Bisnis / Energi
Kamis, 21 Mei 2026 | 09:04 WIB
Selat Hormuz yang berada di antara Iran, Qatar dan Uni Emirat Arab. [Google Maps]
Baca 10 detik
  • Harga minyak mentah dunia kembali meningkat pada 21 Mei 2026 akibat kekhawatiran pasar terhadap kelangkaan pasokan global.
  • Ketidakpastian negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran serius terkait stabilitas pasokan energi dunia.
  • Cadangan minyak Amerika Serikat merosot tajam ke level terendah karena terhambatnya distribusi di jalur strategis Selat Hormuz.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia kembali bergerak naik pada perdagangan Kamis 21 Mei 2026.

Kenaikan ini mengakhiri tren penurunan yang terjadi selama dua hari berturut-turut, dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap kelangkaan pasokan global di tengah ketidakpastian akhir perang Iran, serta semakin menipisnya  cadangan minyak darurat Amerika Serikat (AS).

Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent melonjak 81 sen atau 0,77 persen ke level 105,83 dolar AS per barel pada pukul 00.55 GMT (07.55 WIB). 

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merangkak naik 97 sen atau 0,99 persen menjadi 99,23 dolar AS per barel.

Sebelumnya, pada perdagangan Rabu, kedua harga patokan minyak tersebut sempat anjlok hingga lebih dari 5,6 persen. 

Koreksi tajam itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi damai dengan Iran telah memasuki babak akhir. 

Presiden AS, Donald Trump [The White House]

Kendati demikian, Trump tetap melayangkan ancaman akan melakukan serangan balasan lanjutan jika Teheran menolak poin-poin kesepakatan damai tersebut.

Analis Haitong Futures, Yang An, menilai bahwa jatuhnya harga minyak pada hari Rabu mencerminkan ekspektasi pelaku pasar terhadap potensi terobosan dalam meja diplomasi.

"Namun, jika Trump tetap bersikeras tidak memberikan konsesi apa pun kepada Iran, kesepakatan tampaknya akan sulit tercapai. Hasil akhir dari negosiasi ini bisa berbalik arah dengan sangat drastis," ujar Yang An.

Baca Juga: Harga Minyak Bergejolak Usai Trump Ancam Serang Iran, Stok AS Menipis!

Merespons ancaman AS, Iran justru memperketat cengkeramannya di jalur maritim strategis global. 

Teheran resmi mengumumkan pembentukan badan baru bernama "Persian Gulf Strait Authority" yang akan memberlakukan "zona maritim terkendali" di Selat Hormuz.

Sebagai informasi, Iran telah menutup jalur krusial tersebut sebagai bentuk aksi balasan atas serangan bertubi-tubi dari AS dan Israel yang memicu pecahnya perang pada 28 Februari lalu. 

Meskipun intensitas pertempuran telah mereda sejak gencatan senjata pada bulan April, Iran tetap membatasi ketat lalu lintas kapal di Hormuz, sementara militer AS melakukan blokade di sepanjang garis pantai Iran.

Sebelum perang berkecamuk, Selat Hormuz merupakan jalur penting yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dari total konsumsi dunia.

Terhambatnya pasokan dari kawasan Timur Tengah memaksa banyak negara menguras cadangan minyak komersial dan strategis mereka dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Load More