Bisnis / Energi
Senin, 27 April 2026 | 10:27 WIB
Ketegangan di jalur perdagangan minyak paling vital dunia kembali memicu naiknya harga minyak mentah dunia. Foto BBC.
Baca 10 detik
  • Brent naik 2,05% ke USD 107,49 akibat gagalnya negosiasi damai AS-Iran dan isu Selat Hormuz.
  • Trump batalkan utusan ke Pakistan, picu kekhawatiran tersendatnya pasokan minyak global.
  • Goldman Sachs naikkan proyeksi Brent ke USD 90 menyusul risiko guncangan energi di Timur Tengah.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia kembali melanjutkan tren "rally" pada perdagangan Senin (28/4/2024). Lonjakan hampir 2 persen ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik menyusul buntunya negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta gangguan logistik di jalur vital Selat Hormuz.

Mengutip laporan Reuters, minyak mentah berjangka Brent meroket USD 2,16 atau 2,05 persen ke level USD 107,49 per barel. Ini merupakan posisi tertinggi sejak awal April lalu. Setali tiga uang, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS juga terkerek USD 1,77 atau 1,88 persen ke angka USD 96,17 per barel.

Tren penguatan ini menyambung performa impresif pekan lalu, di mana Brent dan WTI masing-masing telah mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 17 persen dan 13 persen.

Meredupnya harapan damai menjadi motor utama kenaikan harga. Kabar terbaru menyebutkan, Presiden AS Donald Trump membatalkan kunjungan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad, Pakistan. Padahal, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, dilaporkan sudah menginjakkan kaki di Pakistan untuk memulai dialog.

Analis pasar IG, Tony Sycamore menilai langkah Washington tersebut memberikan tekanan psikologis luar biasa bagi pasar.

"Langkah ini mengembalikan kendali sepenuhnya ke tangan Iran, dan waktu terus berjalan dengan cepat," ujar Sycamore.

Ia memperingatkan, jika ketegangan terus berlanjut, Teheran kemungkinan terpaksa menutup ladang minyak tua mereka apabila fasilitas penyimpanan sudah menyentuh batas maksimal.

Merespons situasi yang kian tak menentu di Timur Tengah, raksasa perbankan investasi Goldman Sachs langsung merevisi ke atas proyeksi harga minyak mereka. Brent diprediksi bakal nangkring di level USD 90 per barel dan WTI di USD 83 per barel pada kuartal keempat.

Dalam laporannya, tim analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven menekankan bahwa risiko ekonomi saat ini jauh melampaui perkiraan awal.

Baca Juga: Identitas dan Kronologis Penangkapan Penembak di Acara Gala Dinner Donald Trump

"Ada risiko kenaikan bersih terhadap harga minyak dan produk olahan yang luar biasa tinggi. Kita menghadapi skala guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya," tegas Struyven.

Kombinasi antara tersendatnya pasokan di Selat Hormuz dan kegagalan diplomasi kini membuat pasar energi global berada dalam posisi siaga satu.

Load More