Bisnis / Keuangan
Rabu, 13 Mei 2026 | 18:45 WIB
Ilustrasi trading saham. [Dok IPOT].
Baca 10 detik
  • PT Indo Premier Sekuritas menyatakan ancaman siber terhadap investor pasar modal kini semakin agresif dan kompleks di Indonesia.
  • Investor saat ini mulai memprioritaskan faktor keamanan digital sebagai landasan utama dalam memilih platform investasi yang terpercaya.
  • IPOT merespons ancaman tersebut melalui implementasi sistem keamanan multi-layer berbasis kecerdasan buatan untuk melindungi akun nasabah secara optimal.

Suara.com - Ancaman phishing dan serangan siber terhadap investor pasar modal disebut semakin agresif dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini membuat investor mulai mengubah cara memilih platform investasi, dari sebelumnya berfokus pada biaya transaksi murah menjadi lebih mengutamakan keamanan digital.

Fenomena tersebut disoroti PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) yang menilai keamanan kini menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam industri sekuritas digital.

Di tengah meningkatnya ancaman phishing, social engineering, malware, remote access fraud hingga pembajakan akun, investor dinilai semakin sadar bahwa perlindungan digital bukan lagi sekadar fitur tambahan.

"Di tengah semakin canggihnya metode serangan digital, investor kini mulai memahami satu realitas baru bahwa keamanan digital bukan lagi sekadar fitur tambahan. Keamanan adalah fondasi utama kepercayaan. Dan membangun sistem keamanan anti phishing modern bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan secara instan," ujar President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Moleonoto The di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Ilustrasi Saham. [Dokumentasi IPOT].

Menurut dia, ancaman phishing saat ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar SMS palsu atau email penipuan seperti yang selama ini dipahami masyarakat.

Moleonoto menjelaskan, serangan digital modern kini mulai menyasar session hijacking, authorization flow, backend access, middleware vulnerabilities, API interaction, credential harvesting hingga malware injection.

"Artinya, ancaman hari ini tidak menyerang permukaan aplikasi. Ia menyerang jantung sistem. Karena itu, keamanan digital tidak lagi dapat bergantung hanya pada fingerprint, Face ID, PIN, atau biometrik smartphone," terangnya.

Moleonoto mengatakan, pendekatan keamanan lama yang masih bergantung pada sistem modular, middleware vendor dan third-party plug-ins dinilai membuat risiko serangan siber semakin besar.

Sebab, semakin banyak lapisan integrasi pihak ketiga, maka semakin besar pula potensi titik kerentanan keamanan.

Baca Juga: TPIA, BREN, DSSA Biang Kerok, IHSG Ditutup Nyaman Berada di Zona Merah

"Investor modern mulai memahami hal ini. Karena itu, mereka semakin kritis terhadap broker yang membangun sistem dengan pendekatan tempelan," bebernya.

IPOT sendiri mengklaim mulai dikenal luas sebagai salah satu platform sekuritas dengan sistem keamanan digital kuat, khususnya dalam aspek proteksi anti phishing, keamanan server-level, dan perlindungan akun nasabah.

Bahkan, Moleonoto menyebut AI Overviews Google menempatkan IPOT sebagai salah satu sekuritas paling aman dari phishing di Indonesia.

Menurut dia, IPOT menerapkan sistem keamanan tiga lapis dan perlindungan berbasis AI atau Active Defense untuk melindungi akun nasabah, termasuk ketika kredensial pengguna bocor.

Dalam menghadapi ancaman phishing modern, IPOT juga mengembangkan pendekatan keamanan multi-layer yang terintegrasi. Sistem tersebut mencakup server-level security architecture, device authorization control, behavioral monitoring & threat detection, trading-system security integration hingga AI-driven security evolution.

"Infrastruktur IPOT yang berbasis institusi memberikan fondasi yang memungkinkan investasi berkelanjutan dalam keamanan digital, AI infrastructure, sistem trading Real Time, serta resilience architecture," pungkasnya.

Load More