- Menteri Perdagangan Budi Santoso akan menjajaki skema barter komoditas dengan pengusaha Filipina pada 12 Juni 2026 mendatang.
- Langkah tersebut diambil untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam kegiatan perdagangan antar kedua negara tersebut.
- Pemerintah tengah menyinkronkan pembeli dari Indonesia dan Filipina untuk menandatangani kontrak kerja sama pada pertemuan di Jakarta.
Suara.com - Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mulai mencari skema lain untuk melakukan perdagangan dengan negara lain. Salah satunya, menggunakan skema barter dalam perdangan dengan Filipina.
Ia menerangkan, langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan dolar AS.
Mendag memastikan, kerja sama dagang dengan Filipina ini akan berlangsung pada 12 Juni mendatang.
"Kita juga ada alternatif misalnya pakai barter. Ya nanti tanggal 12 (juni) ya, tanggal 12 kita ketemu dengan pengusaha Filipina," ujar Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, (4/6/2026).
Rencana kerja sama dagang ini, bilang Mendag, setelah adanya pertemuan tingkat ASEAN beberapa waktu lalu.
"Jadi waktu kemarin waktu acara ASEAN kami ketemu salah satu pengusaha dari Filipina, dia impor barang kita selama ini dan ini untuk, karena di Filipina kan juga nilai tukarnya juga lagi kurang bagus," imbuh dia.
Mendag juga akan mencari pembeli-pembeli baik di dalam negeri, maupun Filipina untuk membeli komoditas unggul masing-masing.
"Jadi bagaimana kalau kita pakai cara barter. Nah ini sudah kita carikan buyernya, setelah itu udah ketemu, nanti tanggal 12 Juni kita akan tanda tangan kontrak dengan buyer ya," ucapnya.
Sebelumnya, Mendag memandang, pelemahan rupiah ini justru menjadi peluan cuan bagi ekspor. Apalagi saat ini, nilai ekspor Indonesia mengalami kenaikan pada bulan April 2026 ini.
Baca Juga: Mendag 'Senang' Rupiah Melemah, Bisa Cuan dari Ekspor
Sehingga, dengan rupiah yang semakin tinggi dan transaksi ekspor menggunakan dolar AS, maka imbal devisanya bisa lebih besar.
"Kalau sekarang ini sebenarnya kesempatan ekspor kita makin bagus, kita kan surplus (ekspor naik) 5,48 persen, kita naik 5,48 persen yang dibanding tahun lalu," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
- 3 HP Murah Samsung Terlaris Global Q1 2026: Mulai Sejutaan, Kamera Sudah OIS
- Ironi Letjen Lodewyk Pusung: 32 Tahun Setia di Militer, Tumbang dalam 1,5 Tahun Urus Gizi Nasional
Pilihan
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
Terkini
-
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Nasional Lewat Inovasi Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
-
Kabar Pasar Saham Indonesia Turun ke Frontier Market MSCI, BEI Buka Suara
-
Tak Sekadar untuk Ibadah, Masjid 3 Lantai Fakultas Teknik UGM Jadi Tempat Favorit Mahasiswa Nugas
-
Prodi Kebidanan dan Manajemen Paling Banyak Ditutup Tahun 2026, Efek Sepi Peminat?
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Mendag 'Senang' Rupiah Melemah, Bisa Cuan dari Ekspor
-
Rupiah Semakin Tak Berharga, SBY Beberkan Ciri Pemimpin yang Kuat
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Rupiah Rp18.000 per Dolar: Apakah Indonesia Sedang Mengulang Krisis 1998?
-
Waspada Gejolak Ekonomi, BI Siapkan Amunisi Cadangan Devisa USD 146 Miliar