Bisnis / Energi
Sabtu, 18 April 2026 | 15:06 WIB
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengungkap pertemuan Purbaya dengan Bahlil membahas ketersediaan LPG menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2026. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut]
Baca 10 detik
  • Selat Hormuz dibuka, Pemerintah RI optimistis pasokan energi global dan nasional kembali stabil.
  • Harga minyak dunia turun signifikan merespons normalisasi jalur distribusi di Timur Tengah.
  • Kapal Pertamina yang sempat tertahan segera melintas seiring hasil negosiasi positif dengan Iran.

Suara.com - Pemerintah Indonesia menyambut baik langkah Pemerintah Iran yang kembali membuka pintu Selat Hormuz bagi pelayaran komersial internasional. Keputusan ini dinilai menjadi katalisator utama bagi stabilisasi pasokan energi global yang sempat terombang-ambing.

Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, mengungkapkan bahwa normalisasi jalur strategis tersebut membawa dampak domino positif, tidak hanya bagi pasar dunia, tetapi juga bagi otot ketahanan energi nasional.

"Pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan perkembangan yang sangat positif bagi stabilitas pasokan energi global, termasuk Indonesia. Ini memberikan kepastian terhadap jalur distribusi yang sempat terganggu akibat dinamika geopolitik," ujar Anggia dalam keterangan tertulisnya, dikutip Sabtu (18/4/2026).

Sebelumnya, pemerintah tidak tinggal diam. Anggia menjelaskan bahwa berbagai skenario darurat telah disiapkan untuk membentengi stok nasional, mulai dari penguatan cadangan hingga diversifikasi sumber energi. Maklum, Selat Hormuz adalah "urat nadi" distribusi migas dunia.

Begitu gerbang selat dibuka, pasar global langsung bereaksi. Harga minyak mentah dunia dilaporkan mengalami penurunan signifikan, sebuah sinyal kuat bahwa kekhawatiran pelaku pasar terhadap kelangkaan pasokan mulai melandai.

"Pemerintah memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga selama periode ketidakpastian kemarin. Kini, tekanan terhadap rantai pasok mulai mereda," tambahnya.

Terkait nasib dua kapal milik PT Pertamina (Persero) yang sempat tertahan di kawasan panas tersebut, Kementerian ESDM memastikan proses negosiasi terus berjalan. Sinyal hijau dari Teheran sudah dikantongi, dan pemerintah optimis kapal-kapal tersebut bisa segera melanjutkan pelayaran.

"Kami terus berkoordinasi agar kapal milik Indonesia bisa melintas. Harapannya, pelayaran kembali normal secara bertahap. Kami monitor ketat situasi global demi menjaga stabilitas harga energi domestik," pungkas Anggia.

Baca Juga: Selat Hormuz Dibuka, PIS Siapkan Rute Darurat agar 2 Kapal Pertamina Kembali Berlayar

Load More