- Kepala Ekonom Permata Bank memperkirakan defisit APBN berpotensi membengkak hingga Rp200 triliun akibat lonjakan harga minyak dan pelemahan rupiah.
- Simulasi menunjukkan kenaikan harga minyak dan depresiasi mata uang akan menekan subsidi energi, inflasi, serta ruang fiskal pemerintah Indonesia.
- Pemerintah disarankan menetapkan prioritas belanja pada sektor produktif untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan situasi geopolitik yang terjadi.
Suara.com - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyampaikan, lonjakan harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menambah beban defisit APBN hingga Rp200 triliun.
Hingga Kuartal I 2026, defisit APBN sudah mencapai Rp240,1 triliun atau setara dengan 0,93 persen dari produk domestik bruto (PDB). Pemerintah menetapkan target defisit Rp689,1 triliun atau setara 2,68 persen terhadap PDB dalam APBN 2026.
Berdasarkan simulasi perhitungan Permata Institute of Economic Research (PIER), tambahan defisit APBN diperkirakan dapat menembus lebih dari Rp200 triliun apabila rata-rata nilai tukar rupiah berada di level Rp17.400 per dolar AS dan harga minyak mentah mencapai 100 dolar AS per barel.
“Dampak dari kenaikan harga minyak mentah dan juga pelemahan nilai tukar rupiah itu dalam kondisi asumsi tertentu ini bisa mendorong perlebaran defisit anggaran yang cukup besar,” kata Josua dalam acara PIER Economic Review Kuartal I 2026 yang digelar secara virtual di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Josua menjelaskan, lonjakan harga minyak mentah tidak hanya berdampak pada biaya impor energi, tetapi juga memberi tekanan terhadap subsidi energi, inflasi, biaya logistik, hingga ruang fiskal pemerintah.
Harga minyak mentah Brent saat ini masih berada di level tinggi dan bahkan sempat mendekati rata-rata 86 dolar AS per barel sejak awal tahun. Angka tersebut jauh di atas asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN yang dipatok sekitar 70 dolar AS per barel.
Menurut dia, skenario terburuk dapat terjadi apabila konflik Timur Tengah semakin meluas dan mendorong harga minyak melampaui 130 dolar AS per barel.
Meski demikian, pemerintah saat ini masih memiliki bantalan fiskal berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp420 triliun yang dinilai masih mencukupi. Namun, kenaikan inflasi dan depresiasi rupiah berkepanjangan berpotensi menggerus ruang fiskal tersebut dalam waktu dekat.
Maka dari itu, Josua memandang pemerintah perlu menetapkan skala prioritas belanja di tengah tekanan geopolitik. Menurut dia, belanja negara ke depan perlu diarahkan pada sektor-sektor produktif agar mampu menopang pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek maupun menengah.
Baca Juga: Kurangi Subsidi BBM Alasan Menkeu Purbaya Sepakat Berikan Insentif Kendaraan Listrik Mulai Juni
“Kita berharap bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pun juga bisa lebih berkualitas ke depannya. Tentunya dengan disupport tadi oleh belanja-belanja prioritas yang juga harapannya bisa lebih prioritas lagi ke depannya,” tutupnya.
Berita Terkait
-
Rupiah Anjlok ke Rp17.500, Puan Maharani Ingatkan Pemerintah: Jangan Sampai Indonesia Terpuruk!
-
Pemerintah Bahas Gaji Manajer Koperasi Desa Merah Putih, Pendanaan Berpotensi dari APBN
-
Insentif Kendaraan Listrik Dinilai Investasi Fiskal Jangka Panjang
-
Kepala Daerah dan PPPK Tak Perlu Khawatir, Pelaksanaan Pasal 146 UU HKPD Akan Diatur Melalui UU APBN
-
Pengamat Ingatkan Efek Pelemahan Rupiah Bikin APBN Berdarah-darah
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Asisten Raffi Ahmad Duduk di Kursi Komisaris Krakatau Posco, Siapa Mufli Budi Ananda?
-
Survei: 81% Pekerja RI Merasa Gajinya Adil, Tapi Tak Semua Bahagia
-
96% Perusahaan RI Rekrut Lulusan Micro-Credentials, Gaji Dibayar Tinggi
-
Pengguna Tol Jakarta-Cikampek Wajib Tahu! Ada Perbaikan Jalan di Beberapa Titik hingga Awal Juli
-
Prabowo: Belum Ada Profesor Ekonomi yang Bisa Bantah Saya, Matematik Adalah Matematik!
-
Jembatan Donat Dukuh Atas Rampung 2028, Menhub: Enam Moda Transportasi Jakarta Akan Terintegrasi
-
Dari Pupuk ke Klinik Desa, KDMP Tamanmartani Buktikan Koperasi Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Warga
-
Kabar Baik! Stasiun JIS Akan Punya Dua Peron, Akses ke Stadion dan Ancol Makin Lancar
-
Pemerintah Diminta Perhatikan Dampak Ekonomi dalam Pembuatan Aturan soal Industri Rokok
-
Merdeka Gold Resources Ukir Sejarah, Saham EMAS Resmi Melantai di Bursa Hong Kong