- Gubernur BI, Perry Warjiyo, bertemu investor di Singapura untuk membahas penguatan stabilitas nilai tukar rupiah dan ekonomi Indonesia.
- BI menerapkan bauran kebijakan moneter terintegrasi untuk memitigasi risiko global serta menjaga inflasi tetap berada dalam target sasaran.
- Sinergi kebijakan moneter dan fiskal diproyeksikan menjaga pertumbuhan ekonomi nasional tetap solid di tengah berbagai tantangan ketidakpastian global.
Suara.com - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, melakukan pertemuan strategis dengan sejumlah investor di Singapura.
Dalam kesempatan tersebut, Perry menekankan komitmen kuat Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan dinamika geopolitik di Timur Tengah, melalui penguatan strategi kebijakan moneter yang adaptif.
Perry menjelaskan bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia kini telah berevolusi menjadi sebuah bauran kebijakan yang terintegrasi (integrated monetary policy mix) untuk memitigasi berbagai risiko eksternal.
"Strategi ini mencakup penyesuaian struktur suku bunga pasar melalui kenaikan imbal hasil (yield) instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), guna menjaga daya tarik aset domestik dan memastikan kondisi ekonomi Indonesia tetap tangguh bagi para investor global," katanya dalam siaran pers, Senin (4/5/2026).
Dalam paparannya, Perry menguraikan tiga pilar utama kebijakan yang dijalankan Bank Indonesia saat ini.
Pertama, kebijakan suku bunga yang difokuskan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran.
Kedua, stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing secara rutin guna mencegah pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan harga di dalam negeri.
Ketiga, pengelolaan likuiditas domestik yang ketat untuk menjamin kecukupan sistem keuangan nasional.
"Ketiga instrumen ini dijalankan secara bersamaan dan saling melengkapi. Ini mencerminkan pendekatan kami yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap dinamika global yang sangat cepat berubah," ujar Perry Warjiyo.
Baca Juga: Mulai Hari Ini Belanja di China Bisa Pakai QRIS
Lebih lanjut, sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal turut menjadi faktor kunci penguat ketahanan ekonomi nasional.
Berkat koordinasi erat antara Pemerintah dan BI, inflasi pada tahun 2026 diperkirakan tetap terkendali pada kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap solid pada rentang 4,9 hingga 5,7 persen, yang menunjukkan resiliensi domestik yang luar biasa di tengah tekanan global.
Selain fokus pada kebijakan moneter, BI juga memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan.
Salah satunya adalah melalui pemberian insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) bagi perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas.
Di sisi lain, digitalisasi sistem pembayaran terus dipercepat melalui pengembangan QRIS, transaksi lintas negara berbasis mata uang lokal (Local Currency Transactions), serta penguatan infrastruktur pembayaran ritel guna meningkatkan inklusi keuangan.
Dia menegaskan bahwa sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci utama dalam menjaga resiliensi ekonomi Indonesia menghadapi tantangan dunia.
Fondasi fundamental kokoh dan kebijakan yang kredibel menjadikan Indonesia tetap sebagai destinasi investasi yang menjanjikan, didukung oleh penguatan stabilitas nilai tukar rupiah sebagai prioritas utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Berita Terkait
-
3 Jurus Ampuh BI Jaga Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh Meski Dunia Bergejolak
-
OJK dan BEI Bongkar Data Pemilik Saham RI, Berharap Genjot Transparansi
-
Kunjungan Kerja ke AS, Purbaya Yakin Dana Asing Bakal Lebih Banyak Masuk Indonesia
-
Temui 18 Investor Besar di AS, Purbaya: Mereka Bingung Kenapa Kita Tumbuh Cepat
-
IMF Puji RI Jadi Titik Terang' Ekonomi Dunia, Gubernur BI Perry Warjiyo Beberkan Rahasianya
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan