- Gubernur BI menyatakan ketahanan ekonomi Indonesia tetap kuat menghadapi ketidakpastian global melalui sinergi kebijakan moneter dan fiskal yang kredibel.
- Pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama dengan mitra internasional guna menjaga kepercayaan investor serta mendukung ekspansi bisnis di tanah air.
- Bank Indonesia berkomitmen melakukan kalibrasi kebijakan antisipatif untuk memitigasi risiko global dan menjaga pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa ketahanan ekonomi nasional Indonesia tetap terjaga kuat meski dihadapkan pada tingginya ketidakpastian global.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, memaparkan tiga faktor kunci yang menjadi penopang stabilitas ekonomi Indonesia.
Ketiga faktor tersebut meliputi kredibilitas kebijakan, kemampuan adaptasi terhadap dinamika global, serta penguatan kemitraan internasional.
“Pertama adalah konsistensi dan sinergi kebijakan moneter, fiskal, serta stabilitas sistem keuangan yang dijalankan secara kredibel,” ujar Gubernur BI dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Faktor kedua adalah kemampuan otoritas untuk terus beradaptasi dan menyesuaikan kerangka kebijakan seiring dengan perubahan dinamika global yang cepat.
Sementara faktor ketiga adalah pentingnya penguatan kerja sama internasional, terutama dengan mitra strategis seperti Amerika Serikat dan lembaga multilateral lainnya.
Dalam agenda tersebut, Gubernur BI bersama Menteri Keuangan RI turut melakukan pertemuan intensif dengan para pelaku bisnis yang tergabung dalam US-ASEAN Business Council dan US Chamber of Commerce.
Interaksi langsung ini dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan sektor swasta, khususnya perusahaan asal AS yang beroperasi di kawasan Asia Tenggara.
Indonesia menegaskan bahwa kinerja ekonominya tetap berdaya tahan (resilient) di tengah berbagai krisis. Hal ini menjadi sinyal positif bagi para investor untuk terus menanamkan modal dan memperluas ekspansi bisnis di tanah air.
Baca Juga: Belanja Lebaran 2026 Cetak Rekor, Kelas Menengah dan Gen Z Jadi Penggerak Ekonomi Indonesia
Selain pertemuan bisnis, Gubernur BI juga melakukan diskusi mendalam dengan First Deputy Managing Director (FDMD) IMF, Dan Katz.
Fokus pembicaraan keduanya tertuju pada perkembangan geopolitik dan risiko ketidakpastian global yang masih membayangi.
IMF menyoroti bahwa risiko global saat ini tidak hanya bersumber dari fluktuasi harga minyak mentah, tetapi juga potensi dampak rambatan melalui gangguan rantai pasok global.
Menanggapi hal tersebut, Bank Indonesia menekankan pentingnya kalibrasi kebijakan yang bersifat antisipatif.
“Kalibrasi kebijakan kini tidak hanya berfokus pada indikator yang sudah terlihat di permukaan, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk mengantisipasi risiko-risiko yang belum sepenuhnya teridentifikasi,” imbuhnya
Sebagai langkah lanjutan, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi kebijakan internasional dan meningkatkan komunikasi dengan investor global.
Langkah strategis ini diambil guna menjaga stabilitas eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Tag
Berita Terkait
-
Warga Belanja di Korsel Bisa Bayar lewat QRIS
-
Belanja di Korea Selatan Kini Tidak Perlu Tukar Uang, Bisa Pakai QRIS
-
Bisnis Properti 2026 Diprediksi Tumbuh 8 Persen, Hunian Konsep 'Resort' Jadi Incaran Kaum Urban
-
Nuon Maksimalkan Potensi Ekonomi Nasional dengan Mendorong Perkembangan Ekosistem Digital Lifestyle
-
Rupiah Sudah Sentuh Rp17.000, Sinyal Waspada Buat Indonesia
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
Pilihan
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
Terkini
-
Perkuat PT GMM, Bulog Fokus Jaga Kepercayaan dan Kemitraan dengan Petani Tebu Blora
-
Influencer Tak Lagi Dapat PPh UMKM 0,5 Persen, Purbaya: Tak Ada Lapangan Kerja
-
PT GMM Pastikan Penyampaian Aspirasi Petani Tebu di Blora Berjalan Tertib dan Kondusif
-
Profil PT MMS, Perusahaan yang Dianggap Bandel di Industri Sawit
-
5 Asosiasi Pengusaha Buka Suara soal DSI, Ingatkan Risiko Ganggu Ekspor SDA RI
-
Tak Miliki Bisnis Sawit, Ini Profil PT MMSGI
-
Danantara Bongkar Borok BUMN, Catat Penurunan Aset Hampir Rp100 Triliun
-
Jelang DSI Beroperasi, Pengusaha Kompak Minta Jaminan Kontrak Ekspor Tetap Aman
-
Setor Ratusan Triliun ke Negara, Tapi Petani Tembakau Belum Dilindungi Hukum
-
Gaji ke-13 ASN dan Pensiun Cair Mulai Besok, Taspen Ungkap Aturan hingga Penerima yang Tak Kebagian