- Pemimpin ASEAN bertemu di Filipina pada 8 Mei untuk membahas dampak perang Iran terhadap krisis energi kawasan.
- Konflik geopolitik telah menyebabkan lonjakan biaya hidup, ancaman lapangan kerja, serta gangguan distribusi minyak dan gas.
- ASEAN mendorong koordinasi stabilitas pasokan energi melalui skema berbagi energi dan penguatan kerja sama keamanan regional.
Suara.com - Para pemimpin negara Asia Tenggara berkumpul dalam 48th ASEAN Summit di Filipina pada Jumat (8/5) untuk membahas dampak perang Iran yang memicu lonjakan harga energi di kawasan.
Konflik yang melibatkan AS-Israel vs Iran serta penutupan Selat Hormuz disebut telah mengguncang pasokan minyak dan gas bagi negara-negara Asia Tenggara.
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., mengatakan dampak perang sudah dirasakan langsung masyarakat melalui kenaikan biaya hidup dan ancaman terhadap lapangan kerja.
“Perang AS-Israel melawan Iran telah terasa melalui meningkatnya biaya hidup dan mengancam mata pencaharian, baik di negara kita maupun warga kita di Timur Tengah,” kata Marcos saat membuka pertemuan ASEAN seperti dilansir dari Al Jazeera.
Marcos mendesak negara-negara anggota ASEAN memperkuat koordinasi dan mengambil langkah bersama untuk menjaga stabilitas pasokan energi di kawasan.
ASEAN yang beranggotakan 11 negara diperkirakan akan mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Jalur laut strategis itu menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.
Draf pernyataan bersama yang bocor ke media juga menyoroti pentingnya kerja sama keamanan energi dan pangan di tengah krisis global.
Filipina diketahui mendorong pembentukan skema berbagi energi sukarela antarnegara ASEAN untuk menghadapi gangguan pasokan akibat perang Iran.
Baca Juga: Di KTT ASEAN, Prabowo Sebut Diversifikasi Energi Kini Jadi Kebutuhan Mendesak
Manila juga mempercepat rencana ASEAN Power Grid yang ditargetkan menghubungkan jaringan listrik regional pada 2045.
Dampak perang Iran mulai memukul banyak negara di Asia Tenggara.
Filipina bahkan menetapkan status darurat nasional sejak Maret akibat krisis energi.
Sementara itu, Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Malaysia menerapkan berbagai kebijakan penghematan energi, mulai dari pembatasan harga hingga skema kerja dari rumah.
Sejumlah perusahaan petrokimia di Indonesia, Thailand, dan Singapura juga mengumumkan force majeure akibat gangguan distribusi energi dan bahan baku.
Pengamat ASEAN dari NUS Law School Singapura, Tan Hsien-Li, menilai KTT kali ini kemungkinan menghasilkan langkah lebih konkret dibanding biasanya.
Berita Terkait
-
Di KTT ASEAN, Prabowo Sebut Diversifikasi Energi Kini Jadi Kebutuhan Mendesak
-
Pemerintah Indonesia dan Filipina Sepakat Kerja Sama Hilirisasi Industri Nikel
-
Harga Minyak Melonjak Usai Kontak Senjata AS-Iran di Selat Hormuz
-
Prabowo 'Pamer' Proyek 100 GW Surya RI di ASEAN, Ingatkan Ancaman Krisis Energi
-
Prabowo di KTT ASEAN: Dunia Sedang Genting, BIMP-EAGA Harus Lebih Adaptif dan Berdampak
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Argentina Darurat Wabah Hantavirus, Puluhan Orang Terjangkit
-
Rektor UI Tegaskan Kampus Tak Boleh Asal Jalankan Program Makan Bergizi Gratis
-
9 Fakta Maut Erupsi Gunung Dukono: Pendakian Terlarang Berujung Tragedi
-
Di KTT ASEAN, Prabowo Sebut Diversifikasi Energi Kini Jadi Kebutuhan Mendesak
-
Respons Kejagung Soal Vonis Bebas Tiga Terdakwa Kredit Sritex
-
Imigrasi Tangkap 210 WNA Terduga Pelaku Penipuan Investasi Daring di Batam
-
Lebih Ganas dari PMK! Ancaman Penyakit BEF Hantui Sapi Kurban di Bekasi: Telat Sehari Bisa Mati
-
Pakar UGM Tolak Kampus Ikut Kelola MBG, Khawatir Perguruan Tinggi Kehilangan Independensi
-
Rasa Haru Selimuti Rumah Duka Haerul Saleh, Peti Jenazah Diantar Para Pimpinan BPK
-
Lantai 4 Rumah Anggota BPK Haerul Saleh Hangus 80 Persen