- Kementerian Kesehatan menggandeng organisasi keagamaan untuk meningkatkan cakupan imunisasi dan mengatasi misinformasi di berbagai wilayah Indonesia sejak April 2026.
- Tokoh agama berperan meluruskan persepsi keliru masyarakat terkait vaksinasi guna menekan risiko keparahan penyakit dan angka kematian.
- Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor serta edukasi media untuk memperkuat investasi kesehatan jangka panjang nasional.
Suara.com - Upaya meningkatkan cakupan imunisasi di Indonesia kini tidak hanya bertumpu pada fasilitas kesehatan, tetapi juga menggandeng kekuatan sosial di masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mulai melibatkan organisasi keagamaan untuk menghadapi tantangan besar berupa misinformasi dan keraguan publik terhadap vaksin.
Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Indri Yogyaswari, mengatakan kolaborasi ini menjadi strategi penting untuk menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini masih ragu terhadap imunisasi.
"Kita kemarin itu memanfaatkan momen campak. Kita rangkul teman-teman dari NU, dari Muhammadiyah, terus yang dari perempuannya itu dari Aisiyah sama Fatayat NU," kata Indri di Jakarta, Jumat (24/4/2026), dikutip dari ANTARA.
Menurut Indri, para pemuka agama pada dasarnya tidak menolak imunisasi. Namun, peran mereka dibutuhkan untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada komunitasnya secara lebih efektif dan kontekstual.
Ia menjelaskan, tantangan terbesar dalam program imunisasi bukan hanya akses, tetapi juga persepsi. Masih ada anggapan bahwa imunisasi tidak penting, keraguan terkait status halal vaksin, hingga pandangan fatalistik bahwa penyakit adalah takdir yang tidak bisa dicegah.
"Misalnya juga, kan saya kebetulan Muslim ya. Jadi 'sakit itu udah takdir'. Jadi udah qadarullah orang sakit. Jadi kita mau upaya apapun untuk ini, itu nanti tidak akan terlalu banyak bermakna untuk menghindari sakit itu," ujarnya.
Padahal, lanjut Indri, pemahaman tersebut perlu diluruskan. Imunisasi memang tidak sepenuhnya mencegah seseorang dari penyakit, tetapi terbukti mampu menekan tingkat keparahan, risiko kematian, serta mencegah penularan ke orang lain.
Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono turut menekankan pentingnya peran media dalam memperkuat edukasi publik.
"Kita lihat bahwa cerita-cerita tentang cacar, polio, kemudian penyakit-penyakit lain, itu kematiannya sangat besar. Dan kalau sudah bisa tereradikasi, menjadi hilang dari permukaan bumi," kata Dante.
Baca Juga: Aturan Label Nutri Level GGL Berlaku, Pemerintah Beri Masa Transisi 2 Tahun untuk Industri
Ia menyampaikan tiga peran kunci media dalam mendukung program imunisasi: menjadi edukator yang baik, menjernihkan informasi di tengah maraknya hoaks, serta menyajikan informasi yang akurat dan terkini.
Dukungan terhadap imunisasi juga datang dari komunitas global. Deputy Resident Representative UNDP Indonesia, Sujala Pant, menegaskan bahwa vaksinasi merupakan salah satu intervensi kesehatan paling efektif dan efisien yang pernah ada.
"Tiap dolar yang kita investasikan untuk imunisasi, ada return sebesar 52 dolar di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah," kata Sujala.
Ia menambahkan, secara global, vaksinasi anak diperkirakan mampu mencegah sekitar 4 juta kematian setiap tahun. Angka ini menunjukkan bahwa imunisasi bukan sekadar program kesehatan, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas hidup dan ketahanan sistem kesehatan.
Dengan masih adanya tantangan kepercayaan publik, kolaborasi lintas sektor—termasuk dengan tokoh agama—menjadi kunci untuk memastikan pesan kesehatan tidak berhenti di kebijakan, tetapi benar-benar diterima dan dijalankan oleh masyarakat luas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Prabowo Harus Diturunkan? Kritik Keras Saiful Mujani soal Ancaman Konstitusi dan Demokrasi
-
Rekaman Mengerikan Dua Pesawat Nyaris Adu Banteng di Bandara JFK
-
Belum Ada APAR untuk Mobil Listrik, DPRD DKI Peringatkan Risiko Kebakaran
-
Cara Culas Prajurit AS Untung Rp6,5 Miliar dari Operasi Penangkapan Nicolas Maduro
-
Peringati Hari KI Sedunia, DJKI Gelar Layanan di Car Free Day Serentak 33 Provinsi
-
Babak Baru Tragedi Benhil: Polisi Bidik Agen dan Majikan Buntut PRT Tewas Terjun dari Lantai 4!
-
Gatot Nurmantyo dan Eks Panglima TNI Bahas Izin Lintas Udara, Menhan Sjafrie: Kepentingan Nasional
-
Teori Konspirasi Misteri Kematian dan Hilangnya Ilmuwan Riset Sensitif di AS
-
Nama Teddy hingga Maruli Diseret, Saiful Mujani Kritik Kebijakan Presiden Perluas Peran TNI di Sipil
-
AS Siapkan Opsi Serangan Baru ke Iran, Targetkan Selat Hormuz hingga Infrastruktur Militer