Bisnis / Keuangan
Rabu, 13 Mei 2026 | 16:38 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi [Suara.com/Rina A]
Baca 10 detik
  • WBSA masuk kategori HSC karena 95,82 persen saham dikuasai segelintir pihak.
  • Status HSC bukan pelanggaran, melainkan peringatan dini (early warning) bagi investor.
  • Risiko volatilitas tinggi mengintai akibat struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi.

Suara.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menetapkan saham PT BSA Logistic Tbk (WBSA) ke dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC). Emiten pertama yang melantai di bursa pada tahun 2026 ini diketahui memiliki struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi pada segelintir pihak.

Berdasarkan data bursa, tingkat kepemilikan terkonsentrasi pada WBSA mencapai 95,82 persen dari total saham, baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat. Kondisi HSC ini mengindikasikan bahwa mayoritas saham emiten hanya dikuasai oleh kelompok atau afiliasi tertentu.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa status HSC bukanlah sebuah bentuk pelanggaran aturan pasar modal. Secara administratif, WBSA telah memenuhi ketentuan IPO, termasuk batas minimum free float sebesar 15%.

"Setelah IPO baru dihitung. Free float-nya cukup, tapi kemudian kita lihat ternyata ada konsentrasi kepemilikan. Ini menjadi informasi penting atau early warning bagi investor karena saham kategori ini sangat rentan terhadap volatilitas harga," ujar Hasan di Gedung BEI, Rabu (13/5/2026).

Senada dengan OJK, Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa pihak bursa tengah melakukan pengawasan ketat terhadap pergerakan saham WBSA. Pengawasan ini mencakup proses distribusi saat IPO hingga pola transaksi di pasar sekunder.

Investor diimbau untuk waspada, mengingat saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi cenderung mudah mengalami fluktuasi harga yang signifikan (naik-turun secara drastis) karena minimnya jumlah saham yang beredar aktif di publik.

Load More