- CORE Indonesia memproyeksikan subsidi BBM akan membengkak hingga di atas Rp 100 triliun sepanjang tahun 2026 ini.
- Peningkatan subsidi dipicu oleh pelemahan rupiah terhadap dolar AS serta tingginya harga minyak dunia saat ini.
- Kondisi tersebut berisiko memperlebar defisit anggaran melampaui batas tiga persen PDB jika pemerintah tidak melakukan penghematan anggaran.
Suara.com - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan subsidi BBM bakal membengkak hingga di atas Rp 100 triliun tahun ini.
Pembengkakan ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak dunia.
Tercatat nilai tukar dolar AS terhadap rupiah sudah menyentuh angka Rp 17.667 pada Senin (18/5/2026) sore.
Sementara, harga minyak dunia saat ini masih konsisten di atas 100 dolar AS per barel, dengan minyak mentah Brent 111,29 dolar AS per barel, dan West Texas Intermediate (WTI) 107,73 dolar AS per barel.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa besaran subsidi BBM sangat dipengaruhi oleh dua faktor eksternal, yakni harga patokan minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP) dan nilai tukar rupiah.
Faktor kurs menjadi sangat sensitif karena Indonesia saat ini merupakan negara net-importir minyak bumi.
Berdasarkan kalkulasi CORE, asumsi kurs di level Rp 17.000 per dolar AS dengan harga minyak dunia sebesar 100 dolar AS per barel, sudah memicu tambahan beban subsidi energi lebih dari Rp 100 triliun pada tahun ini.
Tekanan tersebut diproyeksikan akan semakin berat jika nilai rupiah tembus Rp 17.850 per dolar AS.
Berkaca dari situasi saat ini, CORE mengingatkan pemerintah mengambil sejumlah kebijakan guna menyelamatkan anggaran.
Baca Juga: Prabowo Mau Alutsista Makin Kuat, Purbaya: Anggaran Ada, Jumlahnya Rahasia
Ditegaskan Faisal, jika anggaran subsidi ini tidak diantisipasi, defisit anggaran dikhawatirkan bakal melebar hingga melampaui batas aman undang-undang, yaitu 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
"Kalau sampai defisit melebihi 3 persen, dampaknya bisa ke mana-mana, termasuk pelemahan rupiah," tegasnya.
Sebagai solusi, CORE mendorong pemerintah segera melakukan penghematan dan kebijakan refocusing (pengalihan) anggaran secara luar biasa. Pemerintah diminta mengevaluasi kembali program-program prioritas dan menyesuaikannya dengan kapasitas keuangan negara yang ada saat ini.
"Dan lantas tidak memajaki dengan sembarangan. Dan refocusing program-program anggaran prioritas pemerintah harus dievaluasi, dan juga disesuaikan dengan kondisi anggaran," kata Faisal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Harga Emas Pegadaian Naik di Sabtu 4 Juli 2026
-
Harga Emas Antam Stabil di Sabtu 4 Juli, Tapi
-
Ekspor Indonesia Terancam Melambat, Tarif AS dan Harga Komoditas Bayangi Semester II 2026
-
Ada Risiko Downgrade IHSG Meski Tekanan Isu MSCI Mulai Reda
-
Pertamina Tepat Belum Turunkan Harga Pertamax
-
Semester II-2026 Penuh Tekanan, Investor Saham Diminta Bersiap
-
Sinar Mas Land dan 2 Universitas Terkemuka Perluas Akses Pendidikan Global di BSD City
-
Purbaya Akhirnya Turun Tangan soal Pajak JHT usai Diprotes Buruh
-
Pasar Kripto RI Makin Dilirik, BTSE Indonesia Kini Jadi Pemain Baru
-
Transformasi Industri Rendah Karbon Digenjot demi Target Net Zero Emission 2050