- Harga Bitcoin naik mencapai 79.500 dolar AS di Indodax saat konflik Amerika Serikat dan Iran memanas pada akhir April 2026.
- Lonjakan harga Bitcoin didorong oleh permintaan institusional yang konsisten melalui produk spot ETF serta fenomena teknikal short squeeze pasar.
- Arus masuk dana ke pasar kripto mencerminkan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat saat ini.
Suara.com - Harga Bitcoin kembali perkasa di tengah konflik perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Mengutip data Indodax, aset kripto itu kini harganya tembus 79.500 dolar AS, setelah sempat terkoreksi ke kisaran 74.000 dolar AS di awal pekan.
Indodax menilai penguatan ini terjadi justru saat konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Iran dilaporkan menolak melanjutkan negosiasi dengan AS, meski sebelumnya sempat ada upaya perpanjangan gencatan senjata.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pergerakan Bitcoin tidak lagi semata dipengaruhi sentimen risiko global, melainkan juga kekuatan permintaan yang semakin solid, terutama dari investor institusional.
Arus dana besar tercatat terus mengalir ke pasar kripto. Sepanjang pekan, produk spot Bitcoin ETF mencatat akumulasi dana sekitar 250,22 juta dolar AS, dengan total dana kelolaan mencapai 57,95 miliar dolar AS. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap Bitcoin tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai kondisi ini mencerminkan perubahan struktur pasar kripto yang semakin matang.
Ia menjelaskan, pergerakan Bitcoin saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek, tetapi juga oleh permintaan yang semakin konsisten dari investor institusional, yang terlihat dari arus masuk melalui produk spot ETF.
"Di tengah ketidakpastian global, kondisi ini justru dimanfaatkan oleh sebagian investor sebagai momentum akumulasi. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menopang harga, meskipun volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi," ujar Antony seperti dikutip, Jumat (24/4/2026).
Selain faktor geopolitik, dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat juga turut memengaruhi pergerakan pasar. Ketidakpastian arah suku bunga di tengah inflasi yang belum sepenuhnya stabil membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Meski begitu, meningkatnya penerimaan terhadap aset digital sebagai bagian dari sistem keuangan modern menjadi sentimen positif bagi prospek jangka panjang industri kripto.
Baca Juga: Investasi Saham RI, AS, Kripto, hingga Reksa Dana Kini Bisa Diakses dari Satu Aplikasi
Dari sisi teknikal, lonjakan harga Bitcoin juga dipicu oleh fenomena short squeeze, di mana banyak posisi jual terpaksa ditutup saat harga mulai naik. Hal ini mendorong permintaan dalam waktu singkat dan mempercepat kenaikan harga.
Secara keseluruhan, kombinasi faktor geopolitik, makroekonomi, serta masuknya dana institusional menunjukkan bahwa Bitcoin mulai dilirik sebagai alternatif di tengah ketidakpastian global.
“Bagi kami melihat kondisi ini sebagai bagian dari dinamika pasar yang perlu disikapi secara bijak. Sehingga, kami mengimbau agar setiap keputusan investasi tetap didasarkan pada pemahaman yang matang serta pengelolaan risiko yang terukur," tutup Antony.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Jadi Deputi Pengawasan BGN, Ketut Sumedana Tak Lagi Jabat Kajati Sumsel
-
Cuaca Tak Menentu Jadi Momok Petani Rumput Laut Nunukan
-
Shin Tae-yong Resmi Dihukum 10 Tahun, Bagaimana Nasibnya di Persija Jakarta?
-
Pasangan Pencuri Gasak Vario Karyawan RSUD Jombang di Depan Kamar Mayat
-
OJK Integrasikan APPK dan IASC untuk Lindungi Nelayan dari Teror Pinjol Ilegal
-
Palsukan Dokumen Sporadik Tanah, Pria di Bandar Lampung Masuk Penjara
-
5 Zodiak Paling Beruntung Akhir Pekan Ini 25-26 Juli 2026, Keuangan Bikin Pede
-
Skincare Apa yang Bagus untuk Usia 50 Tahun ke Atas? Ini yang Wajib Ada
-
Suhardiman Amby Disebut Kumpulkan 46.500 Dolar Singapura untuk Menhut Raja Juli
-
Gesture Pegang Kerah Saat Masuk Rutan KPK, Febrie Adriansyah Stres, Cemas atau Emosi?