Bisnis / Ekopol
Kamis, 11 Juni 2026 | 16:32 WIB
Donald Trump (Instagram/@realdonaldtrump)
Baca 10 detik
  • Iran menutup total Selat Hormuz setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke wilayah mereka pada Kamis.
  • Harga minyak dunia melonjak signifikan karena terganggunya distribusi energi di jalur laut vital bagi pasokan global tersebut.
  • Cadangan minyak Amerika Serikat menyusut tajam akibat konflik bersenjata dan minimnya produksi minyak dari negara anggota OPEC.

Aksi blokade jalur maritim oleh militer Iran yang telah berlangsung selama beberapa bulan ini secara otomatis menahan harga minyak tetap berada di level tertinggi. Pasalnya, Selat Hormuz merupakan jalur urat nadi utama yang melayani seperlima dari total volume pengiriman minyak dan gas global di seluruh dunia.

Dari sisi suplai, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah domestik AS menyusut tajam hingga 7,2 million barel menjadi tinggal 426,5 million barel untuk pekan yang berakhir pada 5 Juni.

Penurunan riil ini jauh lebih masif ketimbang ekspektasi para analis dalam jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan penyusutan sebesar 4 million barel.

Secara akumulatif, cadangan minyak mentah AS, termasuk yang tersimpan di dalam Cadangan Minyak Strategis (SPR), telah merosot hingga 79 million barel sejak konflik bersenjata dengan Iran pecah pada 28 Februari lalu.

Sebagai produsen minyak terbesar di dunia, AS terpaksa menguras cadangannya guna menutupi kekosongan pasokan global setelah Selat Hormuz praktis tidak dapat beroperasi.

Mempertegas ketatnya pasokan di pasar, hasil survei terbaru dari Reuters menunjukkan bahwa total volume produksi minyak dari negara-negara anggota OPEC pada bulan Mei telah merosot ke level terendah dalam lebih dari dua dekade terakhir.

Load More