- Pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.529 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026 meningkatkan beban biaya impor energi nasional.
- Ketergantungan impor minyak di atas 50 persen menyebabkan beban keuangan negara dan badan usaha membengkak akibat kurs.
- Kenaikan harga minyak dunia dan rupiah memicu penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh badan usaha mengikuti mekanisme pasar domestik.
Suara.com - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai bakal memberi tekanan besar terhadap harga bahan baku impor hingga harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia.
Kondisi ini terjadi di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah.
Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin, Prof. Hamid Paddu, mengatakan melemahnya kurs rupiah akan langsung memengaruhi biaya impor, terutama untuk kebutuhan energi dan bahan baku industri yang dibeli menggunakan dolar AS.
“Impor tentu dibeli dengan nilai mata uang valuta asing, dalam hal ini dolar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,” ujar Hamid dalam keterangannya Sabtu (16/5/2026).
Pada pertengahan Mei 2026, rupiah terus tertekan hingga menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS.
Bahkan, pada penutupan perdagangan Kamis, 14 Mei 2026, kurs rupiah berada di level Rp17.529 per dolar AS.
Menurut Hamid, tekanan terhadap harga energi semakin berat karena Indonesia masih berstatus sebagai net importir minyak sejak 2004.
Kebutuhan konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 650 ribu barel per hari. Artinya, lebih dari 50 persen kebutuhan minyak nasional masih harus dipenuhi melalui impor.
Selain faktor kurs, lonjakan harga minyak dunia juga memperbesar tekanan terhadap biaya impor energi.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.600, Prabowo: Yang Pusing Pengusaha!
Hamid menilai kondisi saat ini sudah jauh melampaui asumsi dasar yang digunakan pemerintah dalam APBN 2026.
“Nilai tukar sekarang sudah di atas asumsi APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS. Harga minyak dunia juga sudah sekitar 105 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN yang hanya 70 dolar AS per barel,” katanya.
Ia menegaskan bahwa beban impor energi kini meningkat dua kali lipat, yakni akibat kenaikan harga minyak global dan pelemahan rupiah secara bersamaan.
“Berarti untuk impor, beban energi minyak sudah kena dua kali. Pertama kena dari harga minyak dunia kemudian dari kurs,” ujar Hamid.
Dengan kondisi tersebut, Hamid menilai sangat wajar jika badan usaha, termasuk Pertamina, pada akhirnya kembali menyesuaikan harga BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar.
“Itu otomatis, karena ini kan market. Sejak lima tahun lalu, badan usaha swasta dan Pertamina selalu menyesuaikan harga BBM nonsubsidi dengan harga pasar. Jadi begitu bahan bakunya naik, dia harus menaikkan BBM,” katanya.
Berita Terkait
-
Rupiah Ambruk ke Rp17.500, Pedagang Elektronik Pasar Minggu Ungkap Penjualan Telah Anjlok 50 Persen
-
Rupiah Tembus di Rp17.500, Pedagang Elektronik: Harga Sudah Naik 5 Persen
-
Rupiah Tembus Rp17.528, Harga Laptop dan Ponsel di Mall Ambasador Terancam Melonjak
-
Gegara Pelemahan Rupiah, Harga AC dan TV Langsung Naik
-
Rupiah Cetak Rekor Terlemah, IHSG Ditutup Merah Lagi
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Vonis Nadiem Makarim Jadi Sorotan Media Internasional: Investor Asing Semakin Tak Percaya
-
Tujuh BUMN Logistik Resmi Melebur di bawah PT Multi Terminal Indonesia
-
Dilema B50 vs Ekspor CPO, Kebijakan Ini Bisa Jadi Pedang Bermata Dua?
-
Pemadaman Listrik Hambat Industri Manufaktur di Juni 2026
-
Brantas Abipraya Percepat Penyelesaian Sekolah Rakyat Kabupaten Bogor, Dukung Pemerataan Pendidikan
-
Status Pasar Modal RI Tak 'Digantung' MSCI, OJK Tegaskan Tetap Emerging Market
-
Bukan Karena Pidato Prabowo, OJK Ungkap Penyebab Saham Anjlok
-
Industri Semakin Pesimistis, Permintaan Domestik Melemah
-
Harita Nickel NCKL Tebar Dividen Rp2,7 Triliun
-
Daya Saing Perusahaan Kini Ditentukan Praktik Bisnis Berkelanjutan