Bisnis / Inspiratif
Jum'at, 01 Mei 2026 | 07:44 WIB
Owner rumah makan Jejamuran, Ratidjo Hardjo Suwarno, tersenyum usai menceritakan perjalanan bisnisnya, Selasa (14/4/2026). (Suara.com/Irwan Febri)
Baca 10 detik
  • Ratidjo Hardjosuwarno mendirikan rumah makan Jejamuran di Sleman pada tahun 2006 untuk mempromosikan olahan kuliner berbahan dasar jamur.
  • Ia melakukan edukasi intensif selama tiga tahun guna mengatasi stigma negatif masyarakat mengenai keamanan konsumsi makanan jamur.
  • Berkat bantuan modal Bank BRI, usaha Ratidjo berkembang pesat hingga meraih berbagai penghargaan nasional dan dikunjungi tokoh penting.

Suara.com - Di saat banyak orang memilih menikmati masa pensiun dengan beristirahat dan bersantai, langkah berbeda justru diambil oleh Ratidjo Hardjo Suwarno. Pada usia yang tak lagi muda, ia yang awalnya petani jamur memilih memulai usaha rumah makan bernama Jejamuran di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ratidjo lahir pada 16 April 1944. Pengalaman hidupnya terbilang panjang, mulai dari menjabat sebagai kepala produksi di PT Magoredjo, kepala perkebunan PT Kebun Parompong, hingga memimpin PT Tuwuhagung.

Namun, alih-alih pensiun dengan nyaman, ia justru memulai perjalanan baru pada 2006 saat usianya menginjak 62 tahun.

Ratidjo memilih jalur yang tidak biasa, berjualan makanan berbahan dasar jamur, yang saat itu masih dianggap asing dan bahkan menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.

Perjalanan awalnya pun tidak mudah. Ratidjo memasarkan produknya dari rumah ke rumah, meninggalkan status dan jabatan yang pernah dirinya sandang. Ia menanggalkan gengsi demi memperkenalkan usahanya.

"Saya jual pertama tidak ada yang mau beli, takut keracunan, takut mati. Akhirnya saya keliling rumah ke rumah. Mantan pimpinan perusahaan, dari rumah ke rumah, tidak semua orang bisa seperti saya. Saya tidak pernah sakit hati, saya tidak punya ego," kata Ratidjo menceritakan.

Ratidjo Hardjo Suwarno saat menceritakan perjalanan bisnisnya di ruang meeting rumah makan Jejamuran, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (14/4/2026). (Suara.com/Irwan Febri)

Selama hampir tiga tahun, ia bersama sang istri terus menawarkan olahan jamur sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat. Berbagai penolakan dan komentar negatif tidak membuatnya mundur.

"Jual rumah ke rumah, tujuannya edukasi. Kita jelaskan jamur sehat, tidak beracun. Hampir 3 tahun sosialisasi dengan masyarakat makan jamur," lanjutnya.

"Ada omongan tidak enak, menyakitkan, itu tidak mudah. Apalagi yang pernah makan jamur kemudian alergi. Karena itu diperlukan kesabaran yang luar biasa. Tapi setelah itu saya ketemu ibu-ibu arisan, saya masuk sekolah ketemu guru, datang ke kantor kelurahan hingga kabupaten. Itu memulai awalnya seperti itu," tuturnya menambahkan.

Baca Juga: Ikhtiar Mbah Kibar Melawan Sita Bank dengan Goresan Kuas, Bukan Belas Kasihan

Potret lawas owner Jejamuran, Ratidjo Hardjo Suwarno, ketika memberikan edukasi kepada pengunjung mengenai jamur. (Dok. Pribadi)

Perlahan, usahanya mulai menemukan jalan. Ratidjo kemudian membuka warung yang tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga pengalaman dan edukasi jamur bagi pengunjung.

"Saya bikin warung. Tamu saya ajak ke kebun, saya cerita. itu mulut ke mulut, akhirnya banyak datang ke Jejamuraan," ungkapnya lagi.

Berkembang dengan Modal Terbatas

Seiring meningkatnya minat pengunjung, Ratidjo Hardjosuwarno mulai mengembangkan usahanya. Namun, keterbatasan modal menjadi tantangan besar.

Saat itu, ia bahkan hanya memiliki Rp200.000 untuk menambah meja dan kursi bagi tamu.

Kolase potret lawas rumah makan Jejamuran di Sleman, DI Yogyakarta. (Dok. Pribadi)

Upayanya mencari tambahan modal ke sejumlah bank sempat menemui jalan buntu. Ia dianggap belum layak mendapatkan pinjaman karena usahanya dinilai berisiko tinggi.

Load More