Bisnis / Keuangan
Kamis, 30 April 2026 | 22:48 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo meluncurkan layanan QRIS antarnegara dengan China di Jakarta, Kamis (30/4/2026). Dengan demikian mulai hari ini transaksi QRIS di China sudah sah berlaku. [Antara]
Baca 10 detik
  • Layanan QRIS  sudah bisa digunakan untuk bertransaksi di China mulai Kamis, 30 April 2026.
  • Pengguna kini dapat bertransaksi non-tunai melalui kode QR UnionPay dan Alipay di kedua negara dengan mudah dan efisien.
  • Integrasi sistem pembayaran dengan penyedia layanan lain seperti WeChat Pay sedang dilakukan secara bertahap melalui penyesuaian teknologi digital.

Suara.com - Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS sudah bisa digunakan di China mulai hari ini, Kamis (30/4/2026). Bank Indonesia (BI) mengatakan bertransaksi dengan QRIS di China kini dimungkikan melalui pemindaian kode QR.

Namun, penggunaan QR dari China saat ini masih terbatas, antara lain UnionPay QR, Alipay QR, serta unified QR berlogo UnionPay dan Alipay. Adapun QR China lainnya, termasuk WeChat Pay QR, masih dalam tahap pengembangan dan penyesuaian teknologi.

“Jadi, setiap kali kita pergi ke Tiongkok atau warga Tiongkok datang ke Indonesia, jangan gunakan uang tunai, cukup gunakan ponsel Anda dan voila, Anda bisa membeli apa saja,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo saat peluncuran di Jakarta.

Pada kesempatan yang sama, Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan Gubernur BI, serta capaian Indonesia di sektor keuangan dan digital.

Ia menilai bahwa di tengah perubahan global yang cepat, sektor perbankan perlu beradaptasi dengan inovasi, kecerdasan buatan (AI), dan digitalisasi, termasuk melalui penguatan investasi pada teknologi dan sumber daya manusia.

“Kami menantikan peluncuran resmi QRIS (QRIS yang terhubung dengan QR China) dan akan terus memperluas partisipasi serta penerimaan, dengan melibatkan lebih banyak bank dan institusi pembayaran. Kami sangat antusias dengan masa depan yang menanti kita semua,” kata Wang.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) Santoso Liem memandang kerja sama ini sebagai peluang besar, mengingat China dan Indonesia sama-sama merupakan pemain yang unggul dalam ekonomi digital.

Menurutnya, kolaborasi ini akan mendorong kemudahan transaksi, terutama seiring tingginya mobilitas wisatawan kedua negara, serta berpotensi mempererat hubungan bisnis ke depan melalui transaksi lintas negara.

Santoso mengatakan bahwa integrasi sistem pembayaran dengan China masih berlangsung secara bertahap. Meski China telah memiliki standar QR nasional, integrasi antarpenyedia layanan masih perlu dilakukan penyesuaian agar dapat terhubung secara internasional.

Baca Juga: Rupiah di Level Kritis Rp17.300, Pakar Sarankan Ini Buat Pemerintahan Prabowo

Ke depan, ujar dia, kerja sama juga mencakup dengan penyedia pembayaran lainnya di China, termasuk WeChat Pay. Namun, implementasinya masih dalam tahap eksplorasi karena memerlukan penyesuaian teknologi, terutama dalam interkoneksi sistem dan integrasi platform.

“Jadi mereka harus mengintegrasikan tentu ada sedikit adjustment. Tapi untuk Alipay dan UnionPay sudah bisa digunakan,” kata Santoso.

Load More