News / Nasional
Jum'at, 24 April 2026 | 15:32 WIB
Ilustrasi vaksinasi. (Elements Envato)
Baca 10 detik
  • Kementerian Kesehatan menggandeng organisasi keagamaan untuk meningkatkan cakupan imunisasi dan mengatasi misinformasi di berbagai wilayah Indonesia sejak April 2026.
  • Tokoh agama berperan meluruskan persepsi keliru masyarakat terkait vaksinasi guna menekan risiko keparahan penyakit dan angka kematian.
  • Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor serta edukasi media untuk memperkuat investasi kesehatan jangka panjang nasional.

Suara.com - Upaya meningkatkan cakupan imunisasi di Indonesia kini tidak hanya bertumpu pada fasilitas kesehatan, tetapi juga menggandeng kekuatan sosial di masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mulai melibatkan organisasi keagamaan untuk menghadapi tantangan besar berupa misinformasi dan keraguan publik terhadap vaksin.

Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Indri Yogyaswari, mengatakan kolaborasi ini menjadi strategi penting untuk menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini masih ragu terhadap imunisasi.

"Kita kemarin itu memanfaatkan momen campak. Kita rangkul teman-teman dari NU, dari Muhammadiyah, terus yang dari perempuannya itu dari Aisiyah sama Fatayat NU," kata Indri di Jakarta, Jumat (24/4/2026), dikutip dari ANTARA.

Menurut Indri, para pemuka agama pada dasarnya tidak menolak imunisasi. Namun, peran mereka dibutuhkan untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada komunitasnya secara lebih efektif dan kontekstual.

Ia menjelaskan, tantangan terbesar dalam program imunisasi bukan hanya akses, tetapi juga persepsi. Masih ada anggapan bahwa imunisasi tidak penting, keraguan terkait status halal vaksin, hingga pandangan fatalistik bahwa penyakit adalah takdir yang tidak bisa dicegah.

"Misalnya juga, kan saya kebetulan Muslim ya. Jadi 'sakit itu udah takdir'. Jadi udah qadarullah orang sakit. Jadi kita mau upaya apapun untuk ini, itu nanti tidak akan terlalu banyak bermakna untuk menghindari sakit itu," ujarnya.

Padahal, lanjut Indri, pemahaman tersebut perlu diluruskan. Imunisasi memang tidak sepenuhnya mencegah seseorang dari penyakit, tetapi terbukti mampu menekan tingkat keparahan, risiko kematian, serta mencegah penularan ke orang lain.

Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono turut menekankan pentingnya peran media dalam memperkuat edukasi publik.

"Kita lihat bahwa cerita-cerita tentang cacar, polio, kemudian penyakit-penyakit lain, itu kematiannya sangat besar. Dan kalau sudah bisa tereradikasi, menjadi hilang dari permukaan bumi," kata Dante.

Baca Juga: Aturan Label Nutri Level GGL Berlaku, Pemerintah Beri Masa Transisi 2 Tahun untuk Industri

Ia menyampaikan tiga peran kunci media dalam mendukung program imunisasi: menjadi edukator yang baik, menjernihkan informasi di tengah maraknya hoaks, serta menyajikan informasi yang akurat dan terkini.

Dukungan terhadap imunisasi juga datang dari komunitas global. Deputy Resident Representative UNDP Indonesia, Sujala Pant, menegaskan bahwa vaksinasi merupakan salah satu intervensi kesehatan paling efektif dan efisien yang pernah ada.

"Tiap dolar yang kita investasikan untuk imunisasi, ada return sebesar 52 dolar di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah," kata Sujala.

Ia menambahkan, secara global, vaksinasi anak diperkirakan mampu mencegah sekitar 4 juta kematian setiap tahun. Angka ini menunjukkan bahwa imunisasi bukan sekadar program kesehatan, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas hidup dan ketahanan sistem kesehatan.

Dengan masih adanya tantangan kepercayaan publik, kolaborasi lintas sektor—termasuk dengan tokoh agama—menjadi kunci untuk memastikan pesan kesehatan tidak berhenti di kebijakan, tetapi benar-benar diterima dan dijalankan oleh masyarakat luas.
 
 
 

Load More