- Produk tembakau alternatif terbukti secara ilmiah memperbaiki fungsi pernapasan dan jantung.
- Risiko penyakit berasal dari asap hasil pembakaran, bukan dari zat nikotin.
- Negara maju seperti Swedia dan Jepang sukses tekan angka perokok lewat produk alternatif.
Suara.com - Transformasi industri tembakau melalui inovasi produk alternatif kini semakin diperkuat oleh sederet bukti ilmiah internasional. Produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, hingga kantong nikotin, dinilai menjadi opsi realistis bagi perokok dewasa untuk beralih ke kebiasaan yang lebih rendah risiko melalui prinsip Tobacco Harm Reduction (THR) atau pengurangan bahaya tembakau.
Berdasarkan kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet, beralih sepenuhnya ke rokok elektronik selama 30 hari menunjukkan perbaikan signifikan pada fungsi pernapasan jangka pendek. Temuan ini senada dengan riset dari Jonathan B. Berlowitz dkk. (2022) yang menyebutkan bahwa pengguna rokok elektrik memiliki risiko penyakit kardiovaskular 30 persen hingga 40 persen lebih rendah dibandingkan perokok konvensional.
Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Profesor Tikki Pangestu, menegaskan bahwa akar masalah penyakit terkait rokok adalah hasil pembakaran (asap), bukan nikotin.
"Melalui pendekatan THR, produk tembakau alternatif menghilangkan proses pembakaran sehingga penggunanya minim terpapar zat berbahaya," ujar Prof. Tikki. Beliau juga menambahkan bahwa nikotin sendiri, menurut International Agency for Research on Cancer (IARC) dan NHS Inggris, bukanlah zat karsinogen penyebab kanker.
Data dari berbagai negara maju menunjukkan korelasi positif antara adopsi produk alternatif dengan penurunan angka perokok. Di Swedia misalnya, prevalensi penyakit terkait rokok terendah di Eropa berkat penggunaan produk alternatif secara luas, selain itu Jepang juga mencatatkan penjualan rokok konvensional merosot tajam sejak produk tembakau alternatif diperkenalkan pada 2016 dan di Selandia Baru penurunan signifikan jumlah perokok, termasuk pada komunitas Suku Maori, setelah pemerintah mendukung penggunaan produk ini sejak 2018.
Integrasi kebijakan berbasis bukti ilmiah ini diharapkan dapat membantu perokok dewasa mengambil keputusan yang lebih tepat demi meningkatkan kualitas hidup dan menekan beban kesehatan publik secara nasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Purbaya Serang Balik Ekonom: Jelek Ribut, Tinggi Ribut Juga, Maunya Apa?
-
Harga Emas Hari Ini Kompak Turun, Cek Update Terbaru di Pegadaian
-
Janji Purbaya kepada Peserta Tax Amnesty
-
Wanti-wanti OJK Jelang Pengumuman Rebalancing MSCI Hari Ini
-
Harga Minyak Sulit Turun dan Tembus US$ 104 per Barel, Pemerintah AS Terguncang
-
Ekonomi Indonesia Diprediksi Melambat di Kuartal II 2026, Ini Penyebab Utamanya
-
Jelang Pengumuman Rebalancing MSCI, IHSG Diproyeksi Masih Anjlok
-
Bursa Efek Indonesia Punya Calon Direksi Baru, Nama Bos Mandiri Sekuritas Jadi Sorotan
-
Perang Tak Kunjung Usai, Trump Sebut Proposal Perdamaian Iran Sebagai 'Sampah'
-
18 Bank di Indonesia Masuk Daftar Terbaik Dunia 2026, Siapa Paling Unggul?