhiri perundingan selama 21 jam di Pakistan tanpa mencapai kesepakatan formal terkait Selat Hormuz.
  • Ketidakjelasan sikap Donald Trump mengenai status keamanan Selat Hormuz menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi diplomatik kedua negara.
  • Iran menolak syarat Washington dan belum berencana melanjutkan dialog, meskipun Pakistan tetap berupaya menjaga saluran komunikasi tetap terbuka.

Suara.com - Perundingan maraton selama 21 jam yang berlangsung di Pakistan antara delegasi Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan.

Di balik kebuntuan diplomasi ini, terdapat satu faktor krusial yang dianggap sebagai pemicu utama: sikap Presiden Donald Trump yang dinilai sangat tidak jelas dan berubah-ubah terkait masa depan Selat Hormuz.

Jalur perairan paling strategis di dunia tersebut menjadi titik api yang membuat negosiasi berjalan sangat sulit.

Wakil Presiden AS, JD Vance, dalam sebuah konferensi pers singkat, mengonfirmasi bahwa pertemuan tersebut gagal mencapai titik temu.

Ia menyatakan bahwa pihak Iran memilih untuk menolak syarat-syarat yang diajukan oleh Washington. Kegagalan ini menandai babak baru ketegangan di kawasan Timur Tengah, meskipun kedua belah pihak masih menyisakan ruang tipis untuk dialog di masa depan.

Ketidakjelasan posisi Amerika Serikat berakar langsung dari pernyataan-pernyataan Donald Trump yang saling bertolak belakang dalam sepuluh hari terakhir.

Dalam satu kesempatan, Trump sempat menyatakan bahwa Selat Hormuz sama sekali bukan merupakan kepentingan Amerika Serikat.

Ia berargumen bahwa Washington tidak lagi membutuhkan minyak yang mengalir melalui jalur tersebut dan menyerahkan urusan keamanan kepada negara-negara lain untuk menyelesaikannya dengan Iran.

Dikutip via Aljazeera, hanya berselang beberapa hari, ia mengubah retorikanya secara drastis. Trump kemudian menyebut bahwa Selat Hormuz adalah prioritas utama dan pusat dari segala tuntutan Amerika Serikat.

Baca Juga: Pemerintah Sebut Nasib 2 Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz Belum Jelas

Ia menegaskan bahwa tidak akan ada ruang negosiasi jika jalur perairan tersebut tidak tetap dibuka. Inkonsistensi ini membuat para diplomat di lapangan kesulitan menentukan arah kebijakan luar negeri AS yang sebenarnya.

“Kita sama sekali tidak tahu di mana posisinya, karena itu adalah dua posisi yang sama sekali tidak dapat didamaikan,” ungkap seorang analis mengenai ketimpangan pernyataan Trump, kepada Aljazeera.

Ketidakpastian ini pula yang diyakini menjadi inti dari sulitnya menjembatani perbedaan antara kedua negara dalam setiap putaran pembicaraan.

Reaksi Iran dan Strategi Kartu Truf

Di pihak lain, Iran tampak tetap pada pendiriannya. Bagi Teheran, kendali atas Selat Hormuz adalah kartu truf paling kuat yang mereka miliki dalam peta geopolitik global.

Iran menunjukkan niat yang jelas bahwa mereka tidak akan melepaskan kontrol tersebut tanpa mendapatkan keuntungan maksimal di meja perundingan.

Load More