- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia anjlok sebesar 2,87% pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026.
- Pelemahan indeks dipicu oleh aksi lepas saham perbankan besar serta depresiasi Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.
- Tekanan jual investor global menyebabkan mayoritas saham di bursa domestik mengalami koreksi harga secara masif hari ini.
Suara.com - Pasar modal Indonesia mengalami tekanan hebat pada perdagangan awal pekan, Senin (8/6/2026). Saham-saham perbankan berkapitalisasi pasar raksasa (big banks) atau kategori KBMI IV kembali berguguran secara masif, yang secara langsung menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ke zona merah dengan koreksi yang sangat dalam.
Sejak bel pembukaan perdagangan pagi, IHSG terpantau langsung anjlok sebanyak 214 poin atau sekitar 3,75% ke level 5.390. Penurunan tajam di awal paruh waktu ini dilaporkan melampaui rata-rata pelemahan yang terjadi di mayoritas bursa saham kawasan Asia.
Tekanan jual yang belum mereda sepanjang perdagangan membuat IHSG sempat menyentuh titik terendahnya di level 5.346,33 atau merosot hingga 245 poin (4,36%) dari basis penutupan sebelumnya.
Pada penutupan perdagangan sesi I siang ini, IHSG akhirnya sedikit memangkas jarak pelemahan dan bertengger di level 5.434,30, atau terkoreksi sebesar 160,46 poin (2,87%). Indeks LQ45 juga ikut turun sebesar 2,77% ke posisi 542,32.
Merosotnya kepercayaan pasar di lantai bursa ini sejalan dengan volatilitas tinggi yang melanda nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).
Mata uang Garuda dilaporkan melemah tipis hingga melampaui level psikologis baru dengan menyentuh kisaran Rp18.121 hingga Rp18.169 per Dolar AS.
Secara akumulatif, kejatuhan nilai tukar Rupiah terpantau telah ambles lebih dari 10% jika dihitung sejak awal tahun (year to date/ytd). Tekanan ini kian diperberat oleh pergerakan komoditas energi global, di mana harga minyak mentah jenis Brent bertengger di level US$97,07 per barel.
Sektor Perbankan KBMI IV Jadi Pemberat Indeks
Sektor perbankan raksasa yang biasanya menjadi motor penggerak indeks justru menjadi lagging movers utama akibat aksi lepas saham oleh investor global:
Baca Juga: Analis: Isu Pergantian Gubernur BI Picu Kekhawatiran Investor Global, Risikonya Besar
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Mengalami penurunan signifikan hingga sempat menyentuh Rp4.900 per lembar, sebelum ditutup di level Rp4.960 atau melemah 2,27% pada sesi I dengan nilai transaksi mencapai Rp2,02 triliun.
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Sempat ambles hingga 4,01% ke level Rp2.630, dan berakhir di posisi Rp2.660 atau minus 2,92% di sesi I dengan total perputaran modal sebesar Rp1,06 triliun.
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Terkoreksi ke harga Rp3.750, sebelum parkir di level Rp3.820 per lembar saham atau turun tipis 0,52%.
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): Mengalami pelemahan sebesar Rp130 atau drop 4,05% dan tertahan di posisi Rp3.080.
Selain sektor perbankan, saham telekomunikasi pelat merah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga menjadi penekan utama pergerakan indeks setelah harganya longsor sebesar 11,96% ke level Rp2,430.
Data perdagangan BEI mencatat total nilai transaksi pada paruh pertama hari ini mencapai Rp12,92 triliun, di mana porsi pasar reguler menyumbang sebesar Rp12,53 triliun dan pasar negosiasi sebesar Rp388,15 miliar. Adapun volume saham yang berpindah tangan mencapai 20,24 miliar lembar saham.
Kondisi pasar secara umum menunjukkan dominasi tren bearish yang kuat, di mana sebanyak 973 saham harganya rontok, 192 saham bergerak stagnan, dan hanya 132 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan harga.
