- Harga emas Antam pada 1 Mei 2026 mengalami penurunan signifikan menjadi Rp2.769.000 per gram di pasar domestik.
- Harga emas dunia turut melemah ke kisaran US$4.618 hingga US$4.621 per ons troy pada perdagangan pagi.
- Pergerakan harga dipengaruhi kebijakan suku bunga The Fed, nilai tukar dolar AS, serta ketegangan geopolitik global.
Suara.com - Pada Jumat, 1 Mei 2026, pasar emas domestik dan global menunjukkan pergerakan yang cukup dinamis di awal bulan. Harga emas batangan PT Antam Tbk (ANTM) hari ini diperkirakan bergerak fluktuatif, dengan tren cenderung melemah setelah mengalami penurunan signifikan pada akhir April.
Berdasarkan pantauan dari laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam per gram sempat anjlok sekitar Rp15.000 menjadi level Rp2.769.000 per gram.
Harga emas juga bertahan di kisaran Rp2,76 juta hingga Rp2,79 juta per gram, tergantung ukuran batangan dan lokasi pembelian.
Di pasar Pegadaian, harga emas Antam juga mengalami penurunan serupa. Sementara itu, harga emas dunia (spot gold) berada di kisaran US$4.618 – US$4.621 per ons troy pada perdagangan pagi hingga siang WIB.
Harga ini turun tipis sekitar US$2,40 dibandingkan penutupan sebelumnya, meski sempat menguat karena pelemahan dolar AS dan aksi beli saat koreksi.
Secara keseluruhan, harga emas dunia masih berada di level tinggi sepanjang tahun 2026, dengan catatan historis sempat menyentuh atas US$5.000–5.600 per ons di awal tahun.
Faktor Penyebab Pergerakan Harga
Beberapa faktor utama memengaruhi harga emas pada awal Mei 2026:
1. Kebijakan Bank Sentral AS (The Fed)
Baca Juga: Tak Dapat Emas, Ekspresi Dara Arafah saat Unboxing Suvenir Nikahan El-Syifa Jadi Sorotan
Ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed menjadi penentu utama. Jika suku bunga tetap hawkish atau tidak turun sesuai harapan, tekanan terhadap emas sebagai aset non-yield akan meningkat. Sebaliknya, sinyal pelonggaran moneter bisa mendorong rebound harga.
2. Nilai Tukar Dolar AS
Emas dan dolar memiliki hubungan terbalik. Pelemahan indeks dolar AS (DXY) baru-baru ini memberikan dukungan bagi harga emas. Namun, jika dolar menguat kembali karena data ekonomi AS yang solid, emas berpotensi melemah lebih lanjut.
3. Geopolitik dan Risiko Global
Ketegangan di berbagai kawasan masih menjadi pendorong safe-haven demand. Meski ada tanda-tanda mereda di beberapa konflik, ketidakpastian fiskal AS, defisit anggaran, dan isu perdagangan tetap membuat investor melirik emas sebagai pelindung nilai.
4. Permintaan Fisik dan Bank Sentral
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
Terkini
-
Purbaya Akui China Sempat Khawatir soal Kondisi Fiskal RI
-
Simulasi Krisis Siber Imersif Mulai Digaungkan kala Maraknya Lonjakan Serangan
-
Mulai Pamer Kinerja, Dony Oskaria Ungkap BUMN Ini Laba Bersihnya Tumbuh 380%
-
MBG Dihentikan Saat Libur Sekolah, Pengusaha Protes: Bertentangan SK Kepala BGN Dadan Hindayana
-
Gencar Gaet Nasabah Baru, Begini Jurus Emiten AGRO
-
BBM Swasta Mulai Muncul Lagi, BP Sudah Jual Bensin Saat Shell dan Vivo Masih Sepi
-
Sulap 4 Bandara, InJourney Airports Kejar Standar Layanan Kelas Dunia
-
Anak Usaha Emiten MPMX Masuk Bisnis Penyewaan Kendaraan Listrik
-
Investor Asing Jual Saham Rp893 Miliar, BBCA dan DSSA Paling Banyak
-
BI Naikkan Lagi Suku Bunga, Mirae Asset: Benteng Terakhir Jaga Rupiah!