Bisnis / Energi
Senin, 13 April 2026 | 09:31 WIB
Ilustrasi fasilitas minyak mentah di mana harga mulai melonjak kembali. [Pexels].
Baca 10 detik
  • Harga minyak jenis Brent melonjak 7,98 persen ke level 102,80 dolar AS, sementara WTI meroket 8,61 persen ke posisi 104,88 dolar AS per barel akibat kepanikan pasar atas kegagalan diplomasi.
  • AS secara resmi menutup akses keluar-masuk seluruh pelabuhan Iran dan Selat Hormuz.
  •  Garda Revolusi Iran siap melakukan tindakan militer terhadap kapal asing yang mendekati selat Hormuz.

Suara.com - Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Pakistan tidak menemukan titik temu. Hal itu memicu kekhawatiran pasar global yang menyebabkan harga minyak kembali berada di atas USD 100 per barel pada perdagangan Senin 13 April 2026. 

Situasi ini diperparah oleh rencana Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz, yang diprediksi akan memutus rantai pasokan minyak mentah dari Iran.

Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka naik USD 7,60, atau 7,98 persen  menjadi USD 102,80 per barel pada pukul 23.10 GMT (06.10 WIB) setelah ditutup 0,75 persen lebih rendah pada hari Jumat.

Adapun Harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di USD 104,88 per barel, naik USD 8,31, atau 8,61 persen, setelah mengalami penurunan 1,33 persen pada sesi sebelumnya.

Menurut Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic, situasi pasar saat ini telah berbalik ke kondisi sebelum adanya gencatan senjata. Ia menambahkan bahwa AS berencana untuk menutup celah pengiriman minyak yang terafiliasi dengan Iran lewat Selat Hormuz, yang volumenya diperkirakan mencapai 2 juta barel per hari.

Stabilitas ekonomi dunia terancam setelah dialog diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan resmi. (Tasnimnews)

Trump pada Minggu (12/4) mengaku menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz sebagai respons atas gagalnya perundingan damai.

Langkah agresif ini tidak hanya mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang baru berjalan singkat, tetapi juga diakui Trump dapat memicu lonjakan harga bahan bakar hingga musim pemilihan sela November nanti—sebuah konsekuensi politik yang muncul akibat keputusannya memulai serangan ke Iran sebulan setengah yang lalu.

Mulai Senin pukul 14.00 GMT, Komando Pusat AS secara resmi menutup akses keluar-masuk kapal di seluruh pelabuhan Iran. 

Analis dari ANZ memperingatkan bahwa blokade ini akan menjadi pukulan ganda,  menghalangi ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia sekaligus memperparah kelangkaan pasokan energi global.

Baca Juga: Nego AS-Iran Buntu! Harga Minyak Tembus US$ 104 Per Barel

Tony Sycamore dari IG menilai strategi itu akan efektif menghambat aliran minyak Iran. Dengan demikian sekutu Iran dan pelanggannya akan memberikan tekanan agar Selat Hormuz dibuka kembali. 

Sementara itu, Garda Revolusi Iran pada Minggu menegaskan akan menindak tegas setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz, dengan dalih menjaga integritas gencatan senjata.

Meski situasi diplomatik sedang buntu, aktivitas pelayaran sempat terlihat saat tiga tanker minyak besar berhasil keluar dari Teluk pada hari Sabtu  yang diduga menjadi pengiriman pertama sejak gencatan senjata disepakati.

Namun, pada hari Senin, kondisi selat terpantau sepi dengan hanya satu kapal Iran yang bersandar.  

Di samping itu, Arab Saudi bergerak cepat memitigasi gangguan energi dengan memulihkan kapasitas pipa minyak Timur-Barat hingga 7 juta barel per hari guna menutupi kerusakan akibat konflik sebelumnya.

Load More