Bisnis / Keuangan
Selasa, 12 Mei 2026 | 08:18 WIB
Ilustrasi tembakau. (Dok: Pexels.com)
Baca 10 detik
  • Produk tembakau alternatif terbukti secara ilmiah memperbaiki fungsi pernapasan dan jantung.
  • Risiko penyakit berasal dari asap hasil pembakaran, bukan dari zat nikotin.
  • Negara maju seperti Swedia dan Jepang sukses tekan angka perokok lewat produk alternatif.

Suara.com - Transformasi industri tembakau melalui inovasi produk alternatif kini semakin diperkuat oleh sederet bukti ilmiah internasional. Produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, hingga kantong nikotin, dinilai menjadi opsi realistis bagi perokok dewasa untuk beralih ke kebiasaan yang lebih rendah risiko melalui prinsip Tobacco Harm Reduction (THR) atau pengurangan bahaya tembakau.

Berdasarkan kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet, beralih sepenuhnya ke rokok elektronik selama 30 hari menunjukkan perbaikan signifikan pada fungsi pernapasan jangka pendek. Temuan ini senada dengan riset dari Jonathan B. Berlowitz dkk. (2022) yang menyebutkan bahwa pengguna rokok elektrik memiliki risiko penyakit kardiovaskular 30 persen hingga 40 persen lebih rendah dibandingkan perokok konvensional.

Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Profesor Tikki Pangestu, menegaskan bahwa akar masalah penyakit terkait rokok adalah hasil pembakaran (asap), bukan nikotin.

"Melalui pendekatan THR, produk tembakau alternatif menghilangkan proses pembakaran sehingga penggunanya minim terpapar zat berbahaya," ujar Prof. Tikki. Beliau juga menambahkan bahwa nikotin sendiri, menurut International Agency for Research on Cancer (IARC) dan NHS Inggris, bukanlah zat karsinogen penyebab kanker.

Data dari berbagai negara maju menunjukkan korelasi positif antara adopsi produk alternatif dengan penurunan angka perokok. Di Swedia misalnya, prevalensi penyakit terkait rokok terendah di Eropa berkat penggunaan produk alternatif secara luas, selain itu Jepang juga mencatatkan penjualan rokok konvensional merosot tajam sejak produk tembakau alternatif diperkenalkan pada 2016 dan di Selandia Baru penurunan signifikan jumlah perokok, termasuk pada komunitas Suku Maori, setelah pemerintah mendukung penggunaan produk ini sejak 2018.

Integrasi kebijakan berbasis bukti ilmiah ini diharapkan dapat membantu perokok dewasa mengambil keputusan yang lebih tepat demi meningkatkan kualitas hidup dan menekan beban kesehatan publik secara nasional.

Load More