Bisnis / Makro
Senin, 08 Juni 2026 | 14:52 WIB
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah Indonesia dan Filipina menyepakati sistem barter untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam aktivitas perdagangan internasional. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Indonesia dan Filipina menyepakati sistem barter untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam aktivitas perdagangan internasional.
  • Indonesia akan mengimpor serat abaka dan bijih besi dari Filipina untuk diolah menjadi produk tekstil dan baja jadi.
  • Kebijakan yang difasilitasi PT Trade Barter Indonesia ini bertujuan meningkatkan ekspor nasional di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah.

Suara.com - Pemerintah Indonesia dan Filipina sepakat melakukan barter di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan sistem barter menjadi salah satu alternatif untuk berniaga sembari mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing dalam aktivitas ekspor dan impor.

Dalam kerja sama ini, Indonesia akan mengimpor serat abaka dan bijih besi dari Filipina. Sebagai gantinya, bahan baku tersebut akan dikirim kembali ke Filipina setelah diolah menjadi tekstil dan baja.

Barter dilaksanakan setelah nilai tukar rupiah terus anjlok dan mencapai Rp18.180 per dola AS pada awal pekan ini.

"Ini sistem barter, jadi kita tidak menggunakan mata uang dolar. Karena nanti masing-masing negara mempunyai agen yang memfasilitasi," ujar Budi Santoso di Kemendag, Senin (8/6/2026).

Kerja sama tersebut diawali dengan penandatanganan kesepakatan antara pelaku usaha Indonesia dan Filipina yang difasilitasi Kementerian Perdagangan.

Pada tahap awal, Indonesia akan mengimpor serat abaka, komoditas yang berasal dari tanaman sejenis pisang. Abaka akan digunakan sebagai bahan baku industri tekstil nasional.

Serat abaka tersebut nantinya akan diolah oleh industri tekstil dalam negeri yang tergabung dalam Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI). Setelah diproses menjadi produk tekstil bernilai tambah, hasil produksinya akan diekspor kembali ke Filipina.

Selanjutnya Indonesia akan mendatangkan bijih besi atau iron ore dari Filipina untuk kebutuhan bahan baku industri baja nasional. Selanjutnya, bahan baku tersebut akan diproses oleh industri dalam negeri sebelum dikirim kembali ke Filipina dalam bentuk baja jadi.

Budi mengatakan kerja sama barter tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mendorong peningkatan ekspor nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Baca Juga: Dolar AS Mahal, RI Pakai Skema 'Barter' Dagang dengan Filipina

Selain itu, skema tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pelaku usaha terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang asing dalam transaksi perdagangan internasional.

Dalam kerja sama ini, PT Trade Barter Indonesia (TBI) ditunjuk sebagai agen yang memfasilitasi pertemuan antara eksportir dan importir dari kedua negara.

Perwakilan PT TBI menjelaskan barter tidak harus dilakukan dalam satu rantai industri yang sama. Melalui sistem tersebut, suatu negara dapat menukar komoditas yang dimiliki dengan produk lain yang dibutuhkan melalui mekanisme pencocokan perdagangan yang dilakukan agen.

Karena itu, peluang perdagangan yang dapat dilakukan melalui barter dinilai jauh lebih luas dibandingkan hanya pertukaran bahan baku tekstil dan baja.

Budi mengungkapkan Indonesia sebelumnya juga telah menjalankan skema barter dengan Mesir. Saat itu Indonesia mengimpor kurma dari Mesir dan mengekspor kopi sebagai barang penggantinya.

"Iya. Jadi barter bisa untuk semua komoditas. Ini pernah dilakukan juga dengan Mesir. Waktu itu kita impor kurma, kita ekspor kopi," kata Budi.

Ia menambahkan saat ini terdapat sembilan negara yang telah menjalin kerja sama barter dengan Indonesia melalui fasilitasi PT TBI. Beberapa di antaranya yakni Filipina, Mesir, Ghana, Jepang, China dan sejumlah negara di kawasan Eropa.

Ke depan, pemerintah akan terus memperluas penjajakan kerja sama barter untuk berbagai komoditas lainnya melalui kegiatan business matching antarpelaku usaha.

"Jadi ini salah satu solusi, sebenarnya, ya. Bagaimana pertama kita meningkatkan ekspor kita, dan bagaimana kita dengan barter ini kan tidak tergantung mata uang asing. Ya saya pikir itu tidak membebani ekspor dan impor, ya, tidak membebani eksportir dan importir," pungkasnya.

Load More