- Rupiah tembus Rp17.716 per dolar AS, beban subsidi energi makin berat.
- Stok Pertalite nasional tersisa 16 hari, Solar hanya 16,4 hari.
- Pemerintah pastikan harga BBM subsidi tidak naik hingga akhir 2026.
Suara.com - Pelemahan rupiah yang menembus level Rp17.700 per dolar AS mulai memberi tekanan serius terhadap beban subsidi energi pemerintah. Di tengah lonjakan harga minyak dunia yang sudah berada di atas 100 dolar AS per barel, pemerintah justru memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir 2026.
Situasi ini membuat ruang fiskal kian tertekan. Sebab, impor BBM dan minyak mentah dibayar menggunakan dolar AS, sementara nilai tukar rupiah terus melemah. Di sisi lain, konsumsi BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar masih tinggi.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat stok Pertalite per 18 Mei 2026 berada di level 1,37 juta kiloliter (KL) atau hanya cukup untuk 16 hari. Ketahanan stok Solar bahkan hanya berada di level 16,4 hari dengan volume 1,57 juta KL.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menegaskan pasokan BBM nasional masih dalam kondisi aman meski ketahanan stok beberapa jenis BBM subsidi relatif terbatas.
“Sebagai laporan, stok BBM nasional per tanggal 18 hari kemarin bahwasanya kita sangat aman. Jadi Pertalite pada posisi 16 hari,” ujar Wahyudi dalam RDP bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (19/5/2026).
Sementara itu, stok Pertamax tercatat mencapai 561 ribu KL dengan ketahanan 27,8 hari. Adapun Pertamax Turbo memiliki ketahanan stok hingga 61,7 hari.
Untuk avtur, stok nasional tercatat 385 ribu KL dengan ketahanan 26,6 hari. Sedangkan minyak tanah atau kerosin hanya memiliki ketahanan 11,8 hari.
Di tengah tekanan pasar global, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM subsidi meski rupiah dan harga minyak dunia terus bergejolak.
“Tidak akan naik Insyaallah, ya, doain ya. Tidak akan kita naikkan subsidi BBM,” kata Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta.
Baca Juga: Rupiah Anjlok, Bahlil: Doain BBM Subsidi Tak Naik Harga
Menurutnya, pemerintah sudah menyiapkan skenario mitigasi jika harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) menembus 100 dolar AS per barel sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Namun hingga kini, rata-rata ICP Indonesia masih berada di kisaran 80-81 dolar AS per barel sehingga pemerintah menilai belum ada alasan untuk menaikkan harga BBM subsidi.
Meski demikian, tekanan terhadap APBN diperkirakan akan semakin besar. Pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026), rupiah melemah ke level Rp17.716 per dolar AS. Pada saat yang sama, harga minyak mentah Brent berada di level 109,15 dolar AS per barel dan WTI AS menyentuh 107,28 dolar AS per barel.
Kombinasi kurs rupiah yang melemah dan harga minyak tinggi membuat biaya impor energi melonjak. Artinya, pemerintah harus menggelontorkan subsidi lebih besar agar harga Pertalite dan Solar tetap ditahan di level saat ini.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Ada Risiko Downgrade IHSG Meski Tekanan Isu MSCI Mulai Reda
-
Pertamina Tepat Belum Turunkan Harga Pertamax
-
Semester II-2026 Penuh Tekanan, Investor Saham Diminta Bersiap
-
Sinar Mas Land dan 2 Universitas Terkemuka Perluas Akses Pendidikan Global di BSD City
-
Purbaya Akhirnya Turun Tangan soal Pajak JHT usai Diprotes Buruh
-
Pasar Kripto RI Makin Dilirik, BTSE Indonesia Kini Jadi Pemain Baru
-
Transformasi Industri Rendah Karbon Digenjot demi Target Net Zero Emission 2050
-
Ratusan Santri Antusias Ikuti Beragam Aktivitas di Junior Miners Fun Fest 2026
-
Negara di Eropa Mendadak Jor-joran Belanja Militer, Ada Isu Perang Besar?
-
Manajemen dan Komunitas Gim Digital di Indonesia Mulai Dilirik Investor