Di tengah kejatuhan pasar, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tampil anomali menjadi motor penggerak utama (leading mover).
Saham TPIA meroket hingga 21,07% (naik Rp275) ke level Rp1.580 per lembar saham dan diperdagangkan aktif sebanyak 139.867 kali dengan nilai transaksi mencapai Rp1,7 triliun.
Beberapa emiten lain yang masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah STAR (+22,76%), OBAT (+22,28%), GRIA (+21,21%), serta CTBN yang naik Rp1.225 menjadi Rp7,450. Sebaliknya, posisi top losers dipimpin oleh saham ritel kesehatan SRAJ yang anjlok 15,00% ke level Rp10.200, disusul oleh ANJT (-14,95%) dan SUPA (-14,89%).
Disclaimer: Artikel berita ini disusun berdasarkan rangkuman data real-time perdagangan Bursa Efek Indonesia sesi I tanggal 8 Juni 2026. Berita ini bersifat informatif seputar situasi pasar modal dan tidak dimaksudkan sebagai saran, instruksi, atau rekomendasi untuk melakukan transaksi jual-beli instrumen keuangan tertentu.
Berita Terkait
-
Asing Lepas Saham Perbankan Triliunan Rupiah Hingga Sesi I, BBCA Paling Banyak
-
Rupiah Jebol Rp18.110 dan IHSG Ambles 3%, Pasar Tak Percaya Jurus Baru Perry dan Purbaya?
-
IHSG Anjlok Parah Saat Rupiah Melemah Rp18.126, Analis Sebut Bisa Lebih Parah
-
Cadangan Devisa Indonesia Susut Rp23 Triliun Dalam Sebulan, Tapi Rupiah Kian Melemah
-
Rupiah Tak Kunjung Kuat, Kinerja Perry dan Purbaya Jadi Sorotan
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- 5 Bedak Padat Mengandung SPF, Praktis untuk Touch Up Sekaligus Lindungi Kulit dari Matahari
- Mathew Baker Masih Dianggap Milik Australia meski Dipanggil Timnas Indonesia Senior
- Sinyal Penggulingan '98 Jilid 2' Menguat, Cuma PDIP dan Habib Rizieq yang Bisa Selamatkan Prabowo?
Pilihan
-
Kecelakaan di Tol Pekanbaru-Dumai, 3 Penumpang Ambulans Tewas Seketika
-
Perang Baru! Iran Hujani Israel dengan Rudal
-
Rupiah Tak Kunjung Kuat, Kinerja Perry dan Purbaya Jadi Sorotan
-
Investor Terus Timbun Dolar, Rupiah Keok ke Rp18.126
-
Purbaya Tegaskan Masih Jabat Menkeu dan Tidak Ada Pembahasan Reshuffle, Ini Buktinya
Terkini
-
Asing Lepas Saham Perbankan Triliunan Rupiah Hingga Sesi I, BBCA Paling Banyak
-
Purbaya Pamer Setoran Pajak Sektor Industri Tumbuh Tinggi, Perdagangan Naik 52,4%
-
Tak Jadi di Minerba, Bahlil Bilang Skema Bagi Hasil Hanya Sektor Migas
-
Meski Bisa Tentukan Harga Ekspor, DSI Diklaim Tak Akan Ambil Untung Berlebihan
-
Rupiah Jebol Rp18.110 dan IHSG Ambles 3%, Pasar Tak Percaya Jurus Baru Perry dan Purbaya?
-
IHSG Anjlok Parah Saat Rupiah Melemah Rp18.126, Analis Sebut Bisa Lebih Parah
-
Cadangan Devisa Indonesia Susut Rp23 Triliun Dalam Sebulan, Tapi Rupiah Kian Melemah
-
Harga Cabai Meledak hingga 20%, Telur Ikut Naik, Dompet Emak-Emak Terancam!
-
Rupiah Tak Kunjung Kuat, Kinerja Perry dan Purbaya Jadi Sorotan
-
Investor Terus Timbun Dolar, Rupiah Keok ke Rp18.126