- Perkuat daya saing vaksin RI di pasar global lewat standar WHO.
- Jadi modal penting Bio Farma percepat ekspor produk biologi ke mancanegara.
- Farma fokus pada ketahanan kesehatan nasional dan diplomasi global.
Suara.com - PT Bio Farma (Persero) terus tancap gas dalam memperkuat posisinya sebagai pemain kunci di industri life science global. Langkah terbaru, raksasa farmasi pelat merah ini melakukan audiensi strategis dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) di Jakarta, Senin (27/4/2026), guna menyelaraskan visi ketahanan kesehatan nasional.
Pertemuan tingkat tinggi ini dihadiri langsung oleh Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, dan Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya. Fokus utamanya jelas: Memanfaatkan status BPOM sebagai WHO Listed Authority (WLA) untuk mendongkrak daya saing produk biologi Indonesia di pasar internasional.
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menegaskan bahwa pengakuan WHO terhadap sistem regulatori BPOM adalah "karpet merah" bagi industri domestik.
"Pengakuan ini bukan hanya kebanggaan bagi regulator, tapi modal penting bagi industri nasional untuk semakin dipercaya di pasar global. Sinergi dengan BPOM memastikan produk kami tetap memenuhi standar keamanan dan mutu internasional," ujar Shadiq dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma kini mengemban misi transformasi yang lebih besar. Perusahaan tidak hanya mengejar performa bisnis, tetapi juga menjadi ujung tombak diplomasi kesehatan Indonesia di kawasan ASEAN, Afrika, hingga Timur Tengah.
Status WLA yang disandang BPOM diharapkan mampu memangkas birokrasi registrasi produk di negara tujuan ekspor. Hal ini krusial mengingat peta pengadaan vaksin dunia mulai bergeser ke arah pendekatan subregional dan bilateral.
"Kami berkomitmen memperkuat peran sebagai BUMN strategis. Ke depan, kolaborasi dengan BPOM akan terus ditingkatkan agar produk kesehatan Indonesia semakin kompetitif dan terpercaya," tambah Shadiq.
Melalui transfer teknologi dan pengembangan kapasitas, Bio Farma optimistis kemandirian kesehatan Indonesia bukan sekadar wacana, melainkan kontribusi nyata bagi ketahanan vaksin global, terutama bagi negara-negara berkembang.
Baca Juga: Sembilan dari 10 Pangan Kemasan Tinggi GGL, BPOM: Bukti Penting Penyempurnaan Kebijakan Pangan Sehat
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Pelatih Indonesia All Stars Minta Pemain Jangan Minder Saat Tantang Aston Villa
-
Promo RI: Belanja Kebutuhan Harian di Farmers Market dan Pasarina Dapet Diskon Besar!
-
Raih Opini WTP BPK, Purbaya Klaim Jadi Bukti Fiskal Sehat
-
Mendiktisaintek Didesak Tindak Lanjuti Rekomendasi Irjen soal Dugaan Plagiasi Guru Besar Unsoed
-
Bayar Cicilan Kendaraan Pakai BRImo Bisa Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya!
-
Bea Cukai Ungkap Penerimaan Negara dari Ekspor Sawit Pangkalan Bun Tembus Rp 1,74 Triliun
-
Sempat Sulitkan Timnas Indonesia, John Herdman Angkat Topi Buat Timor Leste
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Di Balik Kemenangan Gugatan MBG, Putusan MK Dinilai Sarat Kompromi Politik
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular