Bisnis / Keuangan
Rabu, 13 Mei 2026 | 19:48 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan penyesuaian portofolio oleh MSCI ini merupakan dinamika pasar global yang wajar terjadi di semua negara. [Suara.com/Rina]
Baca 10 detik
  • MSCI mengeluarkan enam emiten Indonesia dari indeks Global Standard pada peninjauan berkala tanggal 12 Mei 2026.
  • Ketua Dewan Komisioner OJK menyatakan penyesuaian portofolio ini merupakan dinamika pasar global yang wajar terjadi.
  • OJK akan terus memperkuat integritas, likuiditas, dan tata kelola emiten guna meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia.

Suara.com - Penyesuaian komposisi indeks MSCI tidak hanya dialami oleh bursa saham Indonesia, tetapi juga terjadi di sejumlah negara Asia lainnya, demikian disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi.

Hal ini disampaikan Friderica menanggapi dikeluarkannya beberapa emiten Indonesia dari indeks MSCI pada Rabu (12/5/2026).

Ia mencontohkan pada MSCI Global Standard Index, Jepang mencatatkan 14 emiten keluar, Taiwan tujuh emiten keluar, Malaysia enam emiten keluar, dan Korea Selatan tiga emiten keluar. Sementara itu, China meski menambah 22 emiten baru juga mengalami keluarnya 24 emiten dari indeks.

“Jadi ini mencerminkan adanya penyesuaian global portofolio allocation dan dinamika pasar yang cukup luas di kawasan, bukan semata isu spesifik Indonesia,” kata Friderica.

Adapun MSCI, lembaga penyedia indeks global, pada hari ini mengumumkan hasil tinjauan indeks pasar Indonesia dalam MSCI May 2026 Index Review. Dalam hasil tinjauan tersebut, enam saham Indonesia resmi dikeluarkan dari daftar MSCI Global Standard Index. Keenam emiten tersebut yakni:

  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
  • PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
  • PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
  • PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Sementara itu, pada MSCI Small Cap Index, MSCI memasukkan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) ke dalam indeks small cap atau MSCI Global Small Cap Index.

Di sisi lain, MSCI menghapus sejumlah saham dari MSCI Global Small Cap Index. Emiten-emiten tersebut adalah:

  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
  • PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
  • PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK)
  • PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
  • PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)
  • PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO),
  • PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI)
  • PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)
  • PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN)
  • PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
  • PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC)
  • PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)
  • PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG)

Menurut Friderica, perubahan komposisi indeks MSCI merupakan bagian dari mekanisme peninjauan berkala yang didasarkan pada sejumlah parameter objektif, seperti kapitalisasi pasar (market capitalization), free float, likuiditas, dan dinamika harga saham.

Meski demikian, OJK memandang kondisi tersebut sebagai pengingat penting untuk terus memperkuat kualitas dan kedalaman pasar modal Indonesia.

Baca Juga: MSCI Tendang 6 Saham Indonesia dan IHSG Anjlok, OJK: Ini Awal Baru

"OJK bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus mendorong penguatan market integrity, peningkatan free float, dan likuiditas, perluasan basis investor, serta penguatan governance emiten agar daya saing pasar modal Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan," tuturnya.

Lebih lanjut, Kiki juga memastikan fundamental sektor jasa keuangan Indonesia tetap resilien dan stabil. Menurutnya, volatilitas jangka pendek maupun perubahan indeks global tidak mengubah komitmen OJK untuk terus membangun pasar yang sehat, transparan, dan kredibel bagi investor domestik maupun global.

“Ke depan, kami juga terus memperkuat koordinasi dengan BEI, SRO, dan seluruh pelaku pasar guna memastikan pasar modal Indonesia semakin attractive, liquid, dan investable dalam jangka panjang,” tambahnya.

Load More