- Situasi Selat Hormuz mulai stabil pada 9 Mei 2026 saat Amerika Serikat menunggu jawaban resmi Iran atas proposal perdamaian.
- Kapal tanker LNG Qatar berlayar menuju Selat Hormuz dengan izin Iran sebagai upaya pembangunan kepercayaan di tengah konflik tersebut.
- Dampak perang terhadap stabilitas pasar energi global mendorong desakan internasional untuk segera mengakhiri konflik sebelum kunjungan Trump ke Tiongkok.
Suara.com - Situasi di sekitar Selat Hormuz dilaporkan mulai stabil pada Sabtu (9/5/2026) setelah sempat diwarnai rangkaian bentrokan sporadis dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi tenang ini terjadi saat Amerika Serikat tengah menunggu jawaban resmi dari Iran terkait proposal terbaru untuk mengakhiri peperangan yang telah berlangsung selama lebih dari dua bulan.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sebelumnya menyatakan pada Jumat (8/5) bahwa Washington mengharapkan respons dari Teheran dalam hitungan jam.
Namun, hingga sehari setelahnya, belum ada tanda-tanda pergerakan dari pemerintah Iran terkait tawaran tersebut. Proposal ini dirancang untuk secara formal menghentikan perang sebelum melangkah ke negosiasi isu yang lebih sensitif, termasuk program nuklir Iran.
Di tengah kebuntuan tersebut, Menlu Rubio melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, di Miami pada Sabtu (Minggu bagi WIB).
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menyebutkan bahwa kedua pihak membahas pentingnya kerja sama untuk menangkal ancaman dan mempromosikan stabilitas di Timur Tengah.
Menariknya, sebuah sinyal positif muncul di jalur laut. Data pelayaran LSEG menunjukkan sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) milik Qatar sedang berlayar menuju Selat Hormuz dengan tujuan Pakistan. Sumber internal menyebutkan bahwa pelayaran ini telah mendapat "lampu hijau" dari Iran.
Langkah ini dinilai sebagai upaya pembangunan kepercayaan (confidence building) antara Iran dengan Qatar dan Pakistan, yang keduanya bertindak sebagai mediator dalam konflik ini. Jika berhasil melintas, ini akan menjadi kapal LNG Qatar pertama yang melewati selat tersebut sejak perang pecah.
Pada hari ini, Minggu (10/5/2026) pagi, harga minyak dunia bergerak stabil di kisaran US$ 95 sementara Brent masih di leve; US$ 100.
Baca Juga: Profil Timnas Amerika Serikat: Tuan Rumah Piala Dunia yang Siap Jawab Ekspektasi Publik
Tekanan Ekonomi Global dan Kunjungan Trump ke Tiongkok
Tekanan internasional untuk segera mengakhiri konflik ini kian meningkat. Hal ini dipicu oleh rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Tiongkok pekan depan. Perang di jalur vital ini telah mengacaukan pasar energi global dan menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi dunia.
Sebagai informasi, Selat Hormuz adalah jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia. Sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026—yang dipicu serangan udara AS-Israel ke Iran—Teheran telah memblokir sebagian besar pelayaran non-Iran di wilayah tersebut.
Meski situasi saat ini tenang, gencatan senjata yang diumumkan pada 7 April lalu terus diuji oleh bentrokan fisik. Pada Jumat (8/5), pangkalan pertahanan udara Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan mencegat dua rudal balistik dan tiga drone yang diluncurkan dari Iran, mengakibatkan tiga orang luka-luka.
Di perairan, militer AS mengakui telah menyerang dua kapal yang berafiliasi dengan Iran saat mencoba memasuki pelabuhan. Pesawat tempur AS dilaporkan menembak cerobong asap kapal tersebut untuk memaksa mereka berbalik arah.
Presiden Donald Trump sendiri tetap bersikeras bahwa gencatan senjata masih berjalan meski ada riak-riak kecil. Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menuduh balik Amerika Serikat sebagai pihak yang melanggar kesepakatan.
"Setiap kali solusi diplomatik ada di atas meja, AS justru memilih petualangan militer yang ceroboh," tegas Araqchi dalam pernyataannya, dilansir via Reuters.
Di sisi internal AS, efektivitas blokade pelabuhan Iran mulai dipertanyakan. Sebuah penilaian dari CIA yang sempat bocor menyebutkan bahwa Iran diperkirakan mampu bertahan dari tekanan ekonomi blokade tersebut hingga empat bulan ke depan.
Laporan ini memicu keraguan mengenai seberapa besar tekanan yang bisa diberikan Trump kepada Teheran, terutama mengingat konflik ini mulai kurang mendapat dukungan dari pemilih di AS dan sekutu-sekutu Barat lainnya.
Berita Terkait
-
Rupiah Kembali Merosot ke Level Rp 17.382, Apa Penyebabnya?
-
AS Langgar Gencatan Senjata, Militer Iran Panaskan Mesin Siap untuk Perang Lagi
-
Perang AS-Israel vs Iran Guncang ASEAN, Presiden Filipina Desak Negara Asia Tenggara Bersatu
-
Mehdi Mahdavikia, Si Roket Iran yang Taklukan Bundesliga dan Bungkam AS di Piala Dunia
-
Harga Minyak Melonjak Usai Kontak Senjata AS-Iran di Selat Hormuz
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
BPKH Diminta Tak Jadi 'Kasir' Kementerian, DPR Dorong Dana Haji Dikelola Lebih Mandiri
-
Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan di Puncak Penas XVII 2026
-
Delapan Dekade Bertransformasi, BNI Memperluas Dampak Lewat Inovasi dan Digitalisasi
-
Pasar Aplikasi Rp 2.700 Triliun Diburu TikTok
-
DPR Apresiasi Dian Siswarini karena Dividen PT Telkom Jadi yang Tertinggi
-
Komisi Ojol Turun Jadi 8 Persen, Suara Pengguna: Tarif Jangan Naik!
-
Siap-siap IPO, BEI Anggap RANS Entertainment Lolos dari Free Float
-
PLTU Pelabuhan Ratu Terus Gunakan Co-firing Biomassa dari Sorgum
-
Influencer Tak Bisa Lagi Asal Kasih Saran Saham dan Kripto, Begini Ketentuannya
-
Dian Siswarini Dipuji DPR, Telkom Kantongi Pendapatan Rp146,7 Triliun