- PT KAI bersama DJKA menutup 24 perlintasan liar dan menyempitkan 5 akses di berbagai wilayah Indonesia selama 27 April hingga 9 Mei 2026.
- Langkah percepatan penutupan perlintasan dilakukan guna menekan angka kecelakaan lalu lintas kereta api yang sering terjadi di jalur tidak terjaga.
- KAI menargetkan penanganan 1.810 titik perlintasan sebidang dari total 3.674 lokasi untuk meningkatkan standar keselamatan perjalanan kereta api di masa depan.
Suara.com - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai mempercepat penutupan dan penyempitan perlintasan sebidang liar usai kecelakaan maut KRL di Bekasi Timur yang menelan banyak korban. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menekan angka kecelakaan di jalur kereta yang selama ini banyak terjadi di perlintasan tidak terjaga.
Dalam periode 27 April hingga 9 Mei 2026, KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan dan sejumlah pemangku kepentingan telah melakukan 24 penutupan perlintasan serta 5 penyempitan akses di berbagai wilayah Indonesia.
Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia Anne Purba mengatakan percepatan penanganan perlintasan dilakukan agar insiden serupa tidak kembali terulang.
"Keselamatan di perlintasan menjadi perhatian serius karena kereta api memiliki jarak pengereman yang panjang dan tidak dapat berhenti mendadak saat terdapat hambatan di jalur," ujar Anne di Jakarta, Minggu (10/5/2026).
Penanganan dilakukan di berbagai daerah, mulai dari Jakarta dan sekitarnya, Jawa Barat, Yogyakarta, Solo Raya, Jawa Timur, hingga Sumatera. Sejumlah titik perlintasan liar dan tidak terjaga ditutup karena dinilai berisiko tinggi terhadap keselamatan masyarakat.
Di wilayah Jakarta dan sekitarnya misalnya, penutupan dilakukan di sejumlah titik seperti lintas Tigaraksa–Cikoya di Banten, Parung Panjang–Cilejit di Jawa Barat, hingga Sukabumi–Gandasoli. Sementara di Jawa Barat dilakukan penyempitan perlintasan di jalur Cicalengka–Nagreg dan penutupan akses di lintas Cireungas–Lampegan.
KAI juga menutup sejumlah perlintasan di wilayah Yogyakarta dan Solo Raya, termasuk lintas Purwosari–Wonogiri, Brambanan–Yogyakarta, hingga Wates–Rewulu. Langkah serupa dilakukan di Madiun, Blitar, Jombang, Jember, Banyuwangi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.
Berdasarkan data KAI, saat ini terdapat 3.674 perlintasan sebidang di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.810 titik menjadi fokus penanganan. Sebanyak 172 perlintasan diarahkan untuk ditutup karena kondisi jalan yang terbatas, sedangkan 1.638 titik lainnya membutuhkan peningkatan fasilitas keselamatan secara bertahap.
Data evaluasi keselamatan juga menunjukkan dalam periode 2023 hingga 2026 terdapat 948 korban akibat kecelakaan di perlintasan sebidang. Sekitar 80 persen kecelakaan terjadi di perlintasan yang belum terjaga.
Baca Juga: Kemenhub Tak Urus Prasarana Kereta Api Lagi, Diserahkan ke KAI
Selain penutupan dan penyempitan akses, KAI bersama DJKA terus melakukan pendataan perlintasan, koordinasi dengan pemerintah daerah, sosialisasi keselamatan kepada masyarakat, hingga pengembangan fasilitas keselamatan di titik prioritas.
Anne pun meminta masyarakat tidak kembali membuka akses liar yang sudah ditutup demi keselamatan bersama.
"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keselamatan di sekitar jalur rel. Perlintasan liar yang telah ditutup diharapkan tidak dibuka kembali karena penutupan dilakukan berdasarkan evaluasi keselamatan dan potensi risikonya," pungkas Anne.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anomali IHSG Pekan Ini: Indeks Melemah, Asing 'Net Buy' Jumbo
-
Tak Hanya Eksploitasi Seksual, Ashari Kiai Cabul Juga Minta Setoran Uang dari Pengikut
-
Update Harga Emas Minggu 10 Mei 2026: Antam Stabil, Galeri24 Naik, UBS Justru Turun!
-
Update Harga Emas Antam Terbaru 10 Mei 2026 dari 0,5 Gram hingga 1.000 Gram
-
Sinyal Akhir Perang? Iran Beri 'Lampu Hijau' di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
-
MBG Bisa Dijalankan Tanpa Ganggu Kondisi Fiskal, Begini Caranya
-
Asosiasi Bisnis RI - Filipina Resmi Terbentuk, Fokus Atasi Hambatan Dagang
-
Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?
-
Kisah Bambang Jadi Agen BRILink Nomor 1 di Klaten, Dari Ngontrak hingga Antarkan Anak ke Jepang
-
Dikuras untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Capai Titik Terendah Sejak 2